Malanginspirasi.com – Program Museum Keliling Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang memasuki hari kedua dengan menyasar siswa SD Muhammadiyah 4 Kampus 2 Kota Malang, Senin (31/8/2026).
Kegiatan ini menjadi jembatan edukasi untuk mendekatkan pelajar dengan sejarah, warisan budaya, sekaligus mengenalkan Museum Mpu Purwa secara lebih menarik dan kontekstual.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Malang, Juli Handayani, mengatakan Museum Keliling dirancang untuk membawa pembelajaran museum langsung ke lingkungan sekolah.
Langkah tersebut dinilai penting karena tidak semua pelajar memiliki kesempatan untuk berkunjung langsung ke museum.
Pada hari kedua pelaksanaan, materi yang diberikan dibuat berbeda dari kegiatan sebelumnya.
Pelajar dikenalkan dengan sejumlah arca dan peninggalan yang berkaitan dengan sejarah masa Hindu-Buddha, sekaligus diajak memahami proses kreatif dan teknologi masyarakat masa lalu dalam menghasilkan karya.

Penanggung jawab program Museum Keliling Disdikbud Kota Malang, Rakai Hino Galeswangi atau Sam Raka, mengatakan pendekatan tersebut sengaja dilakukan untuk menggeser cara pandang pelajar dalam melihat benda-benda bersejarah.
Baca Juga:
Museum Singhasari, Napak Tilas Kerajaan di Malang
Menurutnya, arca tidak semata-mata perlu dilihat dari sisi religi atau kepercayaan yang melatarbelakanginya. B
enda tersebut juga dapat menjadi sumber pembelajaran mengenai kemampuan manusia pada masa lalu dalam mengolah material, mengembangkan teknik pahat, serta menghasilkan karya dengan tingkat ketelitian tertentu.
“Anak-anak supaya mengetahui bahwa orang-orang kita dulu untuk membuat suatu hasil karya itu lebih fokus, lebih konsentrasi. Mereka fokus untuk menghasilkan sebuah karya, baik karya yang berhubungan dengan religi, pendidikan, maupun kebudayaan dan sosial,” ujar Sam Raka.
Ia menegaskan, peninggalan sejarah dapat menjadi bukti bahwa masyarakat Nusantara pada masa lalu memiliki kemampuan, keterampilan, dan pengetahuan yang patut dipelajari generasi sekarang.
Dengan peralatan yang relatif sederhana dibandingkan teknologi modern, masyarakat masa lalu mampu menghasilkan karya seni dan budaya yang memiliki detail serta tingkat kompleksitas tertentu. Karena itu, menurutnya, benda-benda tersebut perlu dipahami bukan hanya sebagai peninggalan masa lampau, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan tentang kemampuan teknologi dan kreativitas manusia.
“Ini menunjukkan bahwa nenek moyang kita bukan masyarakat yang berpikiran terbelakang atau bodoh. Kita tunjukkan kepada anak-anak bahwa dengan alat yang sederhana, mereka sudah bisa menghasilkan karya sedemikian rupa,” tegasnya.
Sam Raka menambahkan, Museum Keliling sengaja menempatkan aspek ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai salah satu pintu masuk pembelajaran. Dengan demikian, pelajar dapat memahami bahwa di balik sebuah arca terdapat proses panjang yang membutuhkan keterampilan, ketelitian, konsentrasi, dan pengetahuan.
“Jadi kita tidak masuk pada persoalan religi atau keyakinannya. Kita hargai ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki oleh nenek moyang kita pada masa lalu,” katanya.
Kenalkan Ganesa, Durga dan Mahakala
Dalam kegiatan di SD Muhammadiyah 4 Kampus 2, tim Museum Keliling membawa materi berupa arca yang masih berada dalam konteks pantheon percandian masa Hindu-Buddha. Di antaranya Ganesa, Durga, dan Mahakala.
Ganesa kembali diperkenalkan karena dalam konteks kebudayaan Hindu dikenal sebagai figur yang berkaitan dengan pengetahuan dan pendidikan. Sementara itu, Durga dan Mahakala turut diperkenalkan untuk memperlihatkan karakter atribut serta teknik pahatan yang berbeda.
Menurut Sam Raka, pemilihan materi tersebut juga mempertimbangkan tingkat detail dan kompleksitas pahatan sehingga siswa dapat mengamati secara lebih dekat kemampuan teknis pembuatannya.
“Masih arca yang seputar di dalam pantheon percandian, hanya untuk menunjukkan hasil teknologi. Kita bawa yang atributnya atau hasil pahatannya sedikit lebih halus dan agak kompleks dibandingkan yang kemarin,” jelasnya.
Pelajar Diajak Mengenal Museum Mpu Purwa
Selain mengenalkan benda sejarah, kegiatan hari kedua juga diarahkan untuk menumbuhkan rasa penasaran siswa terhadap Museum Mpu Purwa.
Sasaran kegiatan kali ini adalah siswa kelas 3, 4, dan 5. Dalam dialog dengan pelajar, tim Museum Keliling menemukan bahwa sebagian besar siswa belum pernah berkunjung atau belum mengenal Museum Mpu Purwa secara langsung.
Siswa yang pernah berkunjung, menurut keterangan dalam kegiatan tersebut, lebih banyak berasal dari kelas 6.
Kondisi itu justru menjadi peluang untuk memancing rasa ingin tahu siswa. Museum Keliling diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan pembelajaran satu hari, tetapi mendorong pelajar untuk datang langsung ke museum bersama sekolah maupun keluarga.
“Harapannya untuk ke depan, anak-anak itu lebih mencintai sejarahnya, budayanya juga, mencintai sejarahnya dan merasa bangga,” ujarnya.
Fokus Belajar, Maksimalkan Karya
Pesan utama yang ditekankan kepada pelajar dalam kegiatan tersebut adalah pentingnya fokus dan konsentrasi dalam belajar.
Sam Raka mengajak siswa mengambil pelajaran dari proses penciptaan karya masa lalu. Karya yang bertahan hingga sekarang menunjukkan bahwa proses menghasilkan sesuatu membutuhkan ketekunan dan perhatian terhadap detail.
“Pesannya untuk anak-anak hari ini, bagaimana caranya pembelajaran itu lebih fokus atau lebih konsentrasi supaya hasilnya maksimal,” pungkasnya.
Melalui Museum Keliling, Disdikbud Kota Malang tidak sekadar memindahkan materi museum ke ruang sekolah. Program ini menjadi upaya mempertemukan pelajar dengan sejarah secara langsung, membangun rasa ingin tahu, serta menanamkan kebanggaan terhadap warisan budaya daerah.
Dengan mengenalkan sejarah melalui benda, cerita, dan proses penciptaan karya, pelajar diharapkan tidak hanya mengetahui apa yang ditinggalkan nenek moyangnya, tetapi juga memahami nilai ketekunan, kreativitas, pengetahuan, dan kemampuan teknologi yang terkandung di balik setiap warisan budaya.







