Malanginspirasi.com – Data terbaru Kementerian Kesehatan periode 2025–2026 menyodorkan kenyataan yang sulit kita abaikan. Dari sekitar tujuh juta anak yang menjalani skrining, hampir 10 persen menunjukkan indikasi masalah kesehatan jiwa. Sekitar 338 ribu anak menunjukkan gejala kecemasan, dan 363 ribu lainnya mengarah pada depresi.
Angka ini memang bukan diagnosis klinis final. Namun, pesannya terlalu gamblang untuk diabaikan. Ada ratusan ribu anak di sekitar kita yang sedang tumbuh dalam kepungan beban psikologis yang sangat berat.
Ini adalah paradoks dalam kehidupan kita hari ini. Kita hidup di era paling terkoneksi dalam sejarah manusia. Telepon pintar menempel di jemari sepanjang hari, grup percakapan berdering tanpa henti, dan algoritma media sosial membuat kita tahu apa yang dilakukan tetangga sebelum kita sempat menyapa. Namun, di tengah masyarakat yang super-terkoneksi ini, manusia justru semakin merasa sendirian.
Ketika Kita Terlalu Sibuk Memperbaiki Individu
Selama bertahun-tahun, pembicaraan mengenai kesehatan mental banyak berpusat pada individu. Mengapa seseorang mengalami depresi? Mengapa seseorang mudah cemas? Mengapa seorang anak tidak percaya diri? Mengapa seseorang tidak mampu menghadapi tekanan? Pertanyaan seperti itu penting. Psikologi kemudian mengembangkan banyak konsep yang sangat berguna: coping, resiliensi, regulasi emosi, optimisme, harga diri, dan kebermaknaan hidup. Psikolog dan psikiater juga mempunyai peran yang tidak tergantikan. Ketika seseorang mengalami gangguan psikologis, bantuan profesional dapat sangat menentukan.
Tetapi ada persoalan jika seluruh masalah kesehatan mental akhirnya diletakkan pada individu. Bayangkan seseorang hidup dalam keluarga yang penuh kekerasan. Sekolah yang sarat perundungan. Tempat kerja yang eksploitatif. Lingkungan yang tidak aman. Komunitas yang diskriminatif. Masa depan ekonomi yang tidak pasti. Lalu kepadanya kita mengatakan: Anda harus lebih resilien. Ada sesuatu yang keliru di sini. Kita meminta manusia terus-menerus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang mungkin justru sedang membuatnya sakit.
Karena itu, pertanyaan tentang kesehatan mental perlu diperluas. Bukan hanya: “Bagaimana membuat individu lebih kuat?” Tetapi juga “Bagaimana membuat lingkungan tidak terus-menerus melukai manusia?” Di sinilah kesehatan mental harus mulai dilihat sebagai persoalan ekosistem.
Kesehatan Mental Lahir dari Ekosistem
Manusia tidak pernah hidup dalam ruang kosong. Kita lahir dalam keluarga. Tumbuh dalam kebudayaan. Bersekolah. Bekerja. Bertetangga. Bergabung dalam komunitas. Memeluk agama. Berinteraksi dengan teknologi. Hidup di bawah sistem ekonomi dan kebijakan negara. Semua lingkungan itu ikut masuk ke dalam kehidupan psikologis kita.
Karena itu kesehatan mental bukan semata-mata sesuatu yang tersimpan di dalam kepala seseorang. Ia muncul dari perjumpaan antara manusia dan dunia sosialnya. Secara konseptual ini dikenal sebagai community mental health ecosystem, yang memandang kesehatan mental muncul dari interaksi dinamis antara sumber daya psikologis, relasional, budaya, spiritual, komunitas, institusional, dan struktural.
Artinya, keluarga, sekolah, tempat kerja, kampung, budaya, bahkan kebijakan publik dapat menjadi sumber kesehatan mental. Sebaliknya, semuanya juga dapat menjadi sumber penderitaan psikologis. Pertanyaannya kemudian bukan hanya apakah masyarakat mempunyai cukup psikolog dan psikiater. Pertanyaan yang lebih besar adalah apakah kita mempunyai masyarakat yang memungkinkan manusia hidup secara sehat secara psikologis?
Agama Jangan Berhenti di Mimbar
Indonesia mempunyai modal sosial yang sangat besar: agama. Masjid, gereja, pura, vihara, pesantren, sekolah keagamaan, majelis taklim, dan organisasi keagamaan hadir sampai ke lapisan masyarakat paling bawah. Tetapi kita perlu memahami hubungan agama dan kesehatan mental secara lebih dewasa. Tidak cukup mengatakan bahwa orang yang religius pasti sehat mental.
