Malanginspirasi.com – Fenomena ironi di kalangan mahasiswa yang ingin mulai bisnis dan bercita-cita jadi SEO tapi malu berjualan sangat marak.
Banyak yang bercita-cita menjadi pengusaha sukses dan mendirikan perusahaan besar, namun merasa minder ketika diminta memulai dari aktivitas jualan sederhana.
Padahal, justru dari proses menjual itulah mental bisnis sebenarnya terbentuk.
Pendiri bisnis Rambak Sapi Happy Khan, Happy Dwiyastuti, S.Psi., M.M. memaparkan hal ini saat menjadi pembicara kuliah tamu yang merupakan inisiasi dari Dr. Hanif Mauludin, S.E., M.Si. dosen pasca sarjana STIE Malangkucecwara – ABM Malang, pada Rabu 29 April.
Acara ini berlangsung di hadapan mahasiswa semester IV itu dengan materi bertajuk “Jualan Dulu, Baru Bicara Bisnis”.
Wanita yang populer dengan nama Happy Khan ini mengungkapkan saat ini terlalu banyak anak muda yang sibuk membahas strategi bisnis, marketing, dan ide-ide besar.
Baca Juga:
Tetapi enggan turun langsung ke lapangan untuk mempraktikkannya.
“Jualan bukanlah pekerjaan rendahan. Justru jualan adalah sekolah mental paling nyata bagi seorang pebisnis. Di sini orang belajar menghadapi penolakan, membaca kebutuhan pasar, berkomunikasi dengan pelanggan, menjaga kepercayaan, dan mengendalikan emosi ketika hasil belum sesuai harapan,” kata Happy.
Menurutnya, banyak mahasiswa yang terjebak dalam apa yang ia sebut sebagai “bisnis ilusi”, yaitu sibuk berdiskusi dan menyusun konsep tanpa pernah benar-benar menjalankan langkah nyata.
“Bisnis bukan lomba siapa yang paling pintar bicara, tapi soal keberanian mengambil tindakan,” tegas pebisnis asal Boyolali ini.
Selama sesi tersebut, Happy lebih banyak berbagi pengalaman langsung membangun usahanya Rambak Sapi Happy Khan.
Semuanya dimulai dari proses sederhana: memproduksi, menggoreng, mengemas, mengirimkan, hingga menerima pembayaran dari pelanggan.
Meski terlihat sederhana, proses itu mengajarkannya banyak hal, termasuk menjaga arus kas (cash flow) yang sehat tanpa bergantung pada utang, serta membangun tim melalui gerakan #JadiJuraganAja.
Ia menekankan bahwa bisnis yang sehat bukan hanya diukur dari omzet tinggi, melainkan juga dari ketenangan hidup dan manfaat yang diberikan kepada orang lain.
“Percuma terlihat sukses di luar jika dalam hidup penuh tekanan,” katanya.

Happy juga mengajak salah satu anggota tim #JadiJuraganAja, Fendy Setiawan, untuk berbagi pengalaman.
Melalui cerita nyata dari anak muda yang berani memulai dari bawah, ia berharap mahasiswa dapat terinspirasi untuk tidak gengsi memulai dari hal-hal kecil.
Dalam kesempatan itu, Happy turut mengapresiasi dosen pembimbing kuliah tamu, Dr. Hanif Mauludin, yang tidak hanya mengajar teori.
Tetapi juga menjalankan usaha penyembelihan sapi untuk memenuhi kebutuhan daging segar di Pasar Singosari.
“Mahasiswa saat ini hidup di era yang peluangnya sangat terbuka lebar. Media sosial bisa menjadi toko, konten bisa menjadi promosi, dan komunitas bisa menjadi pasar. Namun semua peluang itu tidak akan bermakna jika masih ada gengsi untuk mulai jualan,” pungkasnya.
Ia menambahkan, di tengah persaingan dunia kerja yang semakin ketat, kemampuan menjual dan mental entrepreneurship jauh lebih penting daripada sekadar mengandalkan gelar sarjana.
Pesan utama yang disampaikan Happy Khan kepada para mahasiswa adalah: jangan malu memulai dari yang sederhana.
Langkah kecil yang benar-benar dijalankan jauh lebih berharga daripada rencana besar yang hanya tersimpan di pikiran.
“Bisnis lahir dari keberanian memulai, bukan dari gengsi,” tutupnya.
Melalui materi ini, Happy mengajak mahasiswa untuk berbisnis dengan cara yang mudah dimengerti dan diaplikasikan.







