Mahasiswa FIB UB Belajar Budaya Lewat Cooking Class bersama IIMS Jepang

Pendidikan2 views

Malanginspirasi.com –  Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang, Departemen Pendidikan Bahasa, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB), diajak mengenal budaya Jepang melalui pengalaman langsung membuat makanan tradisional yakni Cooking Class with Okada Kumiko Sensei.

Giat ini berlangsung di Gedung B FIB UB, Minggu (13/9/2026), bekerja sama dengan International Institute of Multicultural Studies (IIMS) Jepang.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa tidak sekadar mengikuti demonstrasi memasak, tetapi terlibat langsung dalam proses pembuatan dōmyōji, salah satu jenis wagashi atau makanan manis tradisional Jepang, sekaligus menikmati teh Jepang.

Okada Kumiko hadir sebagai narasumber utama dan mendampingi mahasiswa sepanjang kegiatan. Melalui praktik langsung, peserta diajak mengenali bahan, proses pembuatan, tekstur, rasa, hingga cara penyajian makanan tradisional Jepang.

Pendekatan tersebut membuat pembelajaran budaya menjadi lebih konkret. Mahasiswa tidak hanya mengetahui nama dan karakteristik makanan tradisional Jepang, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai keterkaitannya dengan kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat Jepang.

Pada sesi utama, Okada memperkenalkan dōmyōji atau 道明寺(どうみょうじ), yang merupakan salah satu jenis wagashi tradisional Jepang. Wagashi sendiri merupakan kelompok makanan manis tradisional Jepang dengan bentuk, bahan, warna, dan penyajian yang beragam.

Dalam perkembangannya, wagashi juga memiliki kaitan erat dengan musim serta kebiasaan masyarakat Jepang dalam menikmati teh.

Okada Kumiko memberikan pengarahan dalam cooking class di FIB UB (Istimewa)

Mahasiswa kemudian mempelajari proses pembuatan dōmyōji yang menggunakan beras ketan sebagai salah satu bahan utama. Penggunaan bahan tersebut menghasilkan tekstur kenyal dengan butiran beras yang masih terasa.

Sementara pada bagian dalamnya terdapat anko, yakni pasta kacang merah manis. Dalam penyajian tertentu, dōmyōji juga dapat dibungkus menggunakan daun sakura yang telah diasinkan.

Pembelajaran berlangsung secara interaktif. Setelah mengamati teknik yang dicontohkan Okada, mahasiswa turut mempraktikkan proses menyiapkan isian, membentuk dōmyōji, hingga menata makanan yang telah selesai dibuat.

Pengalaman tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memahami aspek budaya yang sulit diperoleh hanya melalui materi tertulis. Mereka dapat mengenali tekstur bahan secara langsung, memperhatikan teknik pembentukan, sekaligus melihat bagaimana makanan tradisional dipersiapkan dan disajikan.

Usai membuat dōmyōji, kegiatan dilanjutkan dengan menyiapkan dan menikmati teh Jepang. Sesi ini menjadi bagian penting dari pembelajaran karena wagashi dan teh memiliki hubungan dalam tradisi penyajian makanan dan minuman di Jepang.

Rasa manis dari anko berpadu dengan karakter teh yang lebih ringan dan sedikit pahit. Perpaduan tersebut menciptakan keseimbangan rasa ketika keduanya dinikmati secara bersamaan.

Mahasiswa juga diajak memahami bahwa makanan tradisional tidak hanya berkaitan dengan bahan dan resep.

Cara makanan dipadukan dan disajikan dapat menggambarkan kebiasaan serta nilai budaya masyarakat yang mengembangkannya.

Baca Juga:

Prodi Seni Rupa Murni FIB UB Gelar BFAC 2026, Siswa SMA Ikuti Dengan Antusias

Dalam tradisi Jepang, hubungan antara makanan manis dan teh juga berkembang dalam konteks budaya minum teh. Wagashi kerap dipilih dengan mempertimbangkan musim maupun kesempatan penyajiannya. Karena itu, unsur visual dan rasa menjadi bagian dari pengalaman menikmati teh.

Bagi mahasiswa Pendidikan Bahasa Jepang FIB UB, kegiatan tersebut memberikan konteks yang lebih nyata terhadap berbagai istilah dan praktik budaya yang selama ini mereka pelajari dalam perkuliahan.

Pembelajaran seperti ini juga memperlihatkan bahwa kemampuan berbahasa tidak dapat dilepaskan dari pemahaman terhadap budaya. Mahasiswa tidak hanya dituntut menguasai kosakata, tata bahasa, membaca, menulis, menyimak, dan berbicara, tetapi juga memahami konteks sosial yang menyertai penggunaan bahasa ketika berkomunikasi dengan masyarakat dari latar budaya berbeda.

Melalui pembuatan wagashi, misalnya, mahasiswa sekaligus berhadapan dengan kosakata bahasa Jepang, bahan makanan, praktik keseharian, estetika, serta cara masyarakat Jepang memaknai penyajian makanan.

Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang FIB UB merancang kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat literasi budaya dan kompetensi antarbudaya mahasiswa.

Kolaborasi dengan IIMS Jepang juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk memperoleh pembelajaran berbasis pengalaman bersama praktisi asal Jepang.

Okada mengapresiasi antusiasme mahasiswa selama kegiatan berlangsung. Menurutnya, peserta menunjukkan ketertarikan dan mengikuti setiap penjelasan dengan sungguh-sungguh.

“Saya harap pengalaman mempelajari dan membuat wagashi dapat menjadi pintu masuk bagi mahasiswa untuk semakin tertarik mengenal Jepang, tidak hanya melalui bahasanya, tetapi juga melalui budaya, tradisi, dan kehidupan masyarakatnya,” ungkap Okada.

Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa makanan dapat menjadi salah satu medium untuk mengenal kebudayaan secara lebih dekat.

Di balik bahan, rasa, bentuk, dan cara penyajian, terdapat pengetahuan mengenai lingkungan, kebiasaan masyarakat, nilai estetika, serta cara berinteraksi yang berkembang dari generasi ke generasi.

Melalui cooking class, mahasiswa ditempatkan sebagai pelaku pembelajaran. Mereka tidak hanya mendengarkan penjelasan mengenai budaya Jepang, tetapi juga mengalami secara langsung sebagian praktik budaya tersebut.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *