Malanginspirasi.com – Universitas Brawijaya (UB) akan mengukuhkan empat profesor dari bidang pertanian, teknik, dan ekonomi sistem pangan pada Sabtu (7/11/2026), di Gedung Samantha Krida.
Keempat akademisi tersebut membawa riset yang berfokus pada pertanian berkelanjutan, pemuliaan tanaman, produksi hidrogen, serta ketahanan sistem pangan.
Salah satu riset datang dari Prof. Luqman Qurata Aini, profesor bidang bakteriologi di Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan.
Ia mengembangkan konsorsium bakteri lokal melalui konsep COMUSTO-PGPB untuk mendukung pertumbuhan tanaman sekaligus membantu tanaman bertahan dalam berbagai kondisi lingkungan.
Dari UB Forest, Malang, timnya memperoleh tujuh isolat bakteri yang berpotensi menghasilkan hormon pertumbuhan, melarutkan fosfat, mengikat nitrogen, dan menghambat bakteri penyebab penyakit tanaman.
Dalam pengujian pada selada hidroponik, isolat UB-53 dan UB-54 menunjukkan hasil menonjol.
Pengembangan ini masih memerlukan pengujian keamanan hayati dan validasi di berbagai lokasi.
Baca Juga:
Guru Besar UB Prof. Nur Chanifah Usung Model Literasi Hybrid untuk Pendidikan Hukum Islam di Era AI
Sementara itu, di bidang pemuliaan tanaman, Prof. Afifuddin Latif Adiredjo memperkenalkan model SIGAP yang mengintegrasikan seleksi agro-morfo-fisiologis, introgesi gen, genostabilitas multifaset, autentikasi molekuler, dan penargetan lingkungan.
Model tersebut dirancang untuk meningkatkan akurasi seleksi serta mempercepat siklus pemuliaan dan penyaluran varietas kepada petani.
Penerapannya pada melon menghasilkan tiga varietas hibrida, Mekka 04, UB M11, dan UB M12, yang telah memperoleh hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT).
Sedangkan Prof. Dr. Ir. Purnami, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., meneliti produksi hidrogen melalui elektrolisis dengan pendekatan Adaptive Multiphysics Intelligence (AMI).
Pendekatan ini menggabungkan medan magnet, fenomena fisik-mekanik, material fungsional, dan kecerdasan buatan untuk mengoptimalkan proses.
Dalam salah satu konfigurasi eksperimen, produksi hidrogen tercatat 23,1 mililiter dengan medan magnet dinamis, dibandingkan 12,1 mililiter dengan medan magnet statis.
Hasil tersebut menunjukkan potensi pengaruh medan magnet dalam kondisi pengujian itu, tetapi belum dapat langsung disimpulkan sebagai peningkatan efisiensi energi.
Profesor keempat, Prof. Hery Toiba, mengembangkan Model Sistem Pangan Adaptif (SiMPaTI).
Model ini menempatkan ketangguhan pangan pada keputusan sehari-hari petani, nelayan, petambak, peternak, dan keluarga, bukan hanya pada kebijakan dari atas. SiMPaTI bertumpu pada tiga konsep: ketangguhan, kapasitas adaptif, dan agensi.
Gagasan ini ditujukan untuk membantu rumah tangga dan sistem pangan menghadapi guncangan, termasuk perubahan iklim dan gejolak harga, dengan tetap memperhatikan gizi serta kesejahteraan masyarakat.







