Malanginspirasi.com – Setiap orang tua tentu ingin melindungi anaknya dari bahaya. Namun ketika kekhawatiran itu berubah menjadi kontrol berlebihan atas setiap langkah anak, dampaknya bisa jauh dari niat baik semula.
Fenomena ini dikenal sebagai overprotective parenting, sebuah pola asuh yang membatasi ruang gerak, keputusan, bahkan kesalahan yang seharusnya menjadi bagian alami dari proses tumbuh kembang anak.
Sikap overprotective orang tua itu sering kali muncul dalam kalimat-kalimat yang lazim kita dengar. Seperti:
“Kamu di rumah saja, di luar itu bahaya.”
“Biar Mama/Papa saja yang urus, kamu belum tahu apa-apa.”
“Jangan coba-coba, nanti kalau gagal gimana?”
“Awas jangan dekat-dekat sama dia, nanti kamu ikut-ikutan.”
“Kamu itu belum siap, tunggu sampai lebih besar.”
“Semua ini kan demi kamu, kenapa malah ngeyel?”
Pelarangan-pelarangan semacam inilah yang justru menghambat perkembangan anak secara alamiah.
Dr. Diana Setiyawati, M.HSc.Psy., seorang psikolog anak dari Universitas Gajah Mada (UGM) menjelaskan bahwa pola pengasuhan yang sehat dalam keluarga seyogyanya menghindari sikap otoriter yang memiliki aturan dan harapan yang kaku, terlalu banyak mengekang, dan kontrol berlebihan.
Lebih penting lagi, Diana menjelaskan bahwa pengasuhan sehat membutuhkan dukungan/kedekatan dan kontrol yang fleksibel, dan ia menempatkan authoritative parenting sebagai gaya yang ideal.
Orang tua yang terlalu protektif, cenderung mengambil alih setiap keputusan, mulai dari hal kecil seperti memilih baju, hingga hal besar seperti memilih jurusan kuliah atau pergaulan. Sehingga perilaku yang dapat terlihat pada anak antara lain mudah terlibat konflik, mudah tersinggung, rentan terhadap stres, emosi tidak stabil, dan sulit mengambil keputusan
Akibatnya, anak tumbuh tanpa kesempatan mengasah kemampuan pemecahan masalah secara mandiri.
Baca Juga:
Akademisi UB Soroti Child Grooming sebagai Masalah Sosial dan Psikologis
5 Ucapan Sepele dari Orang Tua yang Bisa Melukai Hati Anak
Dampak Buruk yang Sering Luput dari Perhatian
Beberapa dampak negatif yang paling umum ditemui pada anak dengan pola asuh orang tua yang bersikap overprotective antara lain:
1. Kurang percaya diri dan mudah cemas
Anak yang terbiasa dikendalikan cenderung tumbuh dengan keraguan terhadap kemampuannya sendiri, karena jarang diberi kesempatan membuktikan diri.
2. Sulit mengambil keputusan
Karena terbiasa “disuapi” solusi, anak kesulitan menentukan pilihan sendiri saat dihadapkan pada situasi baru tanpa arahan orang tua.
3. Ketergantungan emosional yang tinggi
Anak menjadi sangat bergantung pada validasi dan kehadiran orang tua, sehingga kesulitan membangun hubungan sosial yang sehat dan setara.
4. Kesulitan mengelola kegagalan
Karena jarang mengalami kegagalan kecil sejak dini, anak cenderung shock atau frustrasi berlebihan saat menghadapi kegagalan di usia dewasa.
Bisa Terbawa Hingga Dewasa
Sejumlah studi menemukan adanya hubungan antara pola asuh yang terlalu protektif dengan kecemasan dan berbagai masalah pada anak yang telah memasuki usia lebih dewasa.
Pola-pola yang kerap muncul di antaranya:
- Kesulitan menjalin hubungan yang sehat, karena terbiasa bergantung pada figur otoritas sejak kecil.
- Kecenderungan perfeksionis berlebihan atau justru sebaliknya, takut mencoba hal baru karena trauma dikontrol ketat.
- Kesulitan mandiri secara finansial maupun emosional, sering disebut fenomena “anak dewasa yang belum benar-benar dewasa”.
- Munculnya kecemasan kronis dalam menghadapi situasi yang menuntut pengambilan keputusan cepat dan mandiri.
Meski begitu, dampak ini tidak bersifat mutlak. Faktor lingkungan, hubungan sosial di luar keluarga, serta kesadaran diri seseorang saat dewasa dapat membantu memutus pola tersebut. Intervensi yang melibatkan orang tua dapat membantu mengurangi gejala kecemasan pada anak. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada pendekatan dan kondisi masing-masing anak.

Hal ini diperkuat dengan studi yang dilakukan tiga peneliti dari Universitas Bosowa, Annisa Noradtasya Rachim, Andi Muhammad Aditya, dan Tarmizi Thalib.
Dalam studi yang dipublikasikan dengan judul “Perilaku Overprotective Orang Tua dan Penyesuaian Diri Siswa SMA” (2024), ditemukan adanya hubungan signifikan antara overprotective parenting dan penyesuaian diri siswa.
Studi tersebut melibatkan 376 siswa SMA di Kota Makassar.
Menemukan Keseimbangan
Para ahli menyarankan agar orang tua mengedepankan pendekatan yang disebut protective but not overprotective alias melindungi anak tetapi tidak sampai kebangeten.
Orang tua tetap wajib hadir dan mengawasi, namun tetap memberi ruang bagi anak untuk mengambil risiko yang wajar sesuai usianya. Dengan begitu, anak tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, mandiri, dan tetap merasa dicintai tanpa harus kehilangan kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri.








