Malanginspirasi.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa fenomena El Nino 2026 telah memasuki fase sangat kuat dan masih akan terus memengaruhi kondisi cuaca Indonesia dalam beberapa bulan ke depan. Monitoring terbaru menunjukkan indeks suhu permukaan laut di wilayah Nino 3.4 sudah mencapai +2,20 hingga +2,77 derajat Celsius. Ini jauh melampaui ambang batas kategori kuat. El Nino juga diprediksi akan mengancam sektor pangan di Indonesia.
El Nino diperkirakan bertahan setidaknya hingga awal kuartal pertama 2027, dengan peluang intensitas kuat hingga sangat kuat sangat tinggi.
Akan tetapi dampak signifikan di Indonesia terutama terjadi saat fenomena ini bertepatan dengan musim kemarau, yang puncaknya berlangsung pada Agustus–September 2026. Pada periode tersebut, hampir separuh wilayah daratan Indonesia (sekitar 48,84 persen Zona Musim) mengalami puncak kemarau.
Curah hujan di sebagian besar wilayah diperkirakan masih terbatas hingga Dasarian I September 2026, berada di kategori rendah hingga menengah (0–150 mm per dasarian).
Wilayah yang paling terdampak meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, hingga Papua bagian selatan. Di daerah-daerah ini, hujan cenderung di bawah normal, meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta gangguan ketersediaan air.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menekankan bahwa El Nino bukan berarti kemarau terus-menerus sepanjang tahun.
“Yang perlu diwaspadai adalah ketika El Nino bertepatan dengan musim kemarau. Saat itulah curah hujan jauh lebih sedikit dibandingkan kondisi normal,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Komoditas Pertanian Paling Terdampak
Sektor pertanian menjadi salah satu yang paling rentan. Defisit air mengganggu fase pertumbuhan tanaman, menurunkan produktivitas, dan meningkatkan risiko puso (gagal panen).
Beberapa komoditas utama yang paling terancam adalah:
Padi/Beras
Produksi beras nasional diperkirakan turun 2,5–5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Musim tanam pertama yang biasanya dimulai Oktober berpotensi mundur.
USDA bahkan memproyeksikan produksi beras Indonesia pada 2026/2027 hanya sekitar 33,4 juta ton, lebih rendah dari tahun sebelumnya.
Tebu/Gula
Petani tebu di Jawa sudah merasakan dampaknya: lahan terbakar dan kekurangan air.
Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) memprediksi produksi gula kristal putih bisa turun 10–15 persen dari 2,67 juta ton pada 2025.
Kopi Robusta
Indonesia sebagai produsen robusta terbesar ketiga dunia (bersama Vietnam menyumbang sekitar 50 persen pasokan global) rawan mengalami penurunan hasil panen akibat kekeringan dan suhu tinggi pada fase perkembangan tanaman. Dampaknya diperkirakan terasa pada panen akhir tahun.
Kelapa Sawit
Dampak langsung pada 2026 relatif terbatas. Tetapi produksi dapat turun 4–10 persen dalam 1–2 tahun berikutnya karena stres air yang memengaruhi pembuahan.
Risiko kebakaran di area perkebunan juga meningkat.
Baca Juga:
BMKG Peringatkan Musim Kemarau 2026 di Malang Lebih Kering dan Panjang Akibat El Nino
Selain itu, tanaman hortikultura seperti cabai, tomat dan bawang merah juga rentan mengalami fluktuasi harga akibat gangguan pasokan.
BMKG mendorong kesiapsiagaan lintas sektor: penyesuaian pola tanam, optimalisasi irigasi dan pompanisasi, penggunaan bibit tahan kekeringan, serta pemanfaatan informasi iklim.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga digencarkan untuk mengisi waduk dan mengurangi risiko karhutla di wilayah rawan seperti Riau, Sumatra Selatan, dan Kalimantan.
Koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, petani, dan pelaku usaha menjadi kunci untuk menjaga ketahanan di sektor pangan dan stabilitas harga di tengah ancaman El Nino yang sudah di depan mata.









