Ziel Kids Club Malang: Ketika Ibu Tiga Anak Ubah Keresahan Parenting Jadi Gerakan Tumbuh Kembang Anak

Malanginspirasi.com — Founder Ziel Kids Club Malang, Ayu Najiba menceritakan bagaimana ia mengembangkan wadah tumbuh kembang anak dengan pendekatan parenting hangat dan mindful.

Tujuh tahun lalu praktisi tumbuh kembang anak ini memecahkan satu masalah sederhana yakni bagaimana orang tua bisa memberikan fasilitas terbaik bagi anaknya tanpa harus membeli melalui Ziel Rental.

“Ide ini lahir dari pengalaman pribadi dimana saya pernah membeli perlengkapan bayi berkualitas, lalu terpaksa menjualnya rugi saat pindah rumah,” paparnya kepada wartawan Malang Inspirasi.

Ia katakan bahwa sejak itu ia melihat sesuatu yang lebih besar yakni bahwa menyewa bukan pilihan kelas dua.

“Ini adalah solusi cerdas yang belum ada yang menjalankannya dengan serius dan dari sinilah berdiri Ziel Rental, usaha sewa perlengkapan anak yang dari awal dibangun di atas standar kebersihan ketat,” lanjutnya.

Bukan tanpa alasan, kata Ayu, karena ia dan ketiga anaknya memiliki kulit sensitif.

Menurutnya, sterilitas bukan sekadar nilai jual, melainkan prinsip yang ia pegang sungguh-sungguh.

“Walaupun hanya menyewa, orang tua tetap berhak mendapatkan yang terbaik untuk anaknya,” kata pemilik Ziel Kids Club yang terletak di Karanglo Indah, Malang ini.

Ayu Najiba saat bersama para anak dan orang tua di Ziel Kids Club (Ayu Najiba)

Keinginan Orang Tua Untuk Tumbuh Kembang Anak yang Bahagia

Semakin lama menjalankan Ziel Rental, Ayu menyadari bahwa ia tidak hanya bertemu pelanggan tapi ia bertemu perjuangan.

Ada orang tua yang lelah, yang cemas, yang hanya ingin anaknya tumbuh baik dan bahagia.

“Ziel pun perlahan berkembang melampaui perlengkapan bayi: mainan edukasi, alat stimulasi, alat olahraga, hingga berbagai kebutuhan yang mendukung proses tumbuh kembang anak,” katanya dalam mengenang perjalanannya.

Namun titik balik terbesar justru datang dari dalam rumahnya sendiri.

Ia menyaksikan dua anak saya menekuni dunia panjat tebing sejak kecil membuka matanya pada sesuatu yang tak saya temukan di buku teks mana pun.

“Bahwa movement, keberanian, dan rasa aman ternyata sangat menentukan cara seorang anak belajar dan bertumbuh,” jelas Ayu.

Dari pengalaman itulah, ditambah pendalaman intensif tentang Montessori, sensory integration, dan pendidikan inklusi, Ayu semakin yakin bahwa fondasi perkembangan anak perlu dibangun jauh sebelum akademik dimulai.

Di sini, katanya, anak tidak langsung dituntut duduk tenang dan belajar.

Baca Juga:

Let’s Grow Montessori School Hadirkan Family Gathering 2026 Bertema “Kembali Pulang”

“Mereka memanjat, berjalan di jalur sensorik, melewati rintangan, menuang, dan menjelajahi berbagai tekstur. Aktivitas yang tampak seperti bermain, namun sesungguhnya sedang membangun sistem saraf, koordinasi tubuh, regulasi emosi, dan kesiapan belajar secara bersamaan,” ujar Ayu.

“Sering kali masalah anak bukan tidak mau belajar, tetapi tubuh dan emosinya belum benar-benar siap,” lanjutnya.

Pendekatan ini ia terapkan pula dalam cara ia berkomunikasi dengan orang tua termasuk mereka yang belum siap menerima bahwa anaknya memiliki kebutuhan belajar yang berbeda.

Ayu yang pernah merasakan sendiri fase denial saat dua anaknya sempat dikatakan stunting, memilih untuk tidak memberi label yang berat sejak awal.

“Saya tidak ingin membuat orang tua takut. Saya ingin membantu mereka memahami kebutuhan anak dengan hati yang lebih tenang,” katanya.

Ekosistem yang Terus Tumbuh

Di masa mendatang, Ayu merancang Ziel sebagai ekosistem yang lebih utuh: child development center, playgroup, kelas sensorik dan gerak, edukasi parenting, hingga sekolah alam dengan pendekatan Montessori autentik yang menjauhi tekanan akademik dini.

Ayu juga aktif berbagi di media sosial bukan dengan teori yang terasa jauh, melainkan dengan pengamatan nyata dari lapangan yang ia hubungkan langsung dengan ilmu yang ia pelajari.

Bagi Ayu, prinsipnya sederhana: anak mungkin lupa mainan apa yang pernah mereka miliki, tetapi mereka tidak akan lupa bagaimana rasanya tumbuh — dan bagaimana orang dewasa di sekitar mereka pernah mencintai mereka.

“Pendidikan bukan tentang siapa yang paling cepat. Tetapi siapa yang bertumbuh dengan utuh,” pungkasnya.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *