LUSTRUM XIII FEB UB: Wamendiktisaintek Stella Christie Peringatkan Risiko Penurunan Daya Nalar, Imbau Siswa dan Akademisi Bijak Gunakan AI

Pendidikan17 views

Malanginspirasi.com – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Prof. Stella Christie, Ph.D., mengingatkan kalangan mahasiswa dan akademisi  untuk tidak bersikap pasif serta bergantung secara berlebihan pada teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Ia menyampaikan hal tersebut saat mengisi kuliah umum dalam perangkaian Lustrum XIII Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) di Auditorium Pandhita Majapahit UB, Senin (19/10/2026)

Dalam paparannya, Prof. Stella menggarisbawahi bahwa perkembangan teknologi AI tidak bergerak secara linier, melainkan melompat secara eksponensial.

Wamendiktisaintek Profesor Stella Christie saat menyampaikan pemaparan dalam LUSTRUM XIII FEB UB (Tri Sukma)

Pertumbuhan ini diumpamakan bak cerita klasik papan catur dan peningkat gandaan butir beras yang menghasilkan jumlah fantastis hingga belasan kuintiliun.

”Manusia sering kali tidak memiliki intuisi terhadap pertumbuhan eksponensial. Awalnya terlihat lambat, tetapi tiba-tiba melonjak sangat cepat dan melampaui kemampuan adaptasi kita,” tutur Prof. Stella di hadapan ribuan mahasiswa UB.

Sebagai akademisi berkutub ilmu kognitif, ia mengelompokkan evolusi tantangan AI ke dalam empat tingkatan.

Tahapan ini dimulai dari sistem berdasar aturan ketat seperti catur dan permainan Go yang berhasil ditaklukkan sejak 2015, evaluasi ujian terbuka dan olimpiade sains, hingga penyelesaian masalah riset kompleks seperti pelipatan protein yang diperkirakan rampung di periode 2027–2030.

Meski begitu, ia menegaskan bahwa ranah paling sukar yang belum tersentuh oleh AI adalah pemahaman terhadap asumsi dan nilai etika manusia yang tidak tertulis (unspoken assumptions).

Ia mencontohkan simulasi navigasi kendaraan otonom yang diminta membawa penumpang secepat mungkin ke bandara, namun berpotensi mengabaikan keselamatan pengguna jalan lain karena ketiadaan nurani etis.

Di sisi lain, Indonesia mencatatkan angka adopsi AI tertinggi di dunia untuk sektor pendidikan, melampaui tingkat pemanfaatan di beberapa negara maju seperti Amerika Serikat dan Belanda.

Namun, tingginya angka penetrasi ini dinilai menyimpan potensi bahaya terhadap kapasitas nalar generasi muda.

Prof. Stella menyandarkan pandangannya pada serangkaian laporan riset ilmiah global. Data dari OECD mengungkap bahwa pelajar yang memakai AI setiap hari justru mengalami penurunan skor nilai sains yang signifikan dibandingkan dengan pelajar yang tidak menggunakannya.

Baca Juga:

Peringatan Lustrum XIII, FEB UB Cetak Rekor Serapan Alumni Hingga 100 Persen

Temuan serupa dari kolaborasi ilmiah MIT, Harvard University, dan Wellesley College menunjukkan esai yang digarap murni dari hasil olah pikir mandiri memiliki mutu akademik paling tinggi, sementara esai yang sepenuhnya diserahkan kepada AI mencatatkan hasil paling rendah.

Studi dari University of Pennsylvania serta NYU juga mengonfirmasi bahwa membaca ringkasan buatan AI terbukti mengikis pemahaman fakta secara mendalam, meski hemat waktu.

Fenomena erosi kemampuan akibat ketergantungan AI ini bahkan telah merambah dunia medis profesional, di mana ketelitian dokter dalam mendeteksi polip dilaporkan menurun dari 28,4 persen menjadi 22,4 persen hanya dalam tempo tiga bulan pasca-penggunaan AI secara rutin.

Prof. Stella menegaskan bahwa pihak kementerian tidak membatasi penggunaan teknologi di lingkungan kampus, melainkan menuntut institusi pendidikan tinggi untuk tetap menjadi benteng pertahanan integritas berpikir.

”Pemerintah tidak melarang penggunaan AI, tetapi mahasiswa dan akademisi harus bijak. Jangan sampai alat bantu teknologi ini justru mengikis daya nalar kritis, tradisi riset mandiri, serta kedalaman pemikiran kita,” pungkasnya.

 

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *