Malanginspirasi.com – Tim 5 Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 Fakultas Bio Industri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya (FBiPK UB) memperkuat kapasitas petani di Distrik Klamono, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, melalui Pelatihan Dasar-Dasar Pembenihan Tanaman dan Pengendalian Hama Terpadu di Kampung Wariyau, Senin (14/9/2026).
Kegiatan ini sebagai bagian dari Program Transmigrasi Patriot Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia yang diikuti oleh 63 petani dari berbagai kelompok tani di Distrik Klamono.
Pelatihan dirancang tidak sekadar sebagai transfer pengetahuan teknis, tetapi sebagai bagian dari pendampingan menuju terbentuknya Bank Benih Komunitas Klamono–Segun serta penerapan Integrated Pest Management (IPM) untuk mendukung sistem pertanian yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Ekspedisi Patriot merupakan bagian dari Program Transmigrasi Patriot yang melibatkan perguruan tinggi untuk melakukan riset, kajian, dan pendampingan di kawasan transmigrasi.
Baca Juga:
Tim Kehutanan FBiPK UB Petakan Biodiversitas dan Potensi HHBK di Hutan Perlis Malaysia
Lewat program ini, pengetahuan akademik diharapkan dapat diterjemahkan menjadi solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dapat dikembangkan bersama pemerintah daerah maupun pemangku kepentingan di tingkat lokal.
Di kawasan Klamono–Segun, Tim 5 Ekspedisi Patriot FBiPK UB memfokuskan pendampingan pada konservasi plasma nutfah lokal, penguatan kapasitas petani, dan pembentukan bank benih komunitas.

Upaya tersebut dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk memperkuat kemampuan masyarakat dalam mengenali, mencatat, menyimpan, memperbanyak, dan memanfaatkan sumber benih secara lebih sistematis.
Pembenihan sebagai Fondasi Kemandirian Petani
Pelatihan menggabungkan pembelajaran di dalam kelas dengan praktik langsung di lapangan.
Peserta memperoleh materi mengenai jenis dan karakteristik benih, pemilihan sumber benih, serta teknik penyimpanan untuk mempertahankan mutu benih sebelum digunakan kembali pada musim tanam berikutnya.
Petani juga melakukan praktik ekstraksi benih, sehingga proses pembelajaran tidak berhenti pada pemahaman konsep.
Keterampilan tersebut penting dalam pengembangan bank benih komunitas karena petani perlu memahami proses penanganan benih sejak pemilihan tanaman sumber hingga penyimpanan.
Materi dasar pembenihan disampaikan oleh Farhan Nabil Furqon, S.P., M.P., alumnus Program Magister Pemuliaan Tanaman, Departemen Budidaya Pertanian.
Ia menjelaskan prinsip-prinsip dasar perbenihan, kualitas benih, serta penanganan dan penyimpanan benih sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian perbenihan di tingkat petani.
Sementara itu, Dr. Rina Rahmawati dari Departemen Hama dan Penyakit Tanaman memberikan materi mengenai Integrated Pest Management (IPM) atau Pengendalian Hama Terpadu.
Pendekatan tersebut menekankan bahwa pengelolaan hama tidak semata-mata dilakukan melalui penggunaan pestisida, melainkan berdasarkan pengamatan kondisi tanaman dan pengelolaan agroekosistem secara menyeluruh.
Kombinasi antara pembenihan dan IPM dipandang penting karena ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan benih, tetapi juga oleh kemampuan petani mempertahankan kesehatan tanaman dan produktivitas lahan secara berkelanjutan.
Petani Milenial Didorong Menjadi Agen Inovasi
Kepala Distrik Klamono, Octavianus Kolin, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan pelatihan dan tingginya keterlibatan masyarakat.
Ia secara khusus menyoroti keberadaan petani muda di Klamono yang dinilainya memiliki potensi besar untuk menjadi agen inovasi di tingkat lokal.
“Petani milenial yang ada di sini memiliki potensi untuk menjadi agen inovasi. Karena itu, kegiatan seperti ini perlu terus dilaksanakan secara berkelanjutan dengan melibatkan mereka secara aktif,” ujar Octavianus.
Keterlibatan generasi muda menjadi penting karena keberlanjutan inovasi pertanian tidak hanya bergantung pada tersedianya teknologi. Diperlukan aktor lokal yang mampu mempelajari, menyesuaikan, dan menyebarluaskan praktik-praktik baru kepada petani lainnya.
Persoalan Hama Dipelajari Langsung dari Lahan Petani
Pelatihan kemudian dilanjutkan dengan observasi di salah satu lahan pertanian milik Hauzin, petani setempat. Peserta mengamati kondisi tanaman, gejala serangan hama dan penyakit, serta lingkungan pertanaman secara langsung.
Hauzin menyampaikan bahwa serangan hama dan penyakit masih menjadi persoalan serius bagi petani, termasuk pada tanaman hortikultura seperti cabai. Penyemprotan pestisida telah dilakukan, namun dalam beberapa kondisi populasi hama masih bertahan dan berkembang.
Permasalahan yang dihadapi petani tersebut kemudian digunakan sebagai bahan pembelajaran dalam praktik IPM.
Menurut Dr. Rina Rahmawati, ketergantungan terhadap pestisida perlu dikurangi secara bertahap melalui pengelolaan lingkungan pertanian yang mampu mendukung keberadaan musuh alami hama.
“Kita perlu mulai menghidupkan kembali rantai makanan dan keseimbangan ekosistem di sekitar lahan. Dengan begitu, musuh alami hama dapat hadir dan membantu mengendalikan populasi hama sehingga aktivitas dan biaya penyemprotan kimia secara bertahap dapat dikurangi,” jelas Rina.
Melalui pendekatan IPM, pengendalian hama ditempatkan sebagai bagian dari pengelolaan agroekosistem. Pengamatan rutin, konservasi musuh alami, pengelolaan habitat, dan penggunaan pestisida secara lebih selektif menjadi bagian dari strategi untuk menjaga produktivitas sekaligus menekan risiko ekologis.
Bank Benih Komunitas sebagai Infrastruktur Pengetahuan
Ketua Tim 5 Ekspedisi Patriot 2026, Dr. Arif Yustian Maulana Noor, S.TP., M.Agr., menjelaskan bahwa pelatihan pembenihan merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan kemandirian petani Klamono.
Menurut Arif, kawasan tersebut memiliki banyak petani potensial yang dapat berkembang sebagai penggerak inovasi. Namun, kemampuan teknis mengenai perbenihan masih perlu diperkuat. Pada saat yang sama, sebagian benih yang digunakan petani masih berasal dari luar Papua.
“Di Klamono kita melihat banyak petani yang luar biasa dan berpotensi menjadi agen inovasi. Namun, pengetahuan mengenai perbenihan masih perlu terus diperkuat. Di sisi lain, masih banyak benih yang digunakan berasal dari luar Papua,” kata Arif.
Karena itu, Bank Benih Komunitas dirancang bukan sekadar sebagai tempat penyimpanan benih.
“Target kita bukan sekadar melaksanakan pelatihan. Kita ingin mendampingi petani agar secara bertahap mampu memilih, menghasilkan, menyimpan, mencatat, serta memanfaatkan benih mereka sendiri. Dari proses inilah kemandirian benih mulai kita bangun melalui Bank Benih Komunitas,” lanjutnya.
Bank benih komunitas nantinya dikembangkan bersama dengan database awal plasma nutfah lokal, buku stok dan kartu identitas benih, SOP konservasi dan pencatatan, peta sumber benih lokal, serta peningkatan kapasitas masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, bank benih tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas fisik, tetapi juga sebagai infrastruktur pengetahuan komunitas. Informasi mengenai asal benih, lokasi sumber, ketersediaan stok, pemanfaatan, dan status keberadaannya dapat terdokumentasi dan digunakan sebagai dasar pengelolaan sumber daya benih di tingkat lokal.
Transfer Pengetahuan Menuju Ketahanan Pangan
Rangkaian kegiatan di Kampung Wariyau ditutup dengan diskusi setelah peserta melakukan praktik ekstraksi benih serta observasi hama dan penyakit tanaman. Tim juga melaksanakan pre-test dan post-test untuk melihat perubahan pemahaman peserta setelah mengikuti pelatihan.
Bagi Tim Ekspedisi Patriot FBiPK UB, pendekatan berbasis praktik menjadi penting karena permasalahan pertanian bersifat kontekstual. Pengetahuan akademik perlu dipertemukan dengan pengalaman petani, kondisi agroekosistem setempat, dan sumber daya yang tersedia di masyarakat.
Kolaborasi antara Kementerian Transmigrasi, FBiPK Universitas Brawijaya, Pemerintah Distrik Klamono, kelompok tani, dan masyarakat diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi berkembang menjadi sistem yang dapat dikelola secara berkelanjutan oleh masyarakat.
Melalui Bank Benih Komunitas dan penerapan Integrated Pest Management, Ekspedisi Patriot FBiPK UB diarahkan pada tujuan yang lebih luas: memperkuat ketahanan pangan Papua Barat Daya melalui kemandirian benih #UniversitasBrawijaya_SDG2, konservasi plasma nutfah #UniversitasBrawijaya_SDG15, pengelolaan hama berbasis ekosistem, dan penguatan kapasitas petani sebagai aktor utama pembangunan pertanian berkelanjutan #UniversitasBrawijaya_SDG8.







