Malanginspirasi.com – Para guru di SMA Taman Harapan Malang meluncurkan inovasi pembelajaran berbasis Inkuiri Kolaboratif (Inkol) dalam menghadapi tantangan pembelajaran seperti siswa yang kurang percaya diri, pasif, takut berpendapat, hingga lemah dalam analisis serta komunikasi.
Metode ini memadukan konsep penyelidikan mandiri (inkuiri) dan kerja sama tim (kolaboratif) antar-mata pelajaran untuk membangkitkan kembali semangat belajar peserta didik.
Narasumber kegiatan sekaligus guru SMA Taman Harapan, Ike Ovin Hendriyanti, S.Pd., menjelaskan bahwa program ini dirancang lintas mata pelajaran—meliputi Biologi, Sosiologi, Sejarah, Pendidikan Pancasila, dan Bahasa Indonesia—untuk merespons langsung kendala sikap dan keterampilan siswa di kelas.
“Kami memiliki murid yang tidak percaya diri, takut berpendapat, pasif, kurang semangat belajar, serta memiliki kemampuan komunikasi dan analisis yang rendah. Sehingga kami para guru merancang pembelajaran bersama untuk mengatasi masalah tersebut,” kata Bu Ovin, sapaan akrabnya.

“Melalui inkuiri kolaboratif, siswa diajak bertanya, menyelidiki, dan mencari tahu secara bekerja sama, berbagi, serta saling membantu mencapai tujuan bersama,” lanjut Bu Ovin.
Baca Juga:
Perayaan Hari Kartini di SMA Taman Harapan Malang Jadi Bermakna, Ini Alasannya
Lokasi Alun-Alun Merdeka Kota Malang dipilih sebagai ruang belajar terbuka karena letaknya yang strategis dan berdekatan dengan lingkungan sekolah.
Posisi yang dekat ini memudahkan mobilitas siswa untuk langsung kembali ke sekolah guna melanjutkan aktivitas pembelajaran reguler setelah riset lapangan selesai.
Rangkaian kegiatan diawali pada 26 Agustus melalui diskusi perdana Inkol bersama Pengawas Sekolah, Ibu Agnes.
Selanjutnya pada 2 September, para guru menyusun instrumen pembelajaran berupa rubrik, lembar kerja, dan jurnal siswa.
Dalam tahap ini, Biologi berfokus pada identifikasi tanaman di alun-alun terkait polusi udara Kota Malang, Pendidikan Pancasila meneliti bentuk pelanggaran aturan, Sejarah mendalami histori lokasi, Sosiologi mengamati masalah sosial, dan Bahasa Indonesia mengasah penyusunan laporan serta teknik wawancara.
Setelah sosialisasi kepada murid dilakukan pada 8 September, pelaksanaan observasi lapangan di Alun-Alun Merdeka berlangsung pada 16 September pukul 10.00 hingga 12.00 WIB.
Tahap berikutnya diisi dengan penyusunan laporan serta bahan presentasi pada 22 dan 30 September, yang kemudian dipresentasikan secara langsung oleh para siswa pada 7 Oktober.
Penerapan metode Inkol ini terbukti membawa perubahan positif yang signifikan pada perkembangan karakter peserta didik.
Siswa yang awalnya pasif dan enggan berkomunikasi mulai menunjukkan keberanian serta antusiasme tinggi, baik saat mewawancarai narasumber di alun-alun maupun ketika menyampaikan hasil temuan di depan kelas.
“Anak yang tadinya pasif menjadi lebih bersemangat. Sempat kami tanya bagaimana perasaan mereka sebelum presentasi, ada yang menjawab takut, nderedeg, dan campur aduk. Namun, ketika anak berani presentasi, berani berpendapat, dan berani wawancara dengan pihak-pihak terkait yang mereka temui di alun-alun, itu sudah luar biasa dan menjadi kemajuan yang sangat positif bagi mereka,” tutur Bu Ovin mengakhiri penjelasannya.







