Malanginspirasi.com – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 jenjang SD/MI dan SMP/MTs bukan sebagai penentuan tingkat kualitas pendidikan antardaerah.
Sebaliknya, TKA adalah instrumen refleksi pembelajaran supaya sekolah, guru, dan orang tua memahami capaian dan kebutuhan belajar setiap murid.
Menurut Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen, Rahmawati, Kemendikdasmen melakukan proses akademik ketat untuk memastikan keadilan dan validitas penilaian terlebih dahulu.
“Untuk semua soal tersebut, sebelum melakukan proses scoring, kami melakukan verifikasi dan validasi,” ujar Rahmawati dalam Taklimat Media Laporan Hasil Pelaksanaan TKA SD dan SMP 2026, di Kantor Kemendikdasmen, Selasa (26/5/2026).
Ia menjelaskan nilai murid diperoleh dari proporsi jawaban benar yang ditransformasikan ke dalam skala 0–100 pada TKA jenjang SD/MI maupun SMP/MTs.
Apabila murid menjawab benar 15 dari 30 soal nilainya 50, sedangkan 27 jawaban benar menghasilkan nilai 90.
Komposisi Soal TKA Tahun 2026
Yang membedakan TKA tahun ini ialah komposisi soal dimana 70 persen soal berasal dari pusat sebagai soal nasional, 30 persen dari pemerintah daerah.
Rahmawati mengingatkan publik berhati-hati membaca hasil antarwilayah.
“Tidak segampang itu bisa membandingkan satu wilayah dengan wilayah yang lain,” tegasnya.
Menurutnya, Kemendikdasmen melakukan pengecekan statistik terhadap setiap butir soal serta paket ujian sesuai data empiris respons murid di seluruh sesi dan provinsi.
Langkah tersebut untuk memastikan tidak ada peserta didik yang dirugikan karena memperoleh paket soal terlalu sulit atau justru diuntungkan karena paket yang terlalu mudah.
Selain skor numerik, hasil TKA juga disertai kategori capaian berupa kurang, memadai, baik, hingga predikat istimewa untuk nilai 95 ke atas.
Penetapan kategori menggunakan extended Angoff, metode akademik yang dapat dipertanggungjawabkan dengan melibatkan sekitar 140 guru mata pelajaran dari berbagai daerah di Indonesia.
Secara umum, capaian TKA menunjukkan bahasa Indonesia masih lebih tinggi dibanding matematika.
Rahmawati menyebut capaian TKA SD dan SMP tahun ini juga lebih baik dibanding hasil TKA jenjang SMA/SMK/MA sebelumnya.
“Dengan proses sosialisasi lebih panjang, persiapan anak-anak kita juga lebih baik. Maka hasilnya memang lebih tinggi dibandingkan jenjang SMA, MA, dan SMK,” katanya.
Perbandingan Capaian Matematika dan Bahasa Indonesia
Pada mata pelajaran bahasa Indonesia, rata-rata capaian SD dan SMP relatif serupa di kisaran angka 60. Namun untuk matematika, capaian SD tercatat lebih tinggi dibanding SMP.
Data Kemendikdasmen menunjukkan hanya 9,67 persen murid SMP sederajat yang mencapai kategori baik pada matematika, sementara sebagian besar masih berada pada kategori memadai.
Rahmawati menegaskan, pelaporan kategori bukan semata menampilkan angka.
Melainkan membantu murid dan orang tua memahami kemampuan yang telah maupun belum dikuasai.
Karena itu, hasil TKA dilengkapi deskripsi naratif capaian.
“Seharusnya TKA tidak berhenti pada nilai dan capaian, tetapi berujung pada perbaikan dan refleksi strategi pembelajaran. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk mendukung pembelajaran terdiferensiasi, yakni strategi belajar yang disesuaikan dengan kemampuan awal murid,” paparnya.
Baca Juga:
SDK Cor Jesu Malang Gunakan Metode Ini Untuk Efektivitas Persiapan TKA
Menurut Rahmawati, hasil TKA dapat menjadi asesmen awal bagi sekolah, terutama pada proses transisi dari SMP ke SMA.
Jika mayoritas murid berkategori baik, sekolah dapat langsung melanjutkan materi baru.
Sebaliknya, bila sebagian besar masih berada pada kategori kurang, guru perlu mengulang konsep-konsep dasar sebelum masuk ke materi lanjutan.
Kemendikdasmen juga mengingatkan media dan publik agar tidak menggunakan data TKA untuk membuat pemeringkatan daerah.“Tujuan kita bukan untuk melabeli, bukan untuk meranking,” tegas Rahmawati.
Hasil TKA mulai dapat diakses secara bertahap sejak pukul 13.00 WIB melalui dinas pendidikan dan kantor wilayah terkait dalam bentuk Daftar Kolektif Hasil TKA (DKH TKA).
Sekolah kemudian melakukan verifikasi data sebelum menerbitkan Sertifikat Hasil TKA (SHTKA) bagi masing-masing murid.
Milai TKA juga telah diintegrasikan secara otomatis melalui API dan web service Untuk mendukung Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) jalur prestasi, sehingga peserta tidak perlu lagi mengunggah hasil secara manual.







