Masa Depan Pertanian di Tengah Perubahan Iklim dan Geopolitik Jadi Pembahasan Kuliah Umum FBiPK UB

Pendidikan37 views

Malanginspirasi.com  – Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya (UB) menggelar kuliah umum di Ruang Pertemuan GS. 1.1, Jumat (18/9/2026).

Bertajuk “Pertanian di Era Ketidakpastian: Climate Change, Geopolitics and Food Security”, kuliah umum ini menghadirkan Prof. Dr. Ir. H. Mohammad Jafar Hafsah, I.P.U., APEC Eng., ASEAN Eng., guru besar bidang agribisnis pangan yang memiliki pengalaman panjang di sektor pertanian.

Dalam sambutannya, Dekan FBiPK Universitas Brawijaya Prof. M. Purnomo, S.P., M.Si., Ph.D. yang membuka kegiatan tersebut menekankan pentingnya kuliah umum sebagai ruang belajar sekaligus sarana bertukar pengetahuan.

Hal ini terutama untuk memahami perkembangan sektor pertanian yang terus berubah dari generasi ke generasi.

Dekan FBiPK Universitas Brawijaya Prof. M. Purnomo, S.P., M.Si., Ph.D. saat membuka kuliah tamu (Istimewa)

“Kuliah umum seperti ini menjadi ruang untuk belajar dan saling bertukar pengetahuan tentang pertanian. Namun, ilmu jangan hanya diperoleh dari ruang kuliah. Mahasiswa juga harus aktif dalam organisasi karena banyak pengetahuan dan pengalaman yang bisa didapatkan dari sana,” kata Purnomo.

Menurutnya, proses pendidikan di perguruan tinggi tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan akademik.

Pengalaman berorganisasi juga menjadi bagian penting dalam membentuk kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kerja sama, dan kepekaan mahasiswa terhadap persoalan di masyarakat.

Ketidakpastian Menjadi Tantangan Pertanian

Dalam pemaparannya, Prof. Jafar Hafsah menjelaskan sektor pertanian menghadapi ketidakpastian yang semakin kompleks saat ini. Perubahan iklim, dinamika geopolitik, dan volatilitas pasar dapat memengaruhi produksi, distribusi, hingga akses masyarakat terhadap pangan.

Materi kuliah umum menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak sekadar menyangkut jumlah produksi.

Ketahanan pangan juga bergantung pada ketersediaan, keterjangkauan, akses, dan stabilitas pangan di tengah berbagai tekanan eksternal.

Perubahan iklim membuat pola musim semakin sulit diprediksi dan menjadi salah satu tantangan yang perlu diantisipasi.

Baca Juga:

Mahasiswa FBiPK UB Jadi Juara Umum NEIRA 3

Kekeringan dapat mengganggu produksi, sementara curah hujan ekstrem berpotensi menimbulkan banjir dan kerusakan lahan pertanian.

Petani kecil menjadi kelompok yang paling rentan karena memiliki kemampuan yang terbatas dalam menghadapi risiko tersebut.

Persoalan itu semakin kompleks ketika bersinggungan dengan dinamika geopolitik. Konflik dapat mengganggu rantai pasok pangan, pupuk, dan energi.

Kebijakan pembatasan ekspor yang dilakukan negara produsen juga berpotensi meningkatkan harga input pertanian di negara yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor.

Karena itu, Prof. Jafar menilai pembangunan pertanian harus bergerak dari pola yang hanya merespons krisis menuju sistem yang mampu mengantisipasi berbagai risiko.

Petani Muda Perlu Ilmu, Etika, Dan Pengalaman

Jafar juga menyampaikan pesan khusus bagi mahasiswa dan generasi muda yang akan menjadi bagian dari pembangunan pertanian Indonesia di hadapan peserta kuliah umum.

Menurut dia, petani milenial dan generasi muda pertanian tidak cukup hanya memiliki prestasi akademik dan kemampuan intelektual.

Mereka juga harus memiliki etika, pengalaman sosial, dan ketangguhan dalam menghadapi persoalan nyata.

“Petani milenial jangan hanya menjadi juara dalam akademik dan intelektual, tetapi juga harus memiliki etika. Jangan hanya membaca buku karena ilmu ada di mana-mana. Ikuti organisasi, perluas pengalaman, dan jangan lupa berolahraga agar menjadi generasi yang benar-benar tangguh,” ujar Prof Jafar.

Pesan tersebut menempatkan kompetensi sumber daya manusia sebagai bagian penting dalam pembangunan pertanian.

Generasi muda tidak hanya dituntut memahami teknologi dan perkembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu bekerja bersama masyarakat serta memiliki karakter yang kuat.

Dalam materinya, Prof. Jafar juga menyoroti pemanfaatan teknologi pertanian, digital agriculture, dan ekonomi sirkular.

Penggunaan sensor, drone, alat dan mesin pertanian, data, serta kecerdasan buatan dinilai dapat membantu sektor pertanian bergerak dari pola yang bergantung pada perkiraan menuju pengambilan keputusan berbasis data dan prediksi.

Hilirisasi Untuk Memperkuat Nilai Tambah

Selain penguatan sumber daya manusia dan teknologi, hilirisasi menjadi salah satu strategi yang dibahas dalam kuliah umum tersebut. Pengolahan komoditas pertanian di dalam negeri dinilai penting agar Indonesia tidak hanya menjual bahan mentah dengan nilai ekonomi rendah.

Materi kuliah umum menempatkan hilirisasi sebagai bagian dari sistem ketahanan pangan bersama diversifikasi pangan, cadangan pangan, penguatan petani, teknologi pertanian, digitalisasi, dan ekonomi sirkular.

Pendekatan itu diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah produk pertanian, memperluas kesempatan kerja, memperkuat industri pengolahan, sekaligus memberikan manfaat ekonomi lebih besar kepada petani.

Pada bagian akhir materinya, Jafar menekankan bahwa ketidakpastian tidak selalu dapat dihindari, tetapi dapat dikelola melalui keterpaduan antara agronomi, teknologi, dan kebijakan.

“Ketidakpastian itu takdir. Nilai tambah itu pilihan. Hilirisasi adalah jalan” demikian pesan yang ditampilkan dalam bagian penutup materi kuliah umum.

Kuliah umum tersebut diharapkan memperluas perspektif mahasiswa mengenai tantangan pertanian masa depan. Pertanian tidak lagi hanya berbicara mengenai produksi di lahan, tetapi juga menyangkut perubahan iklim, teknologi, ekonomi, geopolitik, sumber daya manusia, serta kemampuan membangun sistem pangan yang tangguh menghadapi ketidakpastian global.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *