Guru Besar UB, Prof Ali Mashuri Kembangkan Model ANDAL untuk Memperkuat Perdamaian di Tengah Kemajemukan

Malanginspirasi.com – Salah satu guru besar Universitas Brawijaya (UB) yang akan dikukuhkan pada Minggu 8 November mendatang, Prof. Ali Mashuri, S.Psi., M.Sc., Ph.D., mengembangkan model psikososial bernama ANDAL, singkatan dari Arsitektur Nalar Damai Identifikasi Nasional.

Model ini menjelaskan bagaimana rasa memiliki dan kecintaan terhadap Indonesia dapat dibangun agar keberagaman menjadi perekat, bukan sekat.

Dalam pemaparannya, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UB ini menyebut ANDAL mengintegrasikan identitas sosial yang konstruktif dengan pemahaman terhadap ciri dan simbol kebangsaan, seperti Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan bahasa Indonesia.

Empat guru besar UB yang akan dikukuhkan pada Minggu 8 November yakni Profesor Nur Chanifah, Prof Abdul Ghofar, Prof Ali Mashuri dan Prof Aan Eko Widiarto (Tri Sukma)

Model tersebut diharapkan membantu memperkuat hubungan positif antarkelompok.

Pengembangan ANDAL, menurut rilis, mencakup pengujian model dan konsensus makna identitas di berbagai kelompok masyarakat.

Baca Juga:

Guru Besar UB Prof. Nur Chanifah Usung Model Literasi Hybrid untuk Pendidikan Hukum Islam di Era AI

Ini penting agar konsep tersebut tidak bias terhadap kelompok tertentu, baik berdasarkan agama, etnis, budaya, mayoritas-minoritas, maupun latar tempat tinggal.

Lebih lanjut, pria yang meraih gelar S1 di Universitas Gadjah Mada ini mengatakan alat ukur ANDAL perlu diuji validitas dan reliabilitasnya.

Ia menyoroti pentingnya memastikan bahwa instrumen tersebut dipahami secara setara oleh kelompok-kelompok dengan identitas sosial berbeda.

“Ini PR saya ke depan untuk mengonstruksi alat ukur baru ini agar ANDAL mendapat konsensus bagi masyarakat berbasis kelompok yang mereka miliki,” ujar dosen yang meraih gelar Master dan Doktor di Free University of Amsterdam ini.

Ali juga memproyeksikan ANDAL memiliki dampak evaluatif, yakni dapat digunakan untuk mengkaji bagaimana model tersebut memengaruhi cara masyarakat menyikapi berbagai isu.

Pengembangannya, menurut rilis, akan melibatkan kolaborasi akademisi, masyarakat, lembaga riset, dan pemerintah, termasuk untuk menyusun rekomendasi kebijakan yang lebih inklusif.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *