Krisis Donor Darah: Ketika Kebutuhan Tinggi, Kepedulian Justru Rendah

* By: Tino Ferdiansah Hidayat Nurwahid

Malanginspirasi.com – Kegiatan donor darah sering kali diposisikan sebagai agenda rutin yang hadir lalu berlalu tanpa meninggalkan kesan mendalam. Padahal, jika ditelaah lebih jauh, aktivitas ini menyimpan persoalan yang lebih besar, yaitu rendahnya kesadaran kolektif masyarakat terhadap urgensi kebutuhan darah. Di titik inilah donor darah tidak lagi sekadar kegiatan sosial, melainkan cerminan dari tingkat kepedulian publik itu sendiri.

Pelaksanaan donor darah yang diinisiasi oleh KSR PMI Unit Universitas PGRI Kanjuruhan Malang pada 28 hingga 29 April 2026 di Aula Sarwakirti Universitas PGRI Kanjuruhan Malang menunjukkan bahwa ruang partisipasi sebenarnya telah tersedia. Fasilitas ada, penyelenggara aktif, dan akses terbuka bagi siapa saja yang bersedia terlibat.

Namun, pertanyaannya bukan pada ada atau tidaknya kegiatan, melainkan pada sejauh mana masyarakat benar-benar memanfaatkan kesempatan tersebut.

Dalam konteks ini, pengalaman salah satu peserta, Defta, mahasiswa PGSD, menjadi menarik untuk dicermati. Ia menyampaikan bahwa setelah mendonorkan darah, tubuhnya justru terasa lebih ringan dan aktivitas sehari-harinya menjadi lebih optimal.

Pernyataan ini secara implisit menantang anggapan yang selama ini berkembang di masyarakat bahwa donor darah berpotensi melemahkan kondisi fisik. Fakta di lapangan justru menunjukkan sebaliknya, bahwa manfaat donor darah tidak hanya dirasakan oleh penerima, tetapi juga oleh pendonor.

Namun demikian, realitas sosial memperlihatkan adanya jarak antara pengetahuan dan tindakan. Informasi mengenai manfaat donor darah telah banyak disampaikan, tetapi tidak serta-merta mendorong peningkatan partisipasi. Hal ini mengindikasikan bahwa persoalan utamanya bukan semata pada kurangnya informasi, melainkan pada lemahnya kesadaran dan kemauan untuk bertindak.

Di sisi lain, kebutuhan darah di fasilitas kesehatan terus berlangsung tanpa jeda. Setiap hari terdapat individu yang bergantung pada ketersediaan darah untuk mempertahankan hidup, baik dalam situasi darurat maupun dalam proses pengobatan jangka panjang. Ketidakseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan inilah yang seharusnya menjadi perhatian bersama.

Jika ditinjau lebih jauh, donor darah merupakan salah satu bentuk kontribusi sosial yang paling sederhana. Tidak memerlukan keahlian khusus, tidak bergantung pada kondisi ekonomi, dan tidak menuntut waktu yang panjang.

Dengan prosedur yang relatif singkat, seseorang sudah dapat memberikan dampak yang signifikan bagi kehidupan orang lain. Dalam hal ini, donor darah seharusnya dapat diposisikan sebagai bagian dari praktik kewarganegaraan yang aktif dan bertanggung jawab.

Selain itu, manfaat donor darah bagi kesehatan individu juga tidak dapat diabaikan. Proses ini dapat membantu menjaga keseimbangan tubuh, merangsang regenerasi sel darah, serta berkontribusi terhadap kesehatan sistem kardiovaskular. Dengan demikian, donor darah tidak hanya berdimensi altruistik, tetapi juga memiliki nilai fungsional bagi individu.

Meski demikian, masih terdapat kecenderungan di masyarakat untuk menunda atau bahkan menghindari partisipasi dalam kegiatan donor darah. Alasan yang muncul pun beragam, mulai dari rasa takut, ketidaknyamanan, hingga sikap apatis. Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan donor darah tidak hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga menyentuh dimensi sosial dan psikologis masyarakat.

Dalam pandangan penulis, kegiatan yang diselenggarakan oleh KSR PMI Unit Universitas PGRI Kanjuruhan Malang seharusnya tidak dipahami sebagai kegiatan insidental semata. Lebih dari itu, kegiatan ini dapat menjadi titik awal untuk membangun kesadaran kolektif yang lebih luas.

Kampus sebagai ruang intelektual memiliki potensi besar untuk mendorong perubahan pola pikir, termasuk dalam hal kepedulian sosial.

Pada akhirnya, donor darah bukanlah persoalan kemampuan, melainkan persoalan kemauan. Setiap individu pada dasarnya memiliki peluang yang sama untuk berkontribusi. Pertanyaan yang tersisa adalah apakah kita bersedia mengambil peran tersebut, atau justru memilih untuk tetap berada dalam zona nyaman tanpa keterlibatan nyata.

Dalam situasi di mana kebutuhan darah terus meningkat, sikap pasif bukan lagi pilihan yang dapat dibenarkan. Diperlukan perubahan cara pandang, dari melihat donor darah sebagai beban, menjadi sebagai tanggung jawab sosial yang melekat pada setiap individu.

Sebab pada hakikatnya, setetes darah yang didonorkan tidak hanya menyelamatkan satu kehidupan, tetapi juga merefleksikan nilai kemanusiaan yang seharusnya menjadi fondasi dalam kehidupan bermasyarakat.

* Tulisan ini merupakan kontribusi dari Tino Ferdiansah Hidayat Nurwahid. Penulis merupakan mahasiswa Program Studi PPKn, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama).

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *