Delapan Mahasiswa Internasional Bergabung di Program BIPA 2026/2027 FIB UB

Pendidikan12 views

Malanginspirasi.com – Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) membuka Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Tahun Akademik 2026/2027 melalui Opening Ceremony Program BIPA KNB dan Darmasiswa RI pada Selasa (15/9/2026).

Kegiatan ini menjadi awal proses pembelajaran bahasa sekaligus pengenalan budaya Indonesia bagi mahasiswa internasional yang akan belajar di UB.

Pada tahun akademik 2026/2027, terdapat delapan mahasiswa internasional di Program BIPA FIB UB.

Mereka berasal dari Myanmar, Madagaskar, Timor-Leste, Tanzania, Tiongkok, Korea Selatan, dan Pakistan.

Para mahasiswa mengikuti beberapa skema, yaitu BIPA Kemitraan Negara Berkembang (KNB), BIPA Darmasiswa RI, serta program kerja sama dengan Tianjin Foreign Studies University (TFSU).

Bagi mahasiswa KNB, pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki posisi penting sebelum mereka memasuki studi akademik ke jenjang S2 maupun S3 di UB.

Ketentuan resmi KNB menyebut bahwa penerima beasiswa mengikuti kelas BIPA sebelum menjalani studi akademik reguler yang menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar.

Selama sepuluh bulan ke depan, mahasiswa akan mengikuti pembelajaran Bahasa Indonesia di FIB UB.

Proses tersebut juga akan dimonitor secara berkala untuk melihat perkembangan kemampuan bahasa masing-masing peserta.

Komposisi peserta tahun ini memperlihatkan keberagaman yang menjadi ciri Program BIPA. Mahasiswa KNB terdiri atas Swann Shine dari Myanmar; Tsantampitiavani Fenomamy Johanah Randriamalala dari Madagaskar; Odilia Denewvia Ramos Da Conceicao Soares dari Timor-Leste; Abednego Elias Stephen dari Tanzania; dan Aafaq Younas dari Pakistan.

Sementara itu, Ling Long dari Tiongkok dan Gong Jaesik dari Korea Selatan mengikuti BIPA melalui skema Darmasiswa RI. Satu mahasiswa lainnya, Wang Lili dari Tiongkok, mengikuti BIPA melalui kerja sama dengan TFSU.

KNB merupakan program beasiswa Pemerintah Indonesia bagi mahasiswa internasional dari negara berkembang untuk menempuh pendidikan tinggi di Indonesia.

Pada 2026, program tersebut melibatkan 47 perguruan tinggi mitra di Indonesia. Sejak 2006, KNB telah menjangkau 2.299 mahasiswa dan alumni dari 107 negara.

Sementara itu, Darmasiswa RI merupakan program bagi warga negara asing untuk mempelajari Bahasa Indonesia, seni, dan budaya di Indonesia.

Untuk Tahun Akademik 2026/2027, penerima Darmasiswa telah mengikuti program orientasi nasional pada akhir Agustus sebelum kegiatan pembelajaran dimulai pada September 2026.

Pertemuan mahasiswa dari berbagai negara tersebut membuat kelas BIPA tidak hanya menjadi ruang untuk belajar Bahasa Indonesia.

Di dalamnya terjadi pula interaksi antara orang-orang yang membawa bahasa, kebiasaan, dan latar budaya berbeda.

Rektor UB, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., menilai program seperti KNB dan Darmasiswa memiliki posisi strategis karena menjadi bagian dari upaya memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia kepada masyarakat internasional.

“Program-program negara seperti ini menjadi bagian penting untuk promosi budaya Indonesia dan Bahasa Indonesia kepada negara-negara lain,” ungkapnya.

Menurut Prof. Widodo, pelaksanaan program BIPA di FIB UB memiliki relevansi tersendiri karena fakultas tersebut memiliki sumber daya akademik yang berhubungan langsung dengan bahasa, budaya, dan global engagement.

Melalui pembelajaran Bahasa Indonesia, mahasiswa internasional tidak hanya memperoleh kemampuan komunikasi yang akan mereka perlukan selama menjalani pendidikan.

Mereka juga berkesempatan memahami nilai dan kebudayaan Indonesia melalui interaksi langsung dengan lingkungan tempat mereka tinggal.

Rektor menegaskan bahwa mahasiswa internasional yang belajar di UB kini telah menjadi bagian dari keluarga besar universitas.

“Kita tahu mahasiswa asing ini sekarang menjadi keluarga besar kita. Kita ingin mahasiswa kita ini nanti pulang sebagai duta kita, sebagai ambassador UB dan ambassador Indonesia, untuk mempromosikan keberadaan kita, nilai-nilai yang kita miliki, dan juga kualitas budaya Indonesia,” pesannya.

Dekan FIB UB, Sahiruddin, S.S., M.A., Ph.D., melihat dampak program BIPA tidak hanya selama mahasiswa berada di Indonesia. Pengalaman yang mereka bawa setelah kembali ke negara masing-masing juga menjadi bagian penting dari program tersebut.

Menurutnya, mahasiswa internasional dapat menjadi jembatan untuk membawa kekayaan budaya dan kearifan lokal Indonesia menuju ruang global.

“Dampaknya adalah, seperti yang disampaikan Pak Rektor, bagaimana mereka membawa budaya Indonesia ini ke global. Banyak local wisdom yang bagus di Indonesia dan bisa dibawa ke ranah internasional melalui program ini,” ujar Sahiruddin.

Baca Juga:

Mahasiswa FIB UB Belajar Budaya Lewat Cooking Class bersama IIMS Jepang

Harapan tersebut menempatkan BIPA lebih luas daripada sekadar program pembelajaran bahasa. Bahasa menjadi pintu masuk bagi mahasiswa asing untuk memahami masyarakat Indonesia, sedangkan pengalaman tinggal di Indonesia memberikan konteks terhadap bahasa yang mereka pelajari.

Mahasiswa tidak hanya mengenal kata dan struktur kalimat dalam Bahasa Indonesia. Mereka akan berhadapan langsung dengan cara masyarakat berkomunikasi, makanan, kebiasaan, tradisi, lingkungan sosial, hingga keragaman budaya yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.

Sahiruddin berharap semakin banyak mahasiswa internasional yang memilih UB sebagai tempat belajar pada masa mendatang.

“Harapannya akan semakin banyak mahasiswa asing yang belajar di UB sehingga, seperti yang disampaikan Pak Rektor, mereka nantinya menjadi duta UB dan Indonesia,” katanya.

Bagi para peserta, pembelajaran BIPA juga menjadi bekal untuk menjalani kehidupan akademik di Indonesia.

Odilia Denewvia Ramos Da Conceicao Soares, mahasiswa asal Timor-Leste, menilai pembukaan program tersebut penting karena mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara sekaligus menjadi awal untuk mempelajari Bahasa Indonesia dan kebudayaannya.

“Acara ini sangat penting bagi kami untuk memulai pelajaran tentang Bahasa Indonesia dan budaya Indonesia di Universitas Brawijaya,” ungkap Odilia.

Menurutnya, memahami Indonesia menjadi penting sebelum mahasiswa internasional menjalani aktivitas yang lebih jauh di lingkungan akademik masing-masing.

“Kita akan mengetahui banyak hal tentang Indonesia, tentang tempat-tempat wisata dan budaya Indonesia. Indonesia memiliki banyak budaya dan banyak makanan. Jadi, kita harus mengetahui tentang itu sebelum mulai belajar di fakultas kita,” jelasnya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa proses adaptasi mahasiswa internasional tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berkomunikasi. Memahami lingkungan sosial dan budaya membantu mereka menjalani kehidupan sehari-hari sekaligus berinteraksi lebih baik dengan dosen, mahasiswa, dan masyarakat.

Odilia juga memiliki harapan yang lebih panjang setelah menyelesaikan pendidikannya di Indonesia. Ia ingin pengetahuan dan pengalaman selama berada di UB dapat dibawa kembali ke Timor-Leste.

“Kami memiliki harapan besar. Setelah datang ke Indonesia, kami bisa membawa pengetahuan dan pengalaman dari UB. Kemudian kita bisa membuat proyek bersama,” tuturnya.

Sebagai mahasiswa yang bergerak di bidang arsitektur, Odilia bahkan berharap pengalaman akademiknya dapat berkembang menjadi kerja sama antara UB dan negaranya.

“Saya berada di area arsitektur, jadi saya sangat ingin memiliki proyek besar antara UB dan negara saya, Timor-Leste,” katanya.

Keinginan tersebut menunjukkan potensi hubungan yang dapat tumbuh dari mobilitas mahasiswa internasional.

Pertemuan yang pada awalnya berlangsung melalui pendidikan dapat berkembang menjadi jejaring profesional, proyek bersama, maupun kolaborasi antarnegara setelah mahasiswa menyelesaikan studi.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *