Malanginspirasi.com – Indrokilo mungkin terdengar asing bagi sebagian anak muda Malang saat ini, tetapi bagi para seniman tahun 1970–1980 an, tempat ini adalah rumah kreativitas.
Bambang Sarasno, merupakan pendiri dari Yayasan Seni Budaya Indrokilo, menyampaikan bahwa semuanya bermula dari Lembaga Kesenian Indrokilo (LKI) yang berdiri di kawasan bekas rawa di Indrokilo.
“Indrokilo itu sebuah kawasan kosong tempat bekas rawa, di situ kita mendirikan Lembaga Kesenian Indrokilo,” kenangnya.
Dari ruang sederhana itu, lahirlah komunitas seni yang terbuka untuk siapa saja.
Pada awalnya, LKI menjadi tempat belajar dan berkreasi lintas disiplin. Seniman dari berbagai bidang berkumpul, mencoba hal baru, dan berbagi pengalaman.
“Disini semua seniman berkumpul untuk berbagi pengalamannya dan saling bertukar pikiran” ujarnya.
Ia menambahkan rancangan pembentukan yayasan ini sudah direncanakan semenjak tahun 1974.
“Rintisannya sudah sekitar tahun 1974-an, sempat berkiprah sampai tahun 1989,” tambah Sarasno.
Ruang Kreatif
Di sana, seni rupa berkembang pesat lewat eksperimen seperti dress painting, fashion show batik, hingga lomba melukis di Taman Indrokilo.
Semua kegiatan dilakukan dengan tujuan memperluas cara pandang dan ruang berekspresi.
Aktivitas-aktivitas disana juga mengalir ke musik. Indrokilo jadi ruang latihan dan pendidikan musik yang melahirkan berbagai kelompok, mulai dari orkes kamar hingga ensambel kontemporer.

Atmosfer seperti ini tumbuh karena setiap orang bebas mencoba.
“Dulu itu lintas disiplin, semua bisa kumpul, bahkan yang berkecimpung dalam dunia musik juga kumpul, bisa serawung untuk memperluas pola pikir,” kata Sarasno.
Musik tidak berdiri sendiri, tetapi berjalan bersama rupa, pertunjukan, dan kegiatan komunitas lainnya.
Seni pertunjukan pun mendapatkan tempat penting. Sejak 1980 an, Indrokilo dikenal dengan pementasan yang menggabungkan teater, tari, suara, dan teknologi.
Acara seperti MultiMedia dan METAMORPHOSA menjadi bukti keberanian Indrokilo untuk bereksperimen.
Indrokilo Bangkit
Setelah sempat vakum, titik balik datang pada tahun 2024. Sarasno yang saat itu tinggal di Jakarta tiba-tiba menulis status sederhana, ‘Akhirnya saya boleh pensiun. Saya ingin kembali ke habitat.’
Tidak disangka, status itu menggerakkan para alumni LKI untuk menghubunginya.
“Di-DM, di-telepon, kita ngumpul di Malang untuk nostalgia biasa lah,” ceritanya.
Dari pertemuan sederhana itu, muncul keinginan untuk kembali berkontribusi bagi kota Malang.
Keinginan tersebut kemudian melahirkan Yayasan Seni Budaya Indrokilo (SBI). Meski para penggagasnya kini tidak lagi muda, semangatnya tetap sama yaknj membangun ruang seni yang inklusif.
Artikel Terkait:
Pameran Instalasi Lukisan Batik Bertema Zodiak di UB, Sosok Perempuan Jadi Sumber Inspirasi
“Kita ini sudah tua-tua semua, langkahnya sudah nggak seperti dulu. Makanya kita mendirikan lagi Yayasan Seni Budaya Indrokilo,” imbuh Sarasno.
Yayasan ini kemudian aktif membuat workshop budaya, batik, tari, diskusi, hingga kegiatan sosial dan edukatif yang menyatukan masyarakat.
Namun Sarasno mengakui bahwa ekosistem seni Malang saat ini tidak seperti dulu.
“Saya melihat kok kembali segmented, tiap bidang seni hanya kumpul dengan kelompoknya sendiri,” tuturnya.
Ia menilai kurangnya wadah lintas disiplin membuat seniman sulit bertemu dan bekerja sama.
Ia juga menyayangkan minimnya sekolah seni di kota yang sebenarnya kaya potensi.
“Sayang sekali Malang kota seni tidak ada sekolah seni, banyak hal saya lihat kontraproduktif,” tambahnya.
Meski begitu, harapannya tetap besar. Ia ingin ekosistem seni Malang kembali terbuka, saling mendukung, dan bebas dari prasangka.
“Semua itu saling melengkapi, semua saling berkontribusi, ini jadi ruang untuk menghubungkan seniman, pemerintah, pengusaha dan masyarakat” tutupnya.








