Malanginspirasi.com – Guru Besar Departemen Biologi Fakultas Sains, Teknologi, and Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB), Prof. Amin Setyo Leksono, S.Si, M.Si, Ph.D memaparkan hasil penelitian yang dikembangkan bersama timnya mengenai inovasi pupuk organik cair (POC) dan pupuk hayati cair (PHC).
Menurutnya, kedua jenis pupuk ini dapat bersamaan dengan penggunaan pupuk organik padat seperti kompos, bahkan kadang juga dipakai beramaan dengan pupuk sistetik.
“Perbedaan antara POC dan PHC yang terletak pada komponen utama bahannya. POC berasal dari hasil penguraian bahan organik , misalnya berasal dari kompos, guano, limbah buah dan sayuran, sedangkan PHC berasal dari mikroorganisme hidup yang bermanfaat,” paparnya dalam forum diskusi santai bersama media bertajuk NGOPI SAM (Ngobrol dan Ngopi Santai Bersama Media), Jumat (11/9/2026) .
Dorong Pemanfaatan Pupuk Organik Cair
Lebih lanjut, ia menjelaskan fungsi utama POC menyediakan unsur hara/bahan organik dan mendukung kondisi tanah/tanaman.
Sedangkan PHC, paparnya, memanfaatkan aktivitas mikroba untuk meningkatkan ketersediaan atau pemanfaatan hara dan/atau mendukung kesehatan tanaman.
“POC memiliki peran penting dalam menyediakan unsur hara yang lebih mudah tersedia dan diserap bagi tanaman, sedangkan PHC membantu mempercepat proses penguraian bahan organic yang ada di tanah,” kata Prof Amin.
Dengan demikian, penggunaan pupuk organik cair dapat mendukung proses penyediaan nutrisi yang dibutuhkan tanaman dan meningkatkan efisiensi pemanfaatan bahan organik dalam sistem pertanian.

Kebutuhan terhadap pupuk organik, khususnya pupuk organik cair, masih cukup tinggi, termasuk di Jawa Timur.
Kondisi tersebut sejalan dengan semakin kuatnya dorongan menuju sistem pertanian yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Pemanfaatan pupuk organik menjadi salah satu strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap input sintetis sekaligus meningkatkan kualitas pengelolaan tanah dan tanaman.
Dibandingkan pupuk sintetis, pupuk organik cair memiliki sejumlah keunggulan. Selain dapat menjadi sumber unsur hara, formulasi pupuk organik cair relatif lebih fleksibel untuk dimodifikasi sesuai kebutuhan tanaman dan kondisi lahan.
Produk juga dapat dikembangkan dengan memanfaatkan bahan organik yang tersedia di lingkungan sehingga berpotensi mendukung prinsip ekonomi sirkular dan mengurangi limbah organik.
Keunggulan lainnya adalah peluang untuk mengombinasikan pupuk organik cair dengan mikroorganisme yang memiliki fungsi biologis tertentu.
Pendekatan tersebut memungkinkan pengembangan produk yang tidak hanya berfungsi sebagai penyedia nutrisi, tetapi juga memiliki fungsi pendukung dalam pengelolaan organisme pengganggu tanaman.
Agen Hayati Sebagai Pengayaan Pupuk Organik Cair
Salah satu inovasi yang dikembangkan Prof. Amin adalah pengayaan pupuk organik cair dengan agen hayati. Dalam pengembangannya, tim memanfaatkan mikroorganisme seperti Beauveria bassiana dan Streptomyces sp. sebagai bagian dari formulasi teknologi hayati.
Beauveria bassiana dikenal sebagai salah satu cendawan entomopatogen yang dapat menginfeksi berbagai jenis serangga hama.
Sementara itu, kelompok Streptomyces memiliki potensi besar dalam pengembangan teknologi pengendalian hayati karena sejumlah spesiesnya menghasilkan senyawa bioaktif dan memiliki aktivitas antagonistik terhadap organisme tertentu.
Penggabungan komponen organik dengan agen hayati tersebut menjadi salah satu pendekatan untuk menghasilkan input pertanian yang lebih terintegrasi.
Teknologi ini diharapkan dapat mendukung pengelolaan tanaman secara lebih ramah lingkungan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan bahan kimia sintetis secara berlebihan.
Dari Laboratorium Menuju Industri, Hilirisasi Hasil Penelitian
Tidak berhenti pada tahap penelitian, inovasi pupuk organik cair yang dikembangkan Prof. Amin juga diarahkan pada hilirisasi hasil penelitian. Untuk mewujudkan pemanfaatan teknologi dalam skala yang lebih luas,
Prof. Amin dan tim menjalin kemitraan dengan dunia industri, salah satunya PT SHIMA di Tulungagung, untuk mengembangkan dan memproduksi pupuk organik cair dalam skala industri.
Kemitraan antara perguruan tinggi dan industri tersebut menjadi bagian penting dalam proses transformasi hasil penelitian menjadi produk yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan pengetahuan dan publikasi ilmiah, tetapi juga dituntut mampu mendorong agar hasil penelitian memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan dunia usaha.
Bagi petani, hilirisasi inovasi ini diharapkan dapat menyediakan alternatif input pertanian yang lebih terjangkau dan sesuai dengan kebutuhan budidaya.
Pemanfaatan bahan organik juga berpotensi mengurangi limbah yang berpotensi mencemari lingkungan sekaligus mendukung peningkatan produktivitas pertanian.
Sementara bagi Universitas Brawijaya, pengembangan produk tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat reputasi perguruan tinggi melalui hilirisasi hasil riset.
Kerja sama dengan industri juga membuka peluang pemanfaatan kekayaan intelektual dan paten hasil penelitian sehingga memberikan nilai tambah secara akademik maupun ekonomi.
Adapun bagi mitra industri, kerja sama dengan perguruan tinggi memberikan peluang untuk menghasilkan produk berbasis penelitian dengan mutu dan teknologi yang lebih terjamin.
Produk yang telah dikembangkan melalui proses penelitian dan pengujian tersebut selanjutnya dapat diproduksi dan dipasarkan kepada masyarakat secara lebih luas.
Nanomaterial Vermikompos Sebagai Rencana Jangka Panjang
Rencananya, Prof. Amin akan mengembangkan inovasi pupuk organik cair berbasis nanomaterial vermikompos.
Vermikompos merupakan produk pengolahan bahan organik dengan bantuan cacing yang menghasilkan material kaya bahan organik dan unsur hara.
Pengembangan menuju material berukuran lebih kecil diharapkan dapat meningkatkan karakteristik dan ketersediaan komponen tertentu sehingga lebih mudah dimanfaatkan dalam formulasi pupuk.
Konsep tersebut menjadi salah satu arah pengembangan teknologi pupuk yang mengintegrasikan prinsip bioteknologi, nanoteknologi, dan pertanian berkelanjutan.
Menurut Prof. Amin, pengembangan teknologi tersebut diharapkan dapat menghasilkan pupuk dengan karakteristik yang lebih sesuai untuk mendukung efisiensi pemanfaatan unsur hara oleh tanaman.
Inovasi ini sekaligus menunjukkan bahwa penelitian di perguruan tinggi dapat terus dikembangkan dari skala laboratorium menuju teknologi yang memiliki potensi penerapan lebih luas.







