Malanginspriasi.com – Muhammad Rizky Aliansyah, mahasiswa Program Studi Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB), turut mengembangkan inovasi teknologi berbasis Information Technology (IT) dan Internet of Things (IoT) untuk membantu meningkatkan kualitas serta daya saing kopi Indonesia melalui startup Agroplus.id.
Agroplus.id menghadirkan sejumlah inovasi teknologi yang berfokus pada pengolahan dan pengembangan kopi, mulai dari identifikasi varietas hingga pemantauan proses fermentasi. Inovasi tersebut dilatarbelakangi oleh berbagai persoalan yang masih dihadapi petani dan pengolah kopi di Indonesia.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian Rizky adalah kesulitan petani dalam membedakan varietas dan spesies kopi.
Akibatnya, hasil panen dari berbagai jenis kopi kerap dicampur tanpa pemisahan yang jelas.
Padahal, dalam industri kopi spesialti (specialty coffee), khususnya produk single origin, identitas varietas dan asal kopi dapat memengaruhi nilai jual produk.

“Beberapa petani masih kesulitan membedakan varietas dan spesies kopi. Padahal, kalau berbicara tentang kopi spesialti, terutama single origin, pemisahan tersebut dapat memberikan nilai jual yang lebih tinggi,” jelas Rizky dalam acara Ngopi Sam bersama awak media.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Agroplus.id mengembangkan perangkat lunak yang berfungsi membantu identifikasi dan pemisahan varietas serta spesies kopi.
Teknologi ini diharapkan dapat membantu petani mengenali potensi hasil panen mereka sekaligus menjaga identitas kopi berdasarkan varietasnya.
Baca Juga:
Dari Data ke Peluang Usaha, Dosen Statistika FSTeM UB Ajak Mahasiswa Merancang Solusi Berbasis Bukti
Selain identifikasi varietas, Agroplus.id juga mengembangkan teknologi IoT untuk memantau proses fermentasi kopi.
Inovasi ini berangkat dari persoalan yang sering dialami para pengolah kopi atau prosesor, yakni kesulitan menghasilkan cita rasa kopi yang konsisten.
Menurut mahasiswa penerima Program Hibah Wirausaha Mahasiswa (PHWM) dari FSTeM ini, seorang prosesor terkadang mampu menghasilkan kopi dengan cita rasa yang baik, tetapi belum tentu dapat mengulang hasil yang sama pada proses berikutnya.
Hal tersebut disebabkan minimnya pencatatan data, sistem pengolahan, serta standar operasional prosedur (SOP) yang terukur.
Melalui teknologi IoT, proses fermentasi dapat dipantau dan direkam sehingga menghasilkan data yang dapat dijadikan acuan.
Sistem tersebut juga mampu menyusun SOP, tahapan proses, serta diagram alir berdasarkan data fermentasi dalam waktu sekitar tiga hingga empat detik.
Data yang dihasilkan kemudian dapat digunakan sebagai referensi untuk mengulang proses pengolahan kopi.
Dengan demikian, prosesor dapat membandingkan proses fermentasi yang sedang berlangsung dengan data referensi yang telah ditentukan.
Apabila proses menyimpang dari parameter yang ditargetkan, sistem dapat membantu mengidentifikasi ketidaksesuaian tersebut.
“Permasalahan utamanya adalah tidak adanya data dan sistem yang bisa dijadikan acuan. Padahal, untuk menghasilkan cita rasa yang konsisten, proses sebelumnya harus dapat direplikasi,” ungkapnya.
Tidak hanya berfokus pada proses produksi, Agroplus.id juga menghadirkan sistem identifikasi produk melalui kode QR. Teknologi ini dirancang untuk membantu menjaga keaslian dan keterlacakan produk kopi, terutama dalam mendukung kebutuhan ekspor.
Melalui pemindaian kode QR, konsumen dapat memperoleh informasi mengenai produk secara lebih lengkap.
Informasi tersebut mencakup cerita di balik produk, spesies dan varietas kopi, nomor lot, nama petani, prosesor, asal daerah, hingga alasan pemilihan produk tersebut.
Sistem ini diharapkan dapat menjadi alternatif pendukung transparansi informasi produk, sekaligus membantu memperkuat identitas kopi Indonesia di pasar internasional.
Sebab, menurutnya, pasar ekspor tidak hanya memperhatikan kualitas produk, tetapi juga kejelasan asal-usul dan identitas kopi.

“Kami tidak hanya ingin menunjukkan bahwa kopi tersebut benar-benar berasal dari daerah tertentu, tetapi juga membawa nilai dan cerita di balik produk itu. Kami ingin melanjutkan warisan kopi Indonesia yang berpotensi hilang akibat komersialisasi dan industrialisasi,” ujarnya.
Berangkat dari Pengalaman Langsung Bersama Petani
Pengembangan Agroplus.id tidak terlepas dari proses riset langsung di lapangan.
Rizky bersama tim bahkan menghabiskan waktu sekitar satu bulan untuk tinggal dan berinteraksi dengan petani serta prosesor kopi.
Langkah tersebut dilakukan untuk memahami kebutuhan pasar sekaligus mengetahui persoalan yang benar-benar dihadapi pelaku industri kopi.
Dari hasil pengamatan tersebut, tim Agroplus.id kemudian melakukan perubahan strategi bisnis atau pivot.
Awalnya, pengembangan produk lebih difokuskan pada teknologi identifikasi varietas kopi.
Namun, setelah melakukan validasi pasar, tim menyadari bahwa produk tersebut belum memiliki potensi komersial yang cukup kuat.
Akhirnya, teknologi identifikasi varietas dialihkan menjadi bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR).
Melalui pendekatan tersebut, petani dapat memanfaatkan teknologi Agroplus.id untuk memeriksa dan memberikan identitas pada varietas kopi yang mereka miliki.
Sementara itu, strategi komersialisasi diarahkan pada penyediaan perangkat dan layanan pengolahan kopi.
Agroplus.id menawarkan tiga model bisnis, yakni penjualan alat, penyewaan alat, serta layanan coffee project.
Melalui layanan coffee project, petani yang ingin beralih dari produksi kopi komoditas menuju kopi spesialti tetapi belum memiliki waktu atau fasilitas pengolahan dapat menyerahkan prosesnya kepada tim Agroplus.id.
Tim kemudian melakukan pengolahan menggunakan teknologi yang telah dikembangkan.
Salah satu hasil pengolahan tersebut berasal dari gabungan kopi sejumlah petani di kawasan Gunung Kawi.
Rizky terlibat langsung dalam proses pengolahan menggunakan perangkat Agroplus.id hingga menghasilkan produk kopi spesialti.
Produk tersebut kemudian dipasarkan dalam kemasan 100 gram dengan harga sekitar Rp150.000.
Harga tersebut menunjukkan potensi peningkatan nilai tambah dibandingkan kopi dalam bentuk komoditas biasa.
Produk hasil pengolahan itu bahkan mendapatkan respons positif ketika diperkenalkan dalam sebuah kegiatan di BINUS Malang.
Meski demikian, Rizky mengakui bahwa Agroplus.id masih menghadapi keterbatasan kapasitas produksi.
“Ketika mendapatkan pertanyaan mengenai kemungkinan memproduksi kopi secara massal hingga sekitar 150 kilogram, tim kami belum dapat menyanggupi permintaan tersebut,” katanya.
Menurutnya, keterbatasan sumber daya dan kapasitas tim menjadi tantangan yang perlu diselesaikan sebelum Agroplus.id mampu memenuhi kebutuhan produksi dalam skala besar.







