Mengungkap Epos Gilgamesh, Puisi Tertua di Dunia

Malanginspirasi.com – Sekitar 4.000 tahun yang lalu, peradaban Mesopotamia melahirkan sebuah karya sastra paling tua yang pernah diketahui umat manusia yakni Epos Gilgamesh.

Karya sastra ini dikenal juga sebagai Epic of Gilgamesh.

Berbentuk puisi epik yang merekam kisah raja legendaris Uruk, Gilgamesh, serta perjalanan hidupnya yang penuh petualangan, persahabatan, dan pencarian makna hidup.

Temuan dan Konteks Sejarah

Epic of Gilgamesh ditemukan terutama dalam Bahasa Akkadian pada tablet-tablet tanah liat di Perpustakaan Ashurbanipal di Ninevah.

Bangunan ini adalah sebuah perpustakaan besar milik raja Asyur abad ke-7 Sebelum Masehi (SM).

Versi paling lengkap terdiri dari 12 tablet, walau tidak semuanya utuh, ditemukan pada pertengahan abad ke-19 oleh Assyriologist Turki bernama Hormuzd Rassam.

Sehingga beberapa bagian yang hilang atau rusak harus dilengkapi dengan berbagai fragmen yang ditemukan di wilayah Mesopotamia dan Anatolia.

Selain itu, terdapat puisi-puisi pendek dalam bahasa Sumeria yang menceritakan petualangan-petualangan Gilgamesh.

Puisi-puisi itu berjudul “Gilgamesh and Huwawa,” “Gilgamesh and the Bull of Heaven,” “Gilgamesh and Agga of Kish,” “Gilgamesh, Enkidu, and the Netherworld,” dan “The Death of Gilgamesh

Puisi-puisi ini berasal dari paruh pertama milenium ke-2 SM, jauh sebelum versi Akkadian yang lengkap disusun.

Isi dan Tema Utama Puisi

Kisah Epic of Gilgamesh dibuka dengan pujian kepada Gilgamesh, raja Uruk yang luar biasa, setengah dewa dan setengah manusia.

Ia dikenal sebagai pendiri, pejuang hebat, dan orang bijak yang memahami dunia darat maupun laut.

Namun, karena pemerintahannya yang keras, dewa Anu menciptakan Enkidu, manusia liar yang hidup bersama binatang, untuk menandingi kekuatannya.

Setelah mengenal kehidupan manusia, Enkidu pergi ke kota Uruk dan bertemu dengan Gilgamesh.

Dalam tablet II, keduanya sempat bertarung untuk menguji kekuatan, tapi akhirnya Gilgamesh lah pemenangnya, dan mereka menjadi sahabat dekat.

Dalam tablet III-V, kereka kemudian berpetualang bersama melawan Humbaba (Huwawa), penjaga hutan cedar yang ditugaskan para dewa.

Tetapi sisa pertempuran tidak dicatat dalam fragmen yang masih ada.

Mengungkap Epos Gilgamesh, Puisi Tertua di Dunia
Gilgamesh (worldhistory.org)

Dalam tablet VI, Gilgamesh kembali ke Uruk. Di sana, ia menolak lamaran Ishtar, sang dewi cinta.

Marah, Ishtar mengirim banteng surgawi untuk menghancurkannya, namun Gilgamesh dan Enkidu berhasil membunuh banteng itu.

Dalam tablet VII, dimulai dengan kisah Enkidu tentang mimpi di mana dewa Anu, Ea, dan Shamsha memutuskan bahwa ia harus mati karena membunuh banteng.

Enkidu pun jatuh sakit dan bermimpi tentang “house of dust” yang menunggunya.

Dalam tablet VIII, diceritakan mengenai ratapan Gilgamesh atas kematian sahabatnya dan melakukan pemakaman kenegaraan untuk Enkidu.

Dalam tablet IX-X, selanjutnya ia pun memulai perjalanan berbahaya, mencari keabadian.

Ia mencari Utnapishtim, manusia yang selamat dari banjir besar dan diberi kehidupan abadi oleh para dewa.

Dalam tablet XI, ketika akhirnya bertemu dengannya, Utnapishtim menceritakan kisah banjir besar (mirip dengan kisah Nuh dalam tradisi lain).

Ia serta mengungkapkan rahasia tentang tanaman ajaib yang dapat mengembalikan masa muda bagi siapa pun yang memakannya.

Namun, setelah berhasil mendapatkannya, seekor ular mencuri dan memakan tanaman itu, menjadikan keabadian hilang selamanya.

Gilgamesh akhirnya kembali ke Uruk, menerima bahwa manusia memang ditakdirkan untuk fana, dan hanya bisa dikenang lewat perbuatannya.

Bagian tambahan di tablet terakhir XII, berisi kisah tentang hilangnya dua benda suci, yaitu pukku dan mikku (gendang dan stiknya) hadiah dari dewi Ishtar untuk Gilgamesh.

Dalam bagian ini, roh Enkidu kembali dari dunia bawah untuk membantu Gilgamesh mencari benda-benda tersebut.

Namun, saat kembali, Enkidu juga menceritakan gambaran kelam tentang kehidupan setelah mati, menggambarkan dunia bawah sebagai tempat yang suram dan tanpa harapan.

Pesan Abadi dari Sastra Kuno

Epic of Gilgamesh bukan hanya catatan sejarah sastra. Ia adalah jembatan antara masa lalu dan sekarang.

Menunjukkan bahwa pertanyaan besar tentang kehidupan, kematian, dan nilai pertemanan sudah dirasakan manusia sejak ribuan tahun yang lalu.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *