Malanginspirasi.com – Sutradara ternama Indonesia, Danial Rifki memboyong tiga karya terbarunya di ajang Jakarta World Cinema (JWC), salah satunya adalah adaptasi resmi dari film thriller asal Spanyol, ‘The Invisible Guest’ (Contratiempo).
Film remake produksi Falcon Pictures tersebut dibintangi oleh jajaran aktor papan atas seperti Reza Rahadian, Mawar de Jongh, dan Arifin Putra.
Meskipun sempat tertunda cukup lama akibat klausa eksklusivitas penayangan di platform streaming, film ini akhirnya sukses menyapa para pecinta film di layar lebar.
Selain film remake tersebut, Danial juga mempersembahkan dua karya baru lainnya dengan warna cerita yang berbeda.
Karya pertamanya adalah film komedi romantis berjudul ‘Tua Tua Keladi’ yang menceritakan kekacauan di sebuah desa akibat kebocoran zat kimia ke saluran air warga, hingga memicu emosi dan gairah terpendam para penghuni usia lanjut.
Melalui film ini, Danial ingin mematahkan stigma bahwa orang tua tidak lagi memiliki semangat hidup. Ia juga menegaskan tetap menjaga isi film dari unsur erotisme yang berlebihan.
Baca Juga:
Timo Tjahjanto Bakal Sutradarai ‘The Burnout’, Film Komedi Produksi Miramax
“Saya berpikir, bagaimana jika mereka memiliki energi muda untuk menjalani kesempatan kedua dalam mencintai. Saya ingin menantang anggapan bahwa orang tua tidak lagi memiliki semangat hidup.”
Karya keduanya adalah Sandal Jepit No. 10, sebuah film thriller ruang terbatas yang mengangkat kisah interogasi brutal kepolisian terhadap Akbar, seorang ayah yang sedang berduka namun justru ditahan atas dugaan kasus pembunuhan.
Film ini menjadi medium bagi Danial untuk menyuarakan kritik sosial terhadap bentuk penyalahgunaan kekuasaan serta trauma politik yang diwarisi masyarakat sejak era Orde Baru.
Menurutnya, meski kini sudah memasuki era Reformasi, upaya pembungkaman suara kritis masih sering terjadi di dunia digital.
“Masyarakat Indonesia memiliki trauma politik. Kehidupan di masa Orde Baru membuat kita tidak bisa mengkritik pemerintah… Kita adalah masyarakat kelas bawah dengan ketakutan bahwa jika kita melakukan sesuatu, orang yang berkuasa akan menindas kita. Jadi film ini adalah tentang bagaimana cara melawan balik.”
Danial menambahkan bahwa di era modern saat ini, media sosial dan pergerakan netizen telah menjadi bentuk people power baru bagi masyarakat untuk saling membela dan merebut kembali keadilan.
Bagi Danial, konflik moral manusia akan selalu menjadi benang merah dalam setiap karya yang ia ciptakan, terlepas dari genre yang diusungnya.
Sebagai langkah berikutnya, Danial bersiap meluncurkan film drama bertajuk ‘Before Thirty’.
Film tersebut dirancang sebagai bentuk kritiknya terhadap norma sosial di Indonesia yang kerap menuntut anak muda untuk wajib mencapai kesuksesan finansial maupun karier sebelum menginjak usia 30 tahun.







