Malanginspirasi.com – Ratusan mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa UM menggelar aksi solidaritas di depan Gedung Rektorat pada Kamis, 11 Juni pukul 16.20 WIB.
Lebih dari 200 mahasiswa menghadiri aksi yang dipicu duka mendalam atas meninggalnya Hana Salsabila.
Hana adalah mahasiswa FT UM yang mengalami kecelakaan saat menjalankan survei program Kuliah Kerja Nyata (KKN/UM BBM) pada Rabu 10 Juni lalu.
Aksi ini jadi momentum kembalinya gerakan massa mahasiswa di lingkungan UM setelah vakum beberapa tahun terakhir.
Berbagai kolektif dan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) UM melebur dalam aksi ini, diantaranya Geram Cakrawala, ACX UM, DPM UM, BEM UM, serta BEM FA.
Tuntut Jaminan Keselamatan dan Ketegasan Kasus Pelecehan
Aksi ini berlangsung dalam bentuk forum terbuka.
Turut hadir Wakil Rektor (WR) 1 UM, Direktur Kemahasiswaan (Dirmawa) UM, dan perwakilan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM).
Dalam forum tersebut, Ketua BEM FIS UM, Bima Juliansyah, menyampaikan rasa duka yang mendalam sekaligus melayangkan kritik keras kepada pihak rektorat.
Bima menegaskan pihak universitas harus mengambil tanggung jawab penuh atas keselamatan mahasiswanya yang sedang mengabdi di luar kampus.
Baca Juga:
Scroll Phobia: Ketika Kemudahan Teknologi Tidak Sejalan dengan Tanggung Jawab Akademik Mahasiswa
“UM harus bertanggung jawab penuh atas peristiwa ini. Setidaknya tidak hanya ucapan belasungkawa, tapi UM harus mengusahakan jaring pengaman bagi aktivitas mahasiswa di luar kampus, seperti asuransi atau jaminan kesehatan bagi mahasiswa yang sedang KKN khususnya,” tegas Bima.
Selain isu jaminan keselamatan, massa aksi juga mempertanyakan kejelasan penanganan kasus dugaan pelecehan verbal oleh oknum Pusat Sumber Daya Wilayah (PSDW) UM saat sosialisasi pembekalan KKN.
Menurut mahasiswa, hingga saat ini belum ada sikap tegas oleh otoritas universitas terkait kasus tersebut.
Respons Rektorat: Janjikan Evaluasi dan Asuransi
Dr. Siti Sendari selaku Dirmawa dan perwakilan LPPM menyatakan pihaknya menyanggupi adanya asuransi bagi mahasiswa KKN.
Namun hal tersebut memerlukan proses birokrasi.
Terkait isu pelecehan verbal oleh oknum PSDW, ia menegaskan kasus tersebut saat ini masih dalam proses penanganan.
Sementara itu, WR 1 UM berpesan mahasiswa lebih berhati-hati saat berkendara.
Ia juga menjanjikan evaluasi sistem dan pengadaan asuransi akan diupayakan secepatnya.
Pihak rektorat mengklaim telah bergerak memberikan santunan kepada keluarga korban.
“Kami dari rektorat, baik PSDW maupun Dirmawa, sudah melakukan santunan juga ke rumah keluarga korban,” ujar pihak rektorat.
Dinilai Normatif, Mahasiswa Kawal Janji Kampus
Meskipun telah ditemui oleh jajaran pimpinan, tanggapan rektorat dinilai masih belum memuaskan.
Moderator Aksi Solidaritas, Hilmy, menilai jawaban pihak rektorat cenderung normatif dan belum menjawab keresahan mendasar mahasiswa secara konkret.
“Harapan saya, semoga dari aksi dan tuntutan ini dapat segera diselesaikan, dan kami mahasiswa yang KKN khususnya, mendapatkan asuransi atau jaminan keselamatan dan kesehatan selama berada di luar kampus,” ungkap dia.
Doa Bersama dan Simbol Lilin di Depan Rektorat
Setelah forum terbuka yang dinamis, aksi ditutup dengan khidmat selepas ibadah salat Maghrib.
Mahasiswa menggelar doa bersama untuk almarhumah, diiringi penyalaan lilin secara simbolik di depan Gedung Rektorat sebagai lambang duka sekaligus pengingat agar api perjuangan hak-hak mahasiswa tidak padam.
Setelah prosesi doa bersama selesai, massa aksi membubarkan diri dengan tertib.
Gerakan ini menjadi pemantik awal bahwa mahasiswa UM akan terus mengawal janji rektorat terkait asuransi keselamatan KKN dan penuntasan kasus pelecehan di lingkungan kampus hingga tuntas.







