Malanginspirasi.com – Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB), Prof. Cleoputri Al Yusainy, S.Psi., M.Psi., Ph.D., menggagas pendekatan baru dalam dunia psikologi yang diberi nama Model Psikologi “Lebur Duka Labur Rasa”.
Model berbasis realitas kehidupan ini digagas sebagai upaya merevitalisasi cita-cita mulia ilmu psikologi—tidak sekadar mengkaji proses mental dan perilaku, tetapi juga membentuk individu yang memiliki kebugaran mental (mental fitness).
Prof. Cleoputri, yang dilantik sebagai profesor bidang Psikologi Umum dan Eksperimen—sekaligus guru besar ke-5 di FISIP dan ke-458 di Universitas Brawijaya—menilai bahwa pendekatan psikologi arus utama saat ini masih didominasi aliran filsafat Epikurien atau model hedonis.
Pendekatan tersebut dinilainya kerap menitikberatkan pada selebrasi ego, kesenangan, dan optimisme semata.
Ia mengungkapkan bahwa jargon-jargon dari model arus utama seperti “semangat, kamu pasti bisa” atau “terima kasih telah bertahan” sudah tidak lagi relevan dengan kondisi dunia hari ini.
Psikologi dinilainya kerap terjebak dalam pola pikir dikotomi antara optimis atau pesimis, serta positif atau negatif. Padahal, titik tengah yang realistis dan netral sangat dibutuhkan.
Di dalam tradisi kontemplasi dunia Timur, realitas dipandang sebagaimana adanya: segala sesuatu terjadi karena syaratnya telah terpenuhi.
Istilah Lebur Duka sendiri menggambarkan proses menyurutnya penderitaan, yang secara alami diiringi oleh Labur Rasa atau beningnya rasa.
“Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang mendahulukan rasa sebelum timbulnya karsa dan cipta. Melalui model ini, individu diajak menyadari tiga ilusi diri (three marks of self) yang sering membelenggu, yaitu rasa kepemilikan (mineness), keterpusatan diri (centeredness), dan keakuan (selfhood),” katanya.
Ia melanjutkan bahwa kerelaan individu untuk berangkat dan berdamai dengan penderitaan menjadi prasyarat utama untuk mencapai kesadaran utuh (mindfulness).
Prof. Cleo mengingatkan bahwa mindfulness harus dipahami secara utuh dan realistis, bukan parsial, agar tidak memicu risiko bagi kesehatan mental.
Baca Juga:
Mindfulness Corner Jadi Layanan Konseling FIA UB, Perkuat Ekosistem Pendidikan
Keunggulan dari model Lebur Duka Labur Rasa ini terletak pada proses penyusunan dan pengujiannya yang menggunakan metode penelitian eksperimen—metode yang sejak 150 tahun lalu mengukuhkan psikologi sebagai disiplin ilmu sains.
Meski demikian, melatih kebugaran mental secara realistis merupakan proses sepanjang hayat karena sifat hedonisme cenderung lebih intuitif dan mudah dilakukan.
Menerapkan model ini tidak akan menambah sesuatu, melainkan membantu individu mengikis kemarahan, ketakutan, dan ketidaktenangan. Ke depan, model ini diharapkan terus diuji secara berkelanjutan pada berbagai kelompok masyarakat serta disebarluaskan lewat edukasi publik secara terintegrasi.







