Malanginspirasi.com – Sekolah Dasar (SD) Charis National Academy Malang tak hanya menanamkan nilai-nilai Kristiani kepada murid, tetapi juga pembentukan karakter sebagai pemimpin masa depan.
Kepala SD Charis Dr. Susane Ikawati, M.Pd mengatakan bahwa sekolah ini memiliki moto ‘Shaping Future Leaders’.
“Ketika kita bicara tentang membentuk pemimpin masa depan, hal ini mencakup tiga hal yaitu leadership, character, dan creativity,” kata Susane kepada wartawan Malang Inspirasi.
Menurutnya, Charis mempunyai visi untuk melahirkan lulusan-lulusan yang akan jadi pemimpin di masa depan.

“Pemimpin masa depan itu tidak boleh lepas dari karakter karena karakter ini penting. Kami tidak ingin melepas seseorang jadi pemimpin tapi tidak memiliki karakter. Anak-anak dididik dengan nilai-nilai kekristenan yang tak hanya dari pelajaran agama Kristen, tetapi juga melalui semua pelajaran untuk menghasilkan karakter yang bagus dan kreatif,” jelasnya.
SD Kristen Charis memberikan dukungan kepada semua murid dengan mendorong mereka mengembangkan potensi mereka.
“Sebagai calon pemimpin, ia harus memiliki kreativitas yang lebih kepada problem solver. Jadi mereka dapat mengidentifikasi masalah, menjelaskannya sebelum menyelesaikan masalah tersebut. Harapannya anak-anak menjadi peka dengan kondisi sekitar mereka,” lanjut Susane.
Ia katakan lulusan SD Charis sangat menonjol karena para siswa mendapatkan dukungan penuh untuk setiap bakat yang mereka miliki.
“Saya memberikan contoh salah satu murid yakni Victoria yang baru menjuarai Lomba Bertutur. Sebagai guru kami menawarkan dan ia menerima tawaran tersebut. Jadi kami memberikan dorongan semangat dan dukungan untuk mengikuti lomba itu,” jelas dia.
Baca Juga:
Bahkan, lanjut wanita yang dipanggil Teacher Susane oleh para murid ini, para siswa kelas 5 dan 6 bahkan sudah bisa menulis buku.
“Ada buku-buku yang kami hasilkan dari tulisan mereka tiap tahunnya. Jadi harapannya mereka bisa menjadi komunikator yang baik juga,” terangnya.
Tak Sekadar Habiskan Bahan Buku
Sekolah yang terletak di jalan Telaga Bodas no 1 ini juga menggunakan kurikulum nasional namun sangat diuntungkan dengan Kurikulum Merdeka sehingga dapat mengembangkan kurikulum sesuai budaya sekolah.

“Seperti kemarin ada ujian TKA itu kami pun ikut meskipun tidak ada murid kami yang menggunakan nilai TKA untuk melanjutkan ke SMP Negeri. Kami pun menyelesaikan kurikulum yang diwajibkan pemerintah,” papar Teacher Susane.
Dari Kurikulum Merdeka, tambahnya, sekolah dapat menambahkan kurikulum yang lain tetapi dasarnya kurikulum nasional dan lebih ke arah enrichment atau pengayaan.
Dengan demikian, lanjut Susane, para guru dapat menentukan metode paling tepat untuk menyampaikan pemahaman materi kepada siswa.
“Kami tak menggunakan buku dari penerbit tertentu dan sekadar menghabiskan materi yang kepada siswa,” katanya.
Susane menekankan bahwa siswa tidak menggunakan buka paket tertentu, tetapi SD Kristen Charis menyediakan buku apapun yang guru butuhkan untuk mempersiapkan menyampaikan materi pengayaan.
“Supaya guru mendapatkan banyak resource dan guru yang mengatur bagaimana materi sampai ke anak-anak. Kalau sekarang kami pakai Cambridge, Pearson untuk agama juga kami menggunakan kurikulum ABC dari Amerika,” paparnya.
Lebih lanjut, Susane menerangkan para guru tidak diminta untuk sekadar menghabiskan materi di buku.
“Targetnya bukan bagaimana materi di buku habis, tetapi bagaimana materi bisa tersampaikan kepada anak dengan baik sesuai waktu yang ada,” lanjut Susane.
Utamakan Kesiapan Mental Siswa Memasuki Jenjang SD
SD Charis National Academy menekankan pada kesiapan belajar siswa.
“Kami lebih mencari kesiapan belajar pada siswa karena tidak semua anak yang sudah pandai baca tulis sudah siap secara emosi dalam menjalani kehidupan di sekolah dasar,” kata Susane menerangkan.
“Terkadang ada siswa yang tidak bersedia mengerjakan tugas, atau tidak betah belajar hingga siang karena secara mental dia memang belum siap,” lanjutnya.
Bagi pihak sekolah, imbuhnya, yang terpenting adalah kesiapan anak, karena ketika anak sudah siap, apa pun yang diberikan pendidik, ia dapat menerimanya.
“Seberapapun pintar seorang anak, tetapi jika belum siap dalam hal mental dan emosional nantinya akan sulit baginya dan akhirnya kepercayaan diri menurun sehingga tidak dapat berprestasi seoptimal yang seharusnya,” begitu Susane menjelaskan.
“Jadi, saya selalu mengatakan kepada orang tua, jangan terburu-buru, terutama di sekolah dasar. Jika di sekolah menengah, saya mendukung program akselerasi karena di usia tersebut mereka sudah siap tetapi untuk anak dari taman kanak-kanak hingga sekolah dasar, janganlah terburu-buru,” jelasnya.
Kualitas pendidikan di SD Kristen Charis terjamin karena jumlah siswa yang hanya 25 orang di satu kelas.
“Kami juga mempertimbangkan rasio guru dan siswa karena di kelas satu, kami memiliki seorang asisten yang nantinya akan mengantar siswa yang mungkin hendak ke toilet, dan sebagainya,” lanjut Susan yang mengatakan bahwa di kelas tiga hingga enam hanya ada satu guru di setiap kelas.
Intinya, SD Kristen Charis tak hanya berfokus pada pencapaian akademik siswa, tetapi juga pembentukan karakter sebagai pemimpin masa depan dengan nilai-nilai Kristiani.