Kenyataannya jauh lebih kompleks. Agama menjadi sumber kesehatan mental ketika nilai-nilainya berubah menjadi pengalaman psikologis dan sosial yang nyata. Transformasinya melalui kebermaknaan hidup, pengaturan diri, hubungan penuh kasih, tindakan yang bertujuan, keterhubungan sosial, hingga kemampuan masyarakat bertindak bersama.
Sabar, misalnya, bukan sekadar kata yang diucapkan. Ia dapat menjadi kemampuan mengelola emosi ketika kehidupan tidak berjalan sesuai harapan. Syukur bukan sekadar ungkapan verbal. Ia dapat menjadi cara melihat kehidupan sehingga manusia tidak sepenuhnya dikendalikan oleh kekurangan. Sedekah bukan hanya ibadah individual. Ia menciptakan hubungan antara mereka yang mempunyai sumber daya dan mereka yang membutuhkan. Silaturahmi bukan sekadar tradisi. Ia dapat menjadi jaringan sosial yang membuat seseorang merasa bahwa dirinya mempunyai tempat untuk kembali ketika mengalami kesulitan.
Dalam bahasa sederhana, agama mempunyai kekuatan psikologis ketika nilai berubah menjadi perilaku, dan perilaku berubah menjadi hubungan sosial. Di sinilah masjid, pesantren, gereja, dan organisasi keagamaan mempunyai peluang besar. Disitu bukan hanya tempat mengajarkan bagaimana manusia berhubungan dengan Tuhan. Tetapi juga dapat menjadi tempat manusia belajar memperlakukan manusia lainnya.
Namun Beragama Juga Harus Bercermin
Kita juga tidak boleh romantis. Beragama tidak otomatis menyehatkan. Agama bisa kehilangan fungsi psikososialnya ketika melahirkan eksklusi, stigma, pemaksaan, ketakutan, permusuhan antarkelompok, relasi otoriter, dan diskriminasi sosial. Kondisi seperti ini sulit menjadi sumber kesehatan mental.
Bisa jadi orang yang mengalami depresi tidak selalu membutuhkan ceramah lebih panjang. Kadang ia membutuhkan seseorang yang mau duduk bersamanya. Mendengarkan. Tidak menghakimi. Dan bila diperlukan, membantunya memperoleh pertolongan profesional.
Agama yang menjadi sumber kesehatan mental bukan agama yang menambah rapuh orang yang sedang menderita. Agama justru seharusnya membuat seseorang yang sedang rapuh merasa tetap mempunyai martabat.
Budaya Juga Bisa Menyembuhkan
Indonesia sebenarnya memiliki modal budaya yang luar biasa. Gotong royong. Musyawarah. Menjenguk orang sakit. Membantu tetangga. Kenduri. Tradisi berkumpul. Keluarga besar. Solidaritas kampung. Sering kali kita menganggap semua itu sekadar tradisi. Padahal dari perspektif psikologi komunitas, praktik tersebut dapat menjadi infrastruktur kesehatan mental. Mengapa? Karena manusia membutuhkan lebih dari sekadar makanan dan tempat tinggal. Manusia membutuhkan perasaan diterima. Dibutuhkan. Dipercaya. Dihargai. Dan merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Tetapi modernisasi dapat menggerus sebagian ruang itu. Kita membangun semakin banyak perumahan, tetapi belum tentu membangun komunitas. Kita membangun semakin banyak pusat perbelanjaan, tetapi belum tentu menciptakan ruang perjumpaan.
Kita mempunyai puluhan grup WhatsApp, tetapi belum tentu mempunyai cukup banyak orang yang dapat kita datangi ketika sedang putus asa. Masyarakat digital memberi kita konektivitas. Tetapi kesehatan mental membutuhkan keterhubungan. Keduanya tidak sama.
Dari Belas Kasih Pribadi ke Institusi yang Berbelas Kasih
Ada langkah berikutnya yang lebih besar. Kebaikan tidak cukup bergantung pada orang baik. Ia harus masuk ke dalam sistem. Sekolah yang peduli kesehatan mental tidak dapat hanya bergantung pada satu guru yang kebetulan perhatian. Ia membutuhkan sistem yang mencegah perundungan, menyediakan ruang aman untuk berbicara, mendeteksi masalah lebih awal, dan menghubungkan anak dengan bantuan ketika diperlukan.
Perusahaan juga demikian. Tidak cukup memasang poster work-life balance jika budaya kerjanya membuat manusia kelelahan tanpa henti. Rumah sakit, kampus, pemerintah daerah, organisasi sosial, dan organisasi keagamaan perlu bergerak dari belas kasih individual menuju belas kasih institusional. Artinya, kepedulian diterjemahkan menjadi aturan, pelayanan, anggaran, program, dan mekanisme perlindungan. Itulah yang disebut institutional compassion: nilai moral tidak berhenti sebagai nasihat, tetapi menjelma menjadi struktur sosial yang melindungi manusia.
Kita Tidak Hanya Membutuhkan Orang yang Tangguh
Selama ini kita sangat menyukai kata resiliensi. Kita ingin anak-anak tangguh. Guru tangguh. Pekerja tangguh. Keluarga tangguh. Masyarakat tangguh. Tidak ada yang salah dengan itu. Tetapi jangan sampai gagasan tentang ketangguhan membuat kita lupa memperbaiki sumber penderitaan.
Jika anak terus dirundung, jangan hanya mengajari anak menjadi resilien. Hentikan perundungannya. Jika pekerja mengalami kelelahan karena sistem kerja yang buruk, jangan hanya memberinya pelatihan manajemen stres. Perbaiki sistem kerjanya. Jika keluarga miskin terus hidup dalam ketidakpastian, jangan hanya mengajari mereka berpikir positif. Perkuat perlindungan sosialnya. Jika seseorang kesepian, jangan hanya menyuruhnya menjadi lebih percaya diri. Bangun ruang sosial tempat manusia dapat saling menemukan.
Maka pertanyaan tentang kesehatan mental perlu berubah. Bukan lagi hanya: “Bagaimana membuat seseorang cukup kuat untuk bertahan dalam lingkungan yang sulit?” Tetapi, “Bagaimana kita mengubah lingkungan agar manusia tidak harus menghadapi kesulitan sendirian?” Itulah pergeseran penting dari resiliensi individual menuju tanggung jawab kolektif.
Kesehatan Mental adalah Proyek Sosial
Karena itu, masa depan kesehatan mental Indonesia tidak cukup dibangun dengan menambah ruang konsultasi. Kita tentu membutuhkan lebih banyak psikolog. Lebih banyak psikiater. Lebih banyak konselor. Dan layanan yang semakin mudah dijangkau.
Tetapi itu baru sebagian pekerjaan. Kita juga membutuhkan keluarga yang lebih hangat. Sekolah yang tidak mempermalukan anak. Tempat kerja yang memanusiakan pekerja. Ruang digital yang tidak menjadikan penghinaan sebagai hiburan. Komunitas yang tidak membiarkan anggotanya sendirian. Budaya yang memelihara gotong royong. Agama yang menghadirkan kasih sayang. Institusi yang menjaga martabat manusia. Dan negara yang memahami bahwa kebijakan ekonomi, pendidikan, perumahan, pekerjaan, perlindungan sosial, ruang publik, dan teknologi pada akhirnya juga merupakan kebijakan kesehatan mental.
Karena kesehatan mental tidak hanya diproduksi di ruang terapi. Ia juga diproduksi di meja makan keluarga. Di ruang kelas. Di kantor. Di masjid dan rumah ibadah. Di kampung. Di layar telepon genggam. Dan dalam cara sebuah negara memperlakukan warganya.
Dari Bertahan Hidup Menuju Bertumbuh Bersama
Pada akhirnya, tujuan kesehatan mental seharusnya lebih besar daripada sekadar menurunkan jumlah orang yang mengalami gangguan psikologis. Kita perlu berbicara tentang masyarakat yang memungkinkan manusia bertumbuh dan berkembang bersama. Dalam psikologi, gagasan ini dekat dengan istilah flourishing.
Tetapi kita perlu melangkah lebih jauh yaitu collective flourishing. Bukan hanya beberapa orang yang berhasil hidup bahagia di tengah masyarakat yang tidak sehat. Melainkan masyarakat yang menyediakan kesempatan yang wajar bagi sebanyak mungkin orang untuk hidup bermakna, mempunyai hubungan yang baik, merasa dihargai, mempunyai kendali atas kehidupannya, serta memiliki harapan terhadap masa depan. Tujuan akhirnya bukan sekadar individu yang sehat, melainkan komunitas yang menciptakan kondisi agar banyak orang dapat berkembang.
Di sinilah cara kita memandang kesehatan mental harus berubah. Kesehatan mental bukan hanya urusan orang yang sedang mengalami gangguan. Bukan hanya urusan psikolog. Bukan hanya urusan psikiater. Bukan pula semata-mata urusan Kementerian Kesehatan.
Dan mungkin, pertanyaan terpenting bagi Indonesia hari ini bukan lagi sekadar, “Berapa banyak orang yang mengalami masalah kesehatan mental?” Pertanyaan yang lebih mendasar adalah “sudahkah kita membangun masyarakat yang membuat manusia lebih mungkin untuk tetap sehat secara mental?”
Masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat yang memaksa setiap orang menjadi kuat sendirian. Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang membuat manusia tidak perlu menghadapi kehidupan sendirian.
*) tulisan ini sebagai refleksi menyambut bulan kesehatan mental sedunia; Oktober 2026 & meramaikan perhelatan International Conferences on Mental Health and Intercultural Communities (ICONIC#1), 9-11 September 2026, di Prodi Doktor Psikologi UMM.







