Head to Head Piala Dunia 1994 vs 2026: Nostalgia, Komersialisasi, dan Isu Imigrasi

Malanginspirasi.com – Ketika Amerika Serikat menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA 1994, turnamen itu datang seperti angin segar bagi sepak bola di negeri yang lebih mengidolakan body charge ala American Football, basket dan monster truck.

Berlangsung dari 17 Juni hingga 17 Juli 1994 di sembilan stadion di seluruh AS, event tersebut menjadi tonggak sejarah. Piala Dunia pertama di negara berbahasa Inggris di luar Inggris, dan sukses secara spektakuler mempopulerkan olahraga ini di kalangan publik Amerika.

Tiga puluh dua tahun kemudian, pada Juni-Juli 2026, Amerika Utara kembali menjadi tuan rumah. Kali ini dengan skala yang jauh lebih besar. Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat (dengan dominasi AS) akan menggelar Piala Dunia pertama yang melibatkan tiga negara, dengan 48 tim dan 104 pertandingan.

Perbandingan keduanya bukan sekadar soal waktu. Melainkan transformasi dari turnamen yang negara pesertanya harus berjuang habis-habisan untuk lolos, menjadi hiruk pikuk festival global raksasa yang dibalut kapitalisme brutal.

Dari 24 Jadi 48 Tim

Pada 1994, hanya 24 tim yang berpartisipasi, menandai edisi terakhir dengan format tersebut sebelum ekspansi ke 32 tim di edisi berikutnya (1998, Perancis). Tim-tim itu dibagi dalam enam grup, dengan sistem gugur yang relatif sederhana.

Brazil keluar sebagai juara setelah mengalahkan Italia lewat adu penalti di Rose Bowl, Pasadena.

Adapun di 2026, 48 tim akan bertarung. Jumlahnya naik dua kali lipat dibanding 1994. Format baru membagi seluruh tim ke dalam 12 grup yang masing-masing berisi empat tim. Dua tim teratas dari setiap grup plus delapan tim peringkat ketiga terbaik akan melaju ke babak 32 besar, menambah satu ronde knockout ekstra. Ini berarti untuk menjadi kampiun, harus memenangi lebih banyak pertandingan untuk mengangkat trofi.

Perluasan jumlah peserta ini juga membuka pintu lebih lebar bagi negara-negara dari berbagai konfederasi, termasuk peluang lebih besar bagi tim Asia, Afrika, dan CONCACAF.

Akan tetapi, kritik pun bermunculan. Terutama yang berkaitan dengan kualitas kompetisi. Negara imut seperti Curaçao yang penduduknya hanya sekitar 150 ribu, bisa melenggang ke Piala Dunia setelah menjuarai Grup B Kualifikasi Zona CONCACAF yang berisikan tim-tim tanpa tradisi bola.

Timnas Curaçao. (curacao.com)

Sementara 3 negara dengan penduduk bak peternakan kelinci, China, India dan Indonesia, harus puas menonton turnamen terbesar sejagad raya ini dari kejauhan.

Jumlah Pertandingan 52 vs 104

Dari segi jadwal, 1994 menghadirkan 52 pertandingan di sembilan venue. Rata-rata kehadiran penonton mencapai rekor 68.991 orang per laga, dengan total penonton 3,58 juta. Sebuah angka yang sulit ditandingi saat itu.

Pada 2026, jumlah pertandingan membengkak menjadi 104. Persis naik dua kali lipat!

Turnamen ini akan berlangsung selama 39 hari di 16 kota tuan rumah: 11 di AS, 3 di Meksiko, dan 2 di Kanada. Final digelar di MetLife Stadium, New York/New Jersey.

Stadion canggih Metlife Stadium di New Jersey, menjadi venue partai final Piala Dunia FIFA 2026. (Wiki)

Target penonton total melebihi 5 juta, meski dengan tantangan logistik lintas batas dan harga tiket yang jauh lebih mahal.

Satu Negara vs Tiga Negara

1994 murni digelar di dalam negeri AS, dengan stadion-stadion ikonik seperti Rose Bowl (final), Soldier Field (pembuka), dan Pontiac Silverdome (pertama kali indoor). Kapasitas rata-rata tinggi, mencapai puluhan ribu kursi.

Rose Bowl Stadium di Pasadena, California, venue final Piala Dunia 1994 yang menjadi saksi laga klasik Brasil vs Italia. (Mercury News)

2026 menjadi pesta bersama. AS mendominasi dengan stadion-stadion modern berteknologi tinggi, sementara Meksiko dan Kanada menjadi host penggembira.

Mengingat luasnya daratan Amerika Utara, perjalanan antar-kota dan antar-negara akan menjadi tantangan besar bagi tim, suporter, serta keamanan. Apalagi ditambah dengan masalah-masalah imigrasi dan potensi gangguan di perbatasan.

Isu imigrasi ini menjadi persoalan pelik. Kebijakan Pemerintahan Donald Trump yang sangat ketat terkait lalu lintas manusia yang boleh masuk ke AS, berimbas pada pemberian visa bagi fans bola, screening berlebihan terhadap seluruh ofisial dan tim, sampai pengusiran wasit yang jelas-jelas sudah mengantongi visa dan bertugas atas penunjukkan FIFA.

Baca Juga:

AS Deportasi Wasit FIFA Omar Abdulkadir Artan Asal Somalia

Staf Pendukung Skuad Iran Protes Tak Dapatkan Visa Masuk AS Jelang Piala Dunia FIFA 2026

Harga Tiket Ga Ngotak

1994 menghasilkan pendapatan bersih sekitar US$700 juta (dengan anggaran US$550 juta), yang turut mendorong lahirnya Major League Soccer (MLS). Kala itu, harga tiket relatif terjangkau. Di fase grup dibanderol US$25–US$, hingga US$180–US$475 untuk final.

Sementara itu, 2026 jauh lebih gila. Bahkan terkesan menjauhkan sepak bola sebagai hiburan masyarakat umum menjadi olahraga elit.

FIFA menargetkan pendapatan hingga US$15 miliar untuk editi tahun ini. Konsekuensinya, harga tiket meroket. Mulai dari US$140 hingga ribuan dolar untuk babak penyisihan.

Lalu, partai puncak pun menjadi klimaks kegilaan. FIFA menerapkan dynamic pricing dengan harga tiket bisa mencapai US$10.000-an atau lebih dari Rp181 juta untuk satu kursi. Astaga!

Tak heran jika fenomena ini sampai-sampai membuat Anggota Kongres AS berang. Mereka dikabarkan memanggil Presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk meminta kejelasan soal harga tiket yang ga ngotak.

Baca Juga:

Anggota Kongres AS Minta Penjelasan Presiden FIFA Soal Skandal Harga Tiket Piala Dunia 2026

Jaksa Agung AS Selidiki FIFA Terkait Harga Tiket yang Gila-Gilaan

Meski demikian, hadiah uang juga membengkak. Dari US$71 juta total di 1994 menjadi ratusan juta dolar tahun ini.

Nostalgia vs Carut Marut

1994 dikenang sebagai turnamen yang “membuat sejarah” di Amerika. Penonton antusias, cuaca musim panas yang cerah, dan momen-momen tak terlupakan seperti penalti Roberto Baggio yang meleset sehingga membuat Italia kalah adu penalti melawan Brasil di partai final.

Ada juga sisi gelapnya, seperti tragedi Andrés Escobar yang ditembak geng karena gol bunuh diri.

Detik-detik Andrés Escobar menceploskan bola ke gawang sendiri saat Kolombia bertemu AS yang berakhir 2-1 untuk tuan rumah. Gol itu pula yang membuat nyawanya melayang. (X)

2026 memang menjanjikan skala raksasa, tapi juga risiko. Harga tiket yang mahal berpotensi membatasi akses suporter lokal, isu keamanan lintas negara, dan beban lingkungan dari perjalanan massal.

Di sisi lain, turnamen empat tahunan ini bisa memperkuat ikatan sepak bola di Amerika Utara, mendorong investasi infrastruktur, dan memperluas pengaruh global FIFA.

Dari segi angka, perbandingan ini seperti evolusi dari acara keluarga yang hanya dihadiri kerabat-kerabat terdekat, menjadi kondangan di tengah jalan yang restriksi untuk tamu undangannya sangat longgar.

Keinginan FIFA untuk pemerataan negara peserta patut diapresiasi. Namun menambah jumlah peserta secara serampangan, bahkan ada usulan di edisi Piala Dunia mendatang (2030) akan diperluas menjadi 64 tim untuk memperingati 100 tahun penyelenggaraannya, bisa menurunkan marwah Piala Dunia itu sendiri.

Piala Dunia tetaplah Piala Dunia. Ajang terakbar sepak bola yang setiap pesertanya (pengecualian tuan rumah) harus melalui kualifikasi ketat di zona wilayah masing-masing. Namun karena mengejar kuantitas, maka bisa saja terjadi skor-skor aneh seperti 10-0, 15-0, akibat njomplangnya kualitas tim-tim yang bertanding.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *