Malanginspirasi.com – Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang Agoes Basoeki menegaskan pentingnya pengembangan kawasan pariwisata terpadu di Malang Raya.
Konsep ini, katanya, dinilai sebagai strategi kunci untuk meningkatkan daya saing destinasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan selatan Jawa Timur.
Agoes menyampaikan hal tersebut dalam acara Orkestrasi Strategic Planning Percepatan Pembangunan Selatan Provinsi Jawa Timur yang digelar di Kantor Bakorwil III Malang, Rabu (15/7/2026).
Dalam forum yang juga dihadiri oleh Kepala Bakorwil III Malang, Asep Kusdinar, dan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak secara daring ini, Agoes memaparkan bahwa paradigma pariwisata telah bergeser dari pengembangan destinasi individual menuju integrated tourism area atau kawasan pariwisata terpadu .
“Konsep ini menitikberatkan pada integrasi destinasi, amenitas, aksesibilitas, dan masyarakat. Pendekatan ini sangat relevan untuk Malang Raya, yang mencakup Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu, agar membentuk ekosistem pariwisata yang kompetitif,” ujar Agoes dalam pemaparannya.
Menurutnya, ketiga wilayah di Malang Raya memiliki karakteristik wisata yang berbeda namun saling melengkapi. Kota Malang dikenal dengan wisata heritage, sejarah, pendidikan, kuliner, dan pusat MICE.
Baca Juga:
Wagub Jatim Emil Dardak Paparkan Cetak Biru Menuju Malang Raya Megapolitan
Kabupaten Malang menawarkan wisata alam, pantai selatan, agrowisata, dan petualangan. Sementara Kota Batu memiliki keunggulan di bidang theme park, agrowisata, dan wisata buatan .
Agoes menganalisis bahwa apabila ketiga wilayah tersebut dipromosikan sebagai satu kawasan terpadu, wisatawan akan terdorong melakukan perjalanan lintas wilayah.
Dampaknya, terjadi peningkatan length of stay atau lama tinggal wisatawan serta peningkatan pengeluaran wisatawan yang pada akhirnya berdampak pada okupansi hotel dan pertumbuhan usaha di sektor restoran dan UMKM.
“Wisatawan saat ini cenderung menginap singkat, hanya 1-2 malam. Kita perlu memberikan alasan lebih bagi mereka untuk tinggal lebih lama. Semakin lama wisatawan tinggal, maka kontribusi terhadap usaha kepariwisataan akan semakin besar,” tegas Agoes.
Menjawab tantangan tersebut, PHRI Kota Malang mendorong sejumlah rekomendasi strategis.
Beberapa di antaranya adalah membangun branding tunggal “Malang Raya” sebagai destinasi terpadu, mengembangkan paket wisata lintas Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu, serta memperkuat kolaborasi pentahelix antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media .
Selain itu, peningkatan kualitas SDM pariwisata juga menjadi fokus utama.
Menurutnya, penguatan hospitality mindset, bahasa asing, digital marketing, dan pelayanan prima menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas pengalaman wisatawan.
PHRI juga mendorong pengembangan pariwisata berbasis event (experience-based tourism) seperti festival budaya, kuliner, sport tourism, dan MICE yang menjadi tren global saat ini.
“Kami juga menyoroti pentingnya transformasi digital dan pariwisata berkelanjutan. Adaptasi terhadap OTA, media sosial, dan pembayaran digital harus dipercepat. Di sisi lain, pengembangan kawasan harus memperhatikan prinsip keberlanjutan, seperti pengelolaan sampah, keterbatasan air bersih, alih fungsi lahan, dan daya dukung lingkungan,” pungkasnya.







