FBiPK UB Rebranding dan Kembangkan Varian Rasa Pada UMKM Carang Mas Desa Punten

Pendidikan8 views

malanginspirasi.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan, Universitas Brawijaya (FBiPK UB) di Desa Punten melakukan pendampingan terhadap UMKM AAA Carang Mas melalui pengembangan produk, pembaruan identitas visual, dan optimalisasi pemasaran digital.

Giat ini berangkat dari semangat bahwa jajanan tradisional tidak harus kehilangan tempat di tengah berkembangnya produk pangan modern.

Puncak pelaksanaan program pada Minggu, 26 Juli 2026  tersebut menyasar salah satu produk pangan tradisional Desa Punten, Kota Batu, yakni Carang Mas.

Camilan berbahan dasar ubi dan gula merah itu dinilai memiliki karakter produk yang kuat dan peluang pasar yang masih dapat dikembangkan lebih luas.

Hasil observasi dan pemetaan masalah yang dilakukan mahasiswa bersama pemilik usaha menunjukkan bahwa AAA Carang Mas menghadapi sejumlah tantangan dalam pengembangan bisnis.

Penjualan masih didominasi transaksi secara langsung dan dalam cakupan lokal.

Calon konsumen juga belum memiliki akses yang memadai terhadap informasi varian, harga, komposisi, maupun kontak pemesanan.

Baca Juga:

Mahasiswa KKN FBiPK UB Edukasi Siswa SD Jadi “Pahlawan Air Cilik”

Alumni Sharing FBiPK UB Bersama PT Advanta Seeds Indonesia, Siapkan Talenta Pertanian terhadap Tantangan Industri Benih Modern

Sementara itu, tampilan kemasan dan media promosi masih sederhana, sementara produk selama ini mengandalkan satu varian rasa.

Kondisi tersebut mendorong mahasiswa KKN FBiPK UB merancang pendampingan yang tidak hanya menyentuh satu aspek usaha.

Intervensi dilakukan mulai dari digitalisasi pemasaran, pembaruan branding dan kemasan, penyediaan media promosi, hingga diversifikasi produk.

Dosen pendamping kegiatan, Imaniar Ilmi Pariasa, S.P., M.P., menilai penguatan UMKM lokal perlu dilakukan dengan melihat usaha sebagai satu kesatuan.

Produk yang baik, menurutnya, perlu didukung oleh identitas yang kuat, akses pasar yang semakin luas, serta kemampuan pelaku usaha untuk beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen.

“Potensi produk lokal seperti Carang Mas sebenarnya sangat besar karena memiliki kekhasan dan sudah menjadi bagian dari usaha masyarakat. Tantangannya adalah bagaimana produk tersebut mampu beradaptasi dengan perkembangan pasar. Karena itu, pendampingan mahasiswa tidak hanya diarahkan pada produknya, tetapi juga pada penguatan identitas usaha, pemasaran digital, dan inovasi agar UMKM memiliki daya saing yang lebih baik,” ujar Imaniar.

Dari Penjualan Lokal Menuju Pasar Digital

Salah satu langkah yang dilakukan mahasiswa adalah membawa AAA Carang Mas memasuki ekosistem pemasaran digital melalui marketplace.

Tim KKN mendampingi pemilik usaha dalam pembuatan dan pengelolaan toko daring di Shopee, mulai dari registrasi akun, pengaturan profil toko, pengunggahan produk, penyusunan deskripsi hingga optimalisasi tampilan etalase.

Pendampingan tidak berhenti pada pembuatan akun. Pemilik UMKM juga mendapatkan pengenalan mengenai pengelolaan toko, penerimaan pesanan, serta pengemasan produk untuk penjualan daring.

Langkah tersebut diharapkan membuka akses konsumen dari luar daerah yang sebelumnya mengalami kesulitan ketika ingin melakukan pemesanan ulang.

Transformasi juga dilakukan pada wajah produk. Mahasiswa mendesain ulang stiker kemasan dan banner usaha agar tampil lebih modern sekaligus informatif.

Pembaruan tersebut diarahkan untuk memperkuat branding AAA Carang Mas dan meningkatkan kesan profesional produk di mata konsumen.

Selain kemasan, mahasiswa menyiapkan flyer promosi dan kartu nama bisnis yang memuat informasi produk, identitas usaha, serta kontak yang dapat digunakan konsumen.

Media tersebut dirancang agar dapat digunakan secara fleksibel, baik untuk pemasaran langsung maupun dalam berbagai kegiatan promosi.

Sentuhan Jeruk Punten untuk Carang Mas

Inovasi lain yang dikembangkan mahasiswa adalah menghadirkan AAA Carang Mas Rasa Jeruk. Gagasan ini menarik karena menghubungkan produk tradisional berbahan ubi dengan komoditas yang identik dengan Desa Punten dan kawasan pertanian Kota Batu.

Pengembangan varian tersebut tidak dilakukan dalam satu kali percobaan.

Tim melakukan beberapa kali uji formulasi untuk memperoleh cita rasa jeruk yang seimbang tanpa menghilangkan tekstur renyah yang menjadi karakter utama Carang Mas.

Setelah mendapatkan formulasi yang dinilai sesuai, mahasiswa menyerahkan resep sekaligus sampel produk kepada pemilik UMKM.

Menurut Imaniar, inovasi tersebut juga menunjukkan bahwa kegiatan KKN dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan persoalan konkret yang dihadapi masyarakat.

“Yang ingin dibangun bukan sekadar inovasi sesaat selama mahasiswa berada di lokasi KKN. Mahasiswa perlu menghasilkan sesuatu yang dapat diteruskan oleh mitra.

Ketika digitalisasi, branding, dan inovasi produk dapat dikelola secara mandiri oleh UMKM setelah program selesai, di situlah keberlanjutan sebuah kegiatan pengabdian menjadi penting,” jelasnya.

Seluruh luaran program kemudian diserahkan kepada pemilik AAA Carang Mas pada 26 Juli 2026.

Luaran tersebut meliputi akun toko daring yang siap digunakan, banner dan kemasan baru, flyer promosi, kartu nama bisnis, serta resep dan sampel Carang Mas Rasa Jeruk. Penyerahan tersebut mendapat apresiasi dari pemilik UMKM dan perangkat desa setempat.

Program ini sekaligus membawa perspektif pembangunan berkelanjutan dalam penguatan usaha skala lokal.

Dalam laporan kegiatan, pendampingan AAA Carang Mas dikaitkan dengan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 tentang Industri, Inovasi dan Infrastruktur, SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Lewat penguatan pemasaran digital, identitas usaha, media promosi, dan diversifikasi produk, mahasiswa KKN FBiPK UB berharap AAA Carang Mas dapat menjangkau pasar yang semakin luas sekaligus meningkatkan daya saingnya.

Lebih dari sekadar memperbarui tampilan produk, pendampingan tersebut menjadi upaya untuk menjaga agar pangan tradisional tetap relevan dan memiliki nilai ekonomi di tengah perubahan pasar.

Dari sebuah usaha rumahan di Desa Punten, Carang Mas kini tidak hanya membawa cita rasa tradisional berbahan ubi dan gula merah, tetapi juga mulai bergerak menuju produk lokal yang lebih adaptif, inovatif, dan siap menjangkau konsumen yang lebih luas. #UniversitasBrawijaya_SDG4; #UniversitasBrawijaya_SDG17

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *