Malanginspirasi.com – Federasi Sepak Bola Meksiko (FMF) secara resmi meluncurkan kampanye “La Ola Sí, El Grito No” (Gelombang Ya, Teriakan Tidak), Kamis (21/5/2026) waktu setempat. Kampanye ini bertujuan mengeliminasi teriakan slogan homofobia yang kerap dilontarkan suporter saat pertandingan Timnas Meksiko menjelang Piala Dunia FIFA 2026.
Kampanye ini menyasar kebiasaan suporter yang meneriakkan kata “¡Puto!” kepada kiper lawan saat hendak melakukan tendangan bebas atau tendangan gawang. Kata tersebut dianggap memiliki konotasi homofobia yang kuat dan telah berulang kali mendatangkan sanksi dari FIFA kepada FMF.
Melalui kampanye ini, FMF mengajak suporter mengganti teriakan diskriminatif tersebut dengan “La Ola” (gelombang manusia di tribun) sebagai bentuk dukungan positif kepada tim nasional El Tri. Kampanye melibatkan sejumlah legenda sepak bola Meksiko seperti Hugo Sánchez dan Javier Aguirre yang pernah berlaga di Piala Dunia 1986. Mereka termasuk sosok-sosok ikonik yang turut mempopulerkan “La Ola” saat itu.
Kampanye ini bertujuan untuk mengubah cara suporter menyalurkan semangat mereka, sehingga tribun benar-benar menjadi pemain ke-12 yang positif,” demikian pernyataan resmi FMF.
Baca Juga:
Pengusaha Hotel di AS Khawatirkan Okupansi Rendah Jelang Piala Dunia 2026
Ancaman Panas Ekstrem di AS, FIFA Siapkan Protokol Kesehatan Khusus
Terancam Sanksi Berat
Teriakan “¡Puto!” telah menjadi masalah lama yang kerap menimbulkan denda dan sanksi bagi Meksiko. Meski sudah beberapa kali meluncurkan kampanye serupa, praktik tersebut masih muncul. Terutama dalam beberapa bulan terakhir menjelang turnamen sepak bola terbesar di dunia.
Sebagai salah satu tuan rumah bersama Amerika Serikat dan Kanada, Meksiko berisiko mendapat sanksi berat dari FIFA jika teriakan homofobia kembali terdengar selama Piala Dunia 2026 yang akan dimulai pada 11 Juni 2026.
Sanksi tersebut dapat berupa denda jutaan dolar hingga larangan suporter hadir di stadion.
Kampanye “La Ola Sí, El Grito No” menjadi upaya terbaru dan paling masif FMF menjelang pesta bola dunia, dengan promosi intensif melalui media sosial, televisi, dan stadion.
Upaya ini mendapat sambutan beragam. Aktivis hak LGBTQ+ menyambut positif langkah FMF, meski sebagian masih skeptis melihat kegagalan kampanye serupa di masa lalu.
Sebaliknya, sebagian suporter tradisional menganggap teriakan tersebut sebagai bagian dari budaya suporter yang sulit dihilangkan.







