Malanginspirasi.com – Dharma Wanita Persatuan (DWP) Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya (UB) mendorong penerapan pola asuh modern melalui kegiatan silaturahmi anggota sekaligus edukasi parenting dalam membangun kemandirian, kepercayaan diri, dan tanggung jawab anak tanpa proteksi berlebihan
Bertajuk “Panduan Parenting Modern: Strategi Menumbuhkan Internal Locus of Control Tanpa Proteksi Berlebih” di Ruang Pertemuan Gedung Sentral FBiPK 1.1, turut hadir Dekan FBiPK UB Prof. Mangku Purnomo, S.P., M.P., Ph.D., Ketua DWP FBiPK UB Ibu Fiska, Sekretaris Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan (HPT), serta seluruh pengurus dan anggota DWP FBiPK UB.
Hadir sebagai narasumber, Luthfiatuz Zuhroh, M.Psi., Psikolog, yang mengulas pentingnya memberikan ruang bagi anak untuk mengambil keputusan, bertindak mandiri, dan belajar dari pengalaman.
Dalam pemaparannya, Luthfiatuz menjelaskan bahwa internal locus of control merupakan keyakinan individu bahwa keputusan, usaha, dan tindakan yang dilakukan memiliki peran penting dalam menentukan hasil yang diperoleh.
Baca Juga:
Semangat ‘Jaga Diri, Jaga Sesama’ Jadi Komitmen FBiPK UB Bangun Lingkungan Akademik Aman
Konsep ini menjadi salah satu landasan dalam pengasuhan modern, terutama ketika anak tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital dan perubahan karakteristik antargenerasi.
Menumbuhkan internal locus of control dapat dimulai dengan membangun kesadaran anak terhadap pilihan yang diambil, memberikan kesempatan untuk bertindak mandiri, serta mengajak mereka merefleksikan usaha yang telah dilakukan.
Luthfiatuz juga menguraikan perbedaan pendekatan pengasuhan terhadap Generasi Z dan Generasi Alpha.
Generasi Z memiliki karakteristik yang erat dengan perkembangan teknologi digital, kebutuhan akan otonomi, serta kesadaran terhadap kesehatan mental.
Sementara itu, Generasi Alpha tumbuh dalam lingkungan yang semakin terkoneksi secara digital. Mereka cenderung membutuhkan pengalaman belajar yang visual, interaktif, dan konkret.
Karena itu, orang tua perlu menyesuaikan pendekatan komunikasi dan pendampingan dengan tahapan perkembangan anak.
Penyesuaian Pendekatan Komunikasi Antargenerasi
Bagi Generasi Z, pendekatan pengasuhan dapat dilakukan melalui komunikasi dua arah dengan metode coaching, pemberian otonomi yang bertanggung jawab, serta evaluasi yang berfokus pada usaha dan strategi, bukan semata-mata hasil akhir.
Adapun bagi Generasi Alpha, orang tua dapat menerapkan pemberian pilihan terbatas (limited choices), pengenalan konsekuensi logis, apresiasi terhadap proses belajar, serta pendampingan dalam memecahkan masalah.
Prinsip utamanya adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk menentukan pilihan sekaligus memahami konsekuensinya. Dalam hal ini, orang tua berperan sebagai pendamping, bukan mengambil alih seluruh keputusan anak.
Selain kemandirian, edukasi parenting tersebut juga menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas digital dan pengalaman langsung.
Orang tua didorong menyediakan kegiatan yang melibatkan interaksi sosial, eksplorasi lingkungan, serta pengembangan keterampilan fisik dan emosional anak.
Melalui pengalaman tersebut, anak diharapkan mampu mengembangkan regulasi diri, memahami hubungan sebab-akibat, serta memiliki keterampilan untuk menghadapi tantangan secara mandiri.
Kegiatan silaturahmi dan edukasi ini sekaligus memperkuat peran DWP FBiPK UB sebagai wadah pengembangan kapasitas perempuan dan keluarga di lingkungan fakultas.
Melalui edukasi parenting, DWP FBiPK UB berharap para anggota dapat menerapkan pola pengasuhan yang lebih positif, memberikan kepercayaan kepada anak sesuai tahap perkembangannya, serta membangun komunikasi terbuka dalam keluarga.
Penguatan kualitas pengasuhan diharapkan turut mendukung pembentukan generasi yang mandiri, tangguh, bertanggung jawab, dan mampu beradaptasi dengan perubahan sosial maupun perkembangan teknologi.







