Inovasi Mahasiswa UB: Spray dari Kulit Kakao dan Daun Pegagan Mengatasi Mikroba Kulit

Pendidikan8 views

Malanginspirasi.com – Tim mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) mengembangkan inovasi sediaan semprot cair berbasis kombinasi daun pegagan (Centella asiatica) dan kulit kakao (Theobroma cacao) sebagai upaya memperluas sasaran antimikroba pada peradangan kulit area batang tubuh.

Pertumbuhan mikroorganisme pada kulit tidak hanya berkaitan dengan bakteri, tetapi juga dapat melibatkan jamur, terutama pada area batang tubuh seperti dada dan punggung.

Kondisi yang dikenal dengan istilah truncal acne ini seringkali lebih sulit ditangani karena area yang luas dan kombinasi penyebabnya.

Pengembangan inovasi tersebut adalah melalui Program Kreativitas Mahasiswa-Riset Eksakta (PKM-RE) oleh Fatla Sela Iracahyono dari Departemen Teknik Biosistem sebagai ketua tim, bersama anggota Khesya Olivia, Athaya Nur Febriliana, dan Kristin Angelia dari Departemen Ilmu Pangan dan Bioteknologi angkatan 2025, serta Clara Zaaky dari Departemen Farmasi angkatan 2024.

Penelitian ini berada di bawah bimbingan Prof. Dr. Agustin Krisna Wardani,S.TP, M.Si., Ph.D.

Ketua tim, Fatla Sela menjelaskan bahwa ide ini berawal dari keprihatinan terhadap limbah kakao yang belum termanfaatkan optimal serta keterbatasan produk penanganan jerawat punggung yang ada di pasaran.

“Kami melihat kebanyakan penelitian jerawat hanya fokus pada bakteri Cutibacterium acnes. Padahal, pada jerawat di area punggung dan dada, seringkali ada keterlibatan jamur Malassezia furfur yang menyebabkan peradangan juga. Jadi kami ingin menciptakan formula yang bisa mengatasi keduanya sekaligus,” ujar Fatla.

Pemilihan kulit kakao sebagai bahan utama tidak terlepas dari potensinya yang masih belum banyak dimanfaatkan dan bernilai ekonomi.

“Kulit kakao ini menyumbang sekitar 75,52 persen dari total berat buah kakao, sehingga pemanfaatannya sebagai bahan baku dapat memberikan nilai tambah pada bagian yang berpotensi menjadi limbah. Namun sayangnya masih sangat sedikit yang memanfaatkannya. Padahal kulit kakao diketahui mengandung senyawa alkaloid dan flavonoid yang berpotensi mengganggu permeabilitas membran serta menghambat metabolisme mikroba,” paparnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pemilihan daun pegagan adalah karena memiliki senyawa bioaktif yang berpotensi mendukung aktivitas antimikroba sekaligus berkaitan dengan respons inflamasi kulit.

Daun pegagan kaya akan senyawa asiaticoside dan madecassoside yang memiliki sifat anti-inflamasi dan membantu regenerasi kulit.

“Kami mengombinasikan keduanya karena ingin mendapatkan efek sinergis. Kalau kulit kakao fokus menyerang mikrobanya, pegagan membantu meredakan peradangannya dan memperbaiki skin barrier. Jadi pendekatannya tidak hanya membunuh bakteri, tapi juga memulihkan kulit,” jelas Fatla.

Tidak hanya mengembangkan kombinasi bahan, program ini juga berinovasi pada bentuk sediaan. Tim memilih bentuk sediaan semprot cair atau spray sebagai bentuk akhir inovasi.

Pemilihan ini disesuaikan dengan target penggunaan pada area batang tubuh yang relatif luas dan sulit dijangkau tangan, seperti punggung.

Sediaan semprot cair memiliki tekstur lebih ringan, lebih higienis, dan dapat diaplikasikan secara merata tanpa harus menyentuh area jerawat yang sedang meradang dibandingkan sediaan gel atau krim yang bersifat semipadat dan cenderung meninggalkan residu lengket serta membutuhkan kontak fisik langsung.

Baca Juga:

TEP FBiPK UB Perkenalkan Bank Benih Komunitas dan Integrated Pest Management Perkuat Ketahanan Pangan Papua Barat Daya

Dalam proses penelitiannya, kombinasi kedua ekstrak diuji dengan berbagai rasio untuk menentukan formula yang menghasilkan aktivitas antimikroba paling optimal terhadap C. acnes dan M. furfur.

Formula terpilih kemudian dikembangkan menjadi sediaan semprot cair dan melalui serangkaian pengujian untuk mengevaluasi karakteristik fisik, stabilitas, pH, serta aktivitas antimikrobanya di laboratorium.

Prof. Dr. Agustin Krisna Wardani selaku dosen pembimbing mengapresiasi ide kreatif mahasiswa bimbingannya yang mampu menghubungkan isu limbah agroindustri dengan masalah kesehatan kulit.

“Ini adalah contoh bagus bagaimana mahasiswa berpikir secara interdisipliner. Dari Teknik Biosistem, Teknologi Pangan, dan Farmasi mereka berkolaborasi. Mereka melihat limbah kulit kakao dari sisi teknologi pengolahan, lalu pegagan dari sisi fungsional pangan, dan diformulasikan menjadi produk farmasetis. Inovasi seperti ini yang kita dorong di UB,” ujarnya.

Inovasi spray anti-jerawat punggung dari limbah kulit kakao dan daun pegagan ini diharapkan dapat menjadi alternatif solusi topikal yang lebih alami, efektif, dan ramah lingkungan.

Secara lebih luas, inovasi ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Pengembangan sediaan topikal untuk peradangan area batang tubuh mendukung SDGs poin 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penyediaan produk kesehatan yang inovatif.

Sementara itu, pemanfaatan kulit kakao yang selama ini menjadi limbah perkebunan sebagai bahan baku bernilai tambah mendukung SDGs poin 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui prinsip ekonomi sirkular dan zero waste.

Tim saat ini tengah melanjutkan penelitian untuk optimasi stabilitas spray dan uji iritasi untuk memastikan keamanan produk sebelum dapat dikembangkan lebih lanjut menuju tahap hilirisasi.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *