Pandemi Covid-19 Membawa Berkah, Tri Wahyuni Kembangkan Keripik Pisang 3 Krezz Bersama Dukungan Kopmen SBW Malang

Malanginspirasi.com – Pandemi Covid-19 pada 2020 menjadi titik awal Tri Wahyuni merintis usaha makanan ringan dengan brand Keripik Pisang 3 Krezz.

Berawal dari usaha sederhana, kini produk keripik pisang miliknya mulai berkembang dan mampu menerima pesanan dalam jumlah besar berkat ketekunan serta dukungan permodalan dari Koperasi Konsumen Setia Budi Wanita (Kopmen SBW).

Berlokasi di kawasan Laksda Adi Sucipto, Malang, Tri Wahyuni mengawali usahanya di tengah situasi pandemi yang penuh tantangan.

Saat itu, ia melihat peluang untuk membangun usaha sendiri sekaligus memperoleh penghasilan dari kegiatan produktif.

Dalam memasarkan produknya, Tri mengandalkan jaringan pertemanan dan lingkungan koperasi.

Teman-teman sesama anggota SBW serta orang-orang terdekat menjadi pelanggan pertama yang membantu memperkenalkan Keripik Pisang 3 Krezz kepada masyarakat.

“Pelanggan pertama saya adalah teman-teman di SBW dan teman dekat saya jadi promosi dari mulut ke mulut,” ungkap Tri kepada awak media.

Strategi promosi sederhana tersebut menjadi langkah awal dalam membangun pasar. Dari rekomendasi pelanggan, usahanya perlahan dikenal dan mulai mendapatkan pesanan.

Namun, perjalanan merintis usaha tidak selalu mudah. Tri mengakui keterbatasan modal menjadi tantangan terbesar yang dihadapinya, terutama untuk memenuhi kebutuhan bahan baku yang harganya cukup mahal.

“Tantangan awal merintis ya modalnya itu. Karena untuk bahan-bahannya lumayan mahal,” tuturnya.

Kondisi tersebut membuat dukungan permodalan menjadi kebutuhan penting agar kegiatan produksi dapat terus berjalan dan usaha bisa berkembang.

Pembiayaan SBW Tingkatkan Kapasitas Produksi

Sebagai anggota koperasi, Tri memilih SBW untuk mendapatkan dukungan pembiayaan.

Salah satu fasilitas yang dimanfaatkannya adalah pinjaman dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) melalui koperasi.

Ia mengungkapkan, pembiayaan yang awalnya diperoleh sebesar Rp5 juta kini telah meningkat menjadi Rp20 juta. Tambahan modal tersebut membantu memenuhi kebutuhan usaha sekaligus mendukung peningkatan kapasitas produksi.

“Saya memilih SBW karena saya sebagai anggota koperasi bisa mendapatkan pinjaman LPDB yg awalnya cuma 5 juga sekarang menjadi 20 juta,” jelasnya.

Baca Juga:

Dari Pelatihan Batik hingga Tembus Malang Fashion Week, dTanbi Tumbuh Bersama Dukungan Kopmen SBW

Setelah mendapatkan pembiayaan, Tri merasakan perkembangan positif pada usaha Keripik Pisang 3 Krezz. Ia kini memiliki kemampuan lebih baik untuk memenuhi kebutuhan produksi dan menerima pesanan dalam jumlah besar.

“Setelah mendapatkan pinjaman dari SBW, alhamdulilah usaha saya bisa bertambah maju dan bisa menerima pesanan dengan jumlah banyak,” katanya.

Bagi Tri, keberadaan koperasi bukan sekadar tempat memperoleh pinjaman modal, tetapi juga menjadi salah satu dukungan bagi perempuan untuk membangun kemandirian ekonomi melalui usaha yang dijalankan.

Menariknya, hingga saat ini Tri masih menjalankan usahanya dengan dukungan keluarga. Belum ada penambahan tenaga kerja dari luar karena proses produksi dan kegiatan usaha masih dibantu oleh suami serta anak-anaknya.

Meski demikian, ia memiliki harapan besar untuk membawa Keripik Pisang 3 Krezz berkembang lebih jauh. Salah satu target yang ingin diwujudkannya adalah memiliki toko oleh-oleh sendiri agar produknya bisa menjangkau lebih banyak konsumen.

Ingin Miliki Toko Oleh-Oleh Sendiri

Tri mengaku bangga bisa menjadi perempuan mandiri yang memiliki usaha sendiri.

Baginya, perjalanan membangun Keripik Pisang 3 Krezz menjadi pengalaman berharga, terlebih ia dapat bergabung dengan lingkungan perempuan pelaku usaha di SBW.

“Saya sangat bangga dengan diri saya sebagai perempuan mandiri bisa bergabung dengan para ibu di SBW dan bisa mempunyai usaha sendiri,” ujarnya.

Ia pun mengajak perempuan lain yang masih menghadapi kendala permodalan agar tidak ragu bergabung dengan koperasi untuk mendapatkan dukungan dalam mengembangkan usaha.

“Saya ingin usaha saya lebih bisa berkembang lagi seperti memiliki toko oleh-oleh dan juga saya ingin ibu-ibu yang  masih kesulitan modal usaha, mari kita bergabung di SBW,” pesannya.

Melalui perjalanan usahanya, Tri menunjukkan bahwa keterbatasan modal tidak harus menjadi penghalang untuk memulai usaha.

Dengan kemauan untuk berusaha, dukungan keluarga, serta akses pembiayaan koperasi, peluang untuk mengembangkan usaha dan mencapai kemandirian ekonomi tetap terbuka.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *