Malanginspirasi.com – Perubahan pola musim dan periode kering yang semakin panjang menuntut petani Indonesia menyiapkan strategi pengelolaan lahan dan air secara lebih matang. Kekeringan panjang tidak hanya mengurangi ketersediaan air bagi tanaman, tetapi juga memperpendek masa tanam dan menurunkan produktivitas lahan pertanian.
Dosen Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Ir. Ali Ikhwan, M.P., menjelaskan bahwa lahan kering secara alami memiliki curah hujan lebih rendah dan banyak tersebar di wilayah Indonesia bagian timur. Tantangan semakin besar ketika pola hujan berubah dan musim kemarau berlangsung lebih lama.
Menurutnya, petani perlu menyesuaikan waktu tanam dengan kondisi musim. Awal musim hujan bisa dimanfaatkan untuk menanam, sementara pergantian tanaman harus diperhitungkan agar masa panen tidak bertepatan dengan puncak kekeringan.
“Kalau semula kita menanam setahun hanya sekali karena keterbatasan air atau hujan, dengan pengaturan waktu tanam diharapkan bisa menanam setahun dua kali. Jadi kita harus melihat kapan awal musim hujan dan kapan memasuki musim kemarau,” ujarnya.
Selain mengatur kalender tanam, pengelolaan air menjadi langkah krusial. Pembangunan embung dan bendungan dapat menampung air hujan untuk digunakan saat pasokan mulai berkurang. Namun, Ali menekankan bahwa tempat penampungan saja tidak cukup. Air yang tertampung tetap bisa berkurang akibat penguapan, bahkan habis saat kekeringan ekstrem.
“Kalau sumber airnya terbatas, bangunan sebaik apa pun akhirnya pada musim kemarau akan kekurangan air. Jadi yang penting bukan hanya membangun tempat untuk menampung air, tetapi bagaimana sumber airnya bisa tersedia dan bagaimana tanaman dapat tetap bertahan ketika air itu terbatas,” tegasnya.

Berita Terkait:
Ancaman El Nino di Depan Mata, BMKG Peringatkan Sektor Pangan Bisa Paling Terdampak
BMKG Peringatkan Musim Kemarau 2026 di Malang Lebih Kering dan Panjang Akibat El Nino
Petani juga bisa menerapkan cara sederhana untuk menjaga kelembapan tanah, seperti menampung air hujan, menggunakannya secara hemat, dan menjaga kondisi tanah agar tidak cepat kehilangan air. Upaya ini semakin penting pada lahan yang sepenuhnya bergantung pada curah hujan.
Di tingkat yang lebih luas, pemerintah perlu menyiapkan sumber air alternatif untuk wilayah yang sering mengalami kekeringan. Ali menilai pemanfaatan air laut melalui teknologi desalinasi bisa menjadi salah satu opsi, mengingat Indonesia memiliki wilayah laut yang luas. Namun, penerapannya memerlukan dukungan teknologi, kebijakan, dan pembiayaan yang memadai.
Ali menekankan bahwa penanganan kekeringan sebaiknya tidak menunggu krisis terjadi. Persiapan harus dimulai sebelum musim kemarau. Mulai dari pemetaan ketersediaan air, penentuan waktu tanam, pembangunan tempat penampungan, hingga pengaturan distribusi air.
Dengan persiapan sejak dini, petani memiliki lebih banyak pilihan saat memasuki periode kering. Pengelolaan air, penyesuaian pola tanam, dan kesiapan menghadapi perubahan musim menjadi kunci untuk menjaga produktivitas lahan sekaligus mempertahankan pendapatan petani di tengah kekeringan panjang yang semakin sulit diprediksi.







