Malanginspirasi.com – Meski baru berdiri pada 8 Agustus 2025, Melati Hospital Satsuitubun telah memantapkan langkah untuk menyiapkan kerja sama bersama BPJS Kesehatan.
Sehingga layanan rumah sakit ini bisa menjangkau masyarakat lebih luas lagi.
Sehingga Melati Hospital Satsuitubun ini akan menjadi rumah sakit yang tidak hanya berfokus pada pelayanan yang ramah, tetapi juga memiliki fungsi sosial yang kuat.
Langkah Bersama BPJS
Dr. Yusufa Ibnu Sina Setiawan, M.H., Direktur RSIA Melati Husada, mengatakan bahwa pihaknya tengah berproses untuk memenuhi persyaratan akreditasi.
Merupakan syarat sebelum dapat mengajukan kerja sama resmi dengan BPJS.
“Kami ingin bisa menjangkau lebih luas lagi akses kesehatan bagi semua kalangan. Meskipun BPJS di kami masih dalam tahap proses, kami pastikan pasien BPJS tidak akan kami tolak, pasti akan kami bantu,” ungkapnya.
Menurut Dr. Yusufa, tahap menuju kerja sama tersebut membutuhkan waktu sekitar 1-2 tahun.
Dikarena rumah sakit harus lebih dulu beroperasi minimal 3 bulan dan mengumpulkan laporan mutu pelayanan sebelum tahap akreditasi.

“Akreditasi itu nanti harus ada laporan yang jumlah pasien mutu minimal selama 3 bulan. Jadi rumah sakit harus operasional minimal 3 bulan dahulu. Biasanya prosesnya 1-2 tahun untuk mengajukan itu. Kita akreditasi terlebih dahulu kemudian kita maju ke BPJS. Ini juga kembali ke kepala BPJS dan perangkatnya,” ujarnya.
Di luar proses administratif, Melati Hospital Satsuitubun telah menyiapkan berbagai langkah untuk memastikan masyarakat mendapatkan kemudahan layanan kesehatan.
Perluas Jangkauan Layanan
Salah satunya melalui penyediaan shuttle service, yakni layanan penjemputan dan pengantaran untuk para pasien.
Terutama bagi perusahaan yang menjadi mitra rumah sakit serta menawarkan harga khusus untuk warga Kebon Sari.
Berlokasi strategis di perbatasan Kota dan Kabupaten Malang, Melati Hospital Satsuitubun diharapkan dapat menjangkau pasien tidak hanya dari Malang saja.
Tetapi juga sekitarnya seperti Malang Selatan, Blitar, Tulungagung, dan daerah sekitar lainnya.
“Jadi harapan kami tidak hanya masyarakat Malang tetapi warga sekitar juga mendapatkan dampak. Intinya adalah bagaimana kita memberikan kemudahan akses bagi semua warga di sekitar rumah sakit dan warga kota Malang,” tuturnya.
Dengan berbagai langkah tersebut, Melati Hospital Satsuitubun ingin membangun kepercayaan untuk masyarakat sebagai rumah sakit yang memprioritaskan kebutuhan pasien.
Bagi Dr. Yusufa, pelayanan kesehatan bukanlah hanya sekedar fasilitas, melainkan soal empati dan fungsi sosial.
Ia berharap komitmen ini menjadi landasan Melati Hospital sebagai rumah sakit pilihan masyarakat yang mengutamakan akses dan kepedulian.








