PKK Desa Sumber Pasir Perkuat Civil Society melalui Pengolahan Sampah Organik

Pendidikan16 views

malanginspirasi.com –  Semangat membangun kepedulian lingkungan dan memperkuat peran masyarakat kembali digelorakan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertema “Penguatan Civil Society PKK dalam Pengolahan Sampah Organik”.

Ibu-ibu PKK Desa Sumber Pasir mengikuti kegiatan tersebut dan bertempat di TK Muslimat NU 29 Al Falah, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Sabtu, 15 Agustus 2026.

Kepala Desa Sumber Pasir, Muhdlor mengawali kegiatan dengan sambutan yang menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan.

Ia menilai PKK  memiliki posisi strategis karena berada dekat dengan kehidupan keluarga dan aktivitas sosial masyarakat sehari-hari.

Dr. Siti Muntomimah, M.Pd. menyampaikan materi pertama disampaikan dengan fokus pada peran strategis PKK dalam menanamkan perilaku memilah sampah sejak anak usia dini.

Menurut Siti, pendidikan tentang sampah tidak cukup hanya diberikan kepada anak melalui teori.

Anak belajar terutama dari apa yang mereka lihat dan lakukan bersama orang-orang terdekatnya.

Karena itu, perilaku orang tua di dalam keluarga menjadi contoh yang sangat kuat bagi pembentukan kebiasaan anak.

Baca Juga:

KKN UNIKAMA 2026 Edukasi Pengolahan Sampah Organik melalui Pelatihan Eco Enzyme

UNIKAMA Gelar Pelatihan Teknologi Biokonversi Sampah Organik, Mahasiswa Diajak Kelola Sampah dari Kos

“Ketika anak melihat orang tua membuang dan memilah sampah dengan benar, kebiasaan tersebut akan lebih mudah ditiru dan menjadi bagian dari perilaku sehari-hari,” menjadi pesan penting dalam pembahasan.

Pendekatan ini menempatkan keluarga sebagai ruang pendidikan pertama dalam membangun budaya peduli lingkungan.

Anak tidak hanya dikenalkan pada jenis sampah, tetapi juga dibiasakan mengambil tindakan sederhana, seperti membedakan sampah organik dan anorganik serta menempatkannya pada wadah yang sesuai.

PKK sebagai Kekuatan Civil Society

Setelah itu, Engelbertus Kukuh Widijatmoko, SH., M.Pd.  menyampaikan materi kedua yang mengajak peserta melihat PKK dalam perspektif civil society.

Menurut Engelbertus, kekuatan masyarakat tidak hanya muncul dalam organisasi formal. Berbagai ruang perjumpaan warga seperti PKK, arisan, kelompok pengajian, komunitas, maupun kumpulan warga lainnya dapat menjadi ruang membangun kesadaran dan aksi bersama.

Dalam konteks pengelolaan sampah, ruang-ruang sosial tersebut dapat dimanfaatkan untuk membangun kebiasaan memilah, mengolah, dan mengembangkan sampah agar memiliki nilai guna bahkan nilai ekonomis.

Sampah organik, misalnya, tidak harus berakhir di tempat pembuangan. Dengan pengetahuan dan pengelolaan yang tepat, sampah dapat diolah menjadi produk yang lebih bermanfaat. Dari sinilah muncul gagasan bahwa sampah bukan semata persoalan lingkungan, tetapi juga peluang pemberdayaan masyarakat.

Penguatan civil society melalui PKK menjadi penting karena ibu-ibu memiliki jejaring sosial yang kuat di tingkat keluarga dan lingkungan. Ketika satu kebiasaan baik dilakukan bersama, dampaknya dapat berkembang menjadi gerakan kolektif.

Belajar dengan Bernyanyi, Games, dan Doorprize

Suasana pengabdian berlangsung interaktif. Penyampaian materi tidak dilakukan secara satu arah, tetapi diselingi tanya jawab, bernyanyi, games, serta pemberian doorprize.

Peserta terlihat antusias mengikuti setiap sesi. Interaksi tersebut membuat materi tentang lingkungan dan pengelolaan sampah terasa lebih ringan, dekat, dan mudah dipahami.

Games juga menjadi sarana untuk menguji kembali pemahaman peserta mengenai pentingnya memilah dan mengolah sampah. Sementara doorprize menjadi kejutan yang semakin menambah semangat peserta untuk aktif berpartisipasi.

Kegiatan ditutup dengan kebersamaan dan dokumentasi seluruh peserta. Kehadiran ibu-ibu PKK Desa Sumber Pasir menunjukkan bahwa gerakan pengelolaan sampah dapat dimulai dari lingkungan paling dekat: keluarga, kelompok sosial, dan komunitas warga.

Pengabdian tersebut sekaligus menegaskan sebuah pesan sederhana: perubahan perilaku tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, tetapi dari kebiasaan kecil yang dilakukan bersama secara konsisten.

Ketika keluarga mulai memilah, PKK menggerakkan, dan masyarakat mengolah, sampah tidak lagi sekadar menjadi beban.

Namun sampah dapat berubah menjadi berkah, manfaat, bahkan peluang ekonomi, sekaligus menjadi bagian dari budaya hidup masyarakat yang lebih peduli lingkungan.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *