Malanginspirasi.com – Pergantian nama bukan berarti memutus sejarah. Itulah pesan utama yang ingin disampaikan Fakultas Sains, Teknologi, dan Engineering (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB) di usianya yang ke-39 tahun.
Dalam perayaan dies natalis yang berlangsung di Gedung Pandita Majapahit UB lantai 2, Jumat (7/8/2026), fakultas yang dahulu dikenal sebagai MIPA ini mengusung tema “39 Tahun Mengakar”.
Sebuah tema yang sengaja dipilih untuk menunjukkan bahwa meskipun wajah dan cakupan keilmuan semakin meluas, fondasi yang dibangun sejak awal tetap menjadi tumpuan.
Prof. Ir. Sukir Maryanto, S.Si., M.Si., Ph.D. menegaskan bahwa transformasi ini adalah langkah maju, bukan peralihan yang mengabaikan sejarah.
“Kami tidak melupakan MIPA. Kami bertumbuh di atasnya,” ujarnya di hadapan para akademisi dan undangan.
Ia menjelaskan, langkah ini menjadi tahun pertama FSTeM benar-benar menjalani konformasi sebagai fakultas dengan spektrum yang lebih luas. Bukan sekadar ganti nama, tetapi juga perluasan peran di tengah percepatan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Jika dulu fokus utama berada pada sains dasar, kini FSTeM mulai membuka diri pada sains terapan, teknologi, hingga rekayasa atau engineering. Hal ini terlihat jelas dari komposisi program studi yang dikelola.
Dari sepuluh program studi sarjana yang ada, lima di antaranya masih berkutat pada basic science, ciri khas MIPA sejak awal berdiri. Sementara lima lainnya telah bergerak ke ranah applied science yang lebih aplikatif.
Prof. Sukir menyebut komposisi ini sebagai cermin masa transisi yang sedang dijalani fakultas.
“Kami mengakar pada basic science yang utuh. Kemudian kami kembangkan ke arah terapan. Inilah bentuk transformasi kami,” tegasnya.
Baca Juga:
FSTeM UB Kembangkan AI Medis Presisi, Hadirkan Teknologi Diagnostik Transparan dan Terukur
Riset Harus Bermanfaat
Namun transformasi di FSTeM tidak hanya berhenti pada struktur keilmuan. Lebih dari itu, fakultas berambisi mendorong hasil penelitian agar tidak hanya menjadi dokumen akademik atau jurnal ilmiah. Riset-riset yang dihasilkan diarahkan untuk bisa dihilirkan menjadi produk nyata, teknologi, maupun proses yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
Dalam pameran yang digelar pada rangkaian dies natalis, sejumlah inovasi dan mesin karya sivitas akademika dipamerkan.
Menurut Prof. Sukir, itu baru sebagian kecil dari seluruh capaian yang dimiliki FSTeM. Namun setidaknya, itu menjadi sinyal bahwa arah baru fakultas mulai terlihat.
“Ke depan, hilirisasi dan internasionalisasi akan kami tekankan,” katanya.

Selain hilirisasi, internasionalisasi juga menjadi pilar penting dalam strategi pengembangan FSTeM ke depan. Fakultas terus membangun kerja sama lintas negara, salah satunya dengan mitra dari Jepang yang bahkan telah masuk ke tahap penempatan peralatan riset di lingkungan kampus.
Prof. Sukir menjelaskan, kolaborasi semacam ini penting karena internasionalisasi tidak boleh sekadar seremoni penandatanganan nota kesepahaman. Harus ada aktivitas konkret yang berdampak pada pengembangan ilmu, teknologi, dan sumber daya manusia.
Di sisi lain, kehadiran kata “Engineering” dan “Teknologi” dalam nama baru fakultas bukanlah sekadar tempelan. FSTeM ingin serius mengembangkan bidang teknologi, mulai dari tahap ide, desain, hingga aplikasi dan produksi.
“Kami ingin ikut berperan mengembangkan teknologi. Bukan cuma gagasan, tapi bagaimana kami hilirkan dan terapkan,” ujar Prof. Sukir.
Memasuki usia 39 tahun, FSTeM juga tengah bersiap menyambut tahun ke-40 yang diproyeksikan sebagai tonggak pencapaian yang lebih besar. Berbagai persiapan terus dimatangkan, namun dengan satu catatan penting: semua perubahan tetap bertumpu pada identitas awal sebagai MIPA.
Dengan demikian, tema “39 Tahun Mengakar” bukanlah sekadar slogan seremonial. Ia menjadi simbol bahwa FSTeM UB ingin tumbuh dari akar yang kokoh, merambat ke ranah yang lebih luas, dan berbuah pada inovasi yang berdampak.
Di titik ini, sejarah dan masa depan berjalan beriringan.







