Malanginspirasi.com – Cuaca panas ekstrem diprediksi menjadi salah satu tantangan terbesar bagi penyelenggaraan Piala Dunia FIFA 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Para ilmuwan iklim memperingatkan bahwa perubahan iklim telah meningkatkan risiko suhu berbahaya. Apalagi seperempat pertandingan berpotensi digelar dalam kondisi yang mengancam kesehatan pemain, penonton, serta staf.
Menurut analisis World Weather Attribution (WWA) yang dirilis baru-baru ini, sekitar 25 persen pertandingan berisiko berlangsung dengan Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) di atas 26 derajat Celsius, ambang batas yang dianggap berbahaya. Bahkan lima pertandingan berpotensi mencapai atau melampaui 28 derajat Celsius WBGT, level di mana Federasi Pemain Sepak Bola Internasional (FIFPro) merekomendasikan penundaan pertandingan.
Kota-kota tuan rumah di Amerika Serikat seperti Miami, Dallas, Houston, Atlanta, dan Kansas City menjadi sorotan utama. Suhu siang hari di wilayah selatan AS kerap mencapai 35-40 derajat Celsius, ditambah kelembapan tinggi yang membuat sensasi panas semakin menyengat.
Di beberapa lokasi, WBGT bahkan bisa mencapai lebih dari 32 derajat Celsius pada sore hari. Kondisi ini sangat berisiko menyebabkan heat stress, kelelahan panas, hingga heat stroke.
Risiko ini jauh lebih tinggi dibandingkan saat AS menjadi tuan rumah Piala Dunia 1994. Perubahan iklim membuat cuaca panas ekstrem hampir dua kali lebih mungkin terjadi.
Juli, bulan puncak turnamen, justru merupakan bulan terpanas sepanjang tahun di sebagian besar wilayah kontinental AS. Prakiraan musim panas 2026 dari AccuWeather dan Old Farmer’s Almanac juga memprediksi suhu di atas rata-rata di hampir seluruh Amerika Serikat.
Baca Juga:
Lisa BLACKPINK Bakal Ramaikan Upacara Pembukaan Piala Dunia FIFA 2026
Bertabur Bintang! Final Piala Dunia 2026 Bakal Hadirkan BTS, Shakira dan Madonna
Penyesuaian Waktu Pertandingan
FIFA dan penyelenggara telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi. Beberapa pertandingan di lokasi berisiko tinggi dijadwalkan pada sore atau malam hari untuk menghindari puncak panas. Protokol jeda pendinginan (cooling breaks) akan diterapkan. Adapun stadion beratap seperti di Dallas, Houston, dan Atlanta akan dimanfaatkan lebih optimal untuk pertandingan siang.
Namun, risiko tetap tinggi di luar stadion, terutama bagi penonton yang harus berjalan kaki atau menunggu antrean di bawah terik matahari.
Para ahli juga menyoroti potensi cuaca ekstrem lainnya, seperti badai petir dan kualitas udara buruk akibat kebakaran hutan. Di MetLife Stadium, New Jersey yang merupakan lokasi final pada 19 Juli, suhu panas ekstrem juga berpotensi terjadi.
Meski demikian, FIFA menegaskan komitmennya untuk menjamin keselamatan semua pihak. Gianni Infantino menyatakan turnamen ini akan menjadi yang paling inklusif, dengan penyesuaian jadwal dan fasilitas pendingin.
Akan tetapi para ilmuwan dan serikat pemain mendesak agar protokol kesehatan diterapkan secara ketat, termasuk pemantauan WBGT secara real-time.







