Dunia Bulu Tangkis Berkabung, Pelatih Legendaris Atik Jauhari Meninggal Dunia di Usia 77 Tahun

Malanginspirasi.com – Pelatih sekaligus mantan pebulu tangkis nasional Atik Jauhari meninggal dunia pada Minggu (8/11/2026).

Mengutip sumber dari PBSI, Atik Jauhari mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Mayapada, Tangerang Kota, pukul 02.49 WIB, dalam usia 77 tahun, setelah menjalani perawatan karena sakit.

Jenazahnya dimakamkan pada hari yang sama di pemakaman keluarga di Cipondoh, Kota Tangerang. Ia meninggalkan istri, Hj. Neng Titi, empat anak, dan lima cucu.

Kabar duka ini dikonfirmasi Ketua Komunitas Bulutangkis Indonesia (KBI) Hariyanto Arbi. Ia menyatakan keluarga besar KBI berduka cita atas kepergian sosok yang disebut sebagai salah satu pahlawan bulu tangkis nasional.

Atik Jauhari lahir pada 14 Agustus 1949. Sebagai atlet, ia pernah meraih gelar juara Kejurnas 1971 bersama Christian Hadinata dan juara Belgian International 1973 (baik di tunggal putra maupun ganda putra bersama Tatat Budiman).

Ia gantung raket di usia relatif muda, sekitar 25 tahun, lalu beralih total ke dunia kepelatihan.

Pelatih Bertangan Dingin

Atik menjadi salah satu pelatih senior di Pusat Pelatihan Nasional (Pelatnas) PBSI sejak 1974. Ia berperan sebagai pencari bakat dan pelatih, terutama di sektor tunggal putra dan ganda putra.

Di tunggal putra, ia turut membina generasi seperti Liem Swie King (juara dunia 1980), Icuk Sugiarto (juara dunia 1983), Hastomo Arbi, Hermawan Susanto, Ardy Wiranata, dan Alan Budikusuma (emas Olimpiade 1992).

Di sektor ganda putra, ia juga memberikan kontribusi besar. Bersama Christian Hadinata, Atik menangani dan membentuk pasangan-pasangan yang mendominasi era 1980-an hingga 1990-an, di antaranya:

  • Ricky Subagja/Rexy Mainaky (juara dunia dan emas Olimpiade Atlanta 1996 yang merupakan emas ganda putra pertama Indonesia di Olimpiade)
  • Candra Wijaya/Sigit Budiarto (juara dunia 1997)
  • Candra Wijaya/Tony Gunawan (juara All England dan juara dunia)
  • Serta pasangan lain seperti Eddy Hartono/Rudy Gunawan, Imay Hendra/Bagus Setiadi, dan Antonius/Denny Kantono.

Di bawah pengaruh kepelatihannya, Indonesia juga meraih Piala Thomas pada 1994, 1996, dan 1998.

Ia dikenal sebagai pelatih “bertangan dingin” yang bekerja diam-diam, ulet, dan memiliki insting tajam dalam melihat potensi pemain serta menyatukan mereka menjadi pasangan yang solid.

Melatih di Beberapa Negara

Setelah meninggalkan Pelatnas pada 1999, Atik melatih di Swedia (1999–2003/2004), Thailand (2006–2008), dan India (2009–2010/2012).

Di India, Atik berperan dalam kebangkitan Saina Nehwal hingga menjadi peringkat 1 dunia tunggal putri. Ia juga sempat melatih tim nasional Italia.

Ia kemudian mendirikan Sekolah Badminton Atik Jauhari yang fokus pada pembinaan atlet muda.

Kepergian Atik Jauhari menjadi kehilangan besar bagi dunia bulu tangkis Indonesia.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *