Malanginspirasi.com – Upaya pencegahan kenakalan remaja di lingkungan pendidikan kembali digaungkan melalui pendekatan pembinaan karakter dan pendampingan psikologis. Kasi Keuangan Polresta Malang Kota AKP Totok Haryanto, yang akrab disapa Ustad Totok, mensosialisasikan strategi tersebut kepada para kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri se-Kota Malang, Rabu (2/8/2026).
Kegiatan sosialisasi digelar di Aula SMPN 20 Kota Malang dan diikuti Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Agus Wahyudi beserta 25 kepala SMP Negeri.
Dalam forum itu, AKP Totok menyampaikan gagasan pembinaan yang diharapkan dapat membantu sekolah menghadapi berbagai persoalan perilaku peserta didik.
Menurutnya, pencegahan kenakalan remaja perlu dilakukan sejak dini melalui kolaborasi antara sekolah, orang tua, kepolisian, dan pihak yang memiliki kompetensi di bidang pendampingan.
Ia menekankan bahwa kenakalan remaja tidak semata persoalan kedisiplinan di sekolah. Dampaknya dapat berlanjut ke masa depan anak, sekaligus memengaruhi keluarga dan lingkungan sosial sekitar.
“Kenakalan remaja harus dicegah sejak dini karena dampaknya bisa panjang. Bukan hanya bagi anak, tetapi juga keluarga dan lingkungan,” ujar Totok.
Pendekatan Hipnoterapi
Sebagai salah satu alternatif, ia mengembangkan pendekatan hipnoterapi. Metode ini diarahkan untuk membantu peserta didik membangun pola pikir dan perilaku yang lebih positif melalui kondisi relaksasi dan sugesti positif.
Dalam sesi diskusi, sejumlah kepala sekolah menyampaikan kendala yang dihadapi. Kendala tersebut antara lain keterbatasan biaya untuk menghadirkan psikolog serta masih adanya orang tua yang kurang peduli terhadap kondisi dan perkembangan anak. Mereka juga menyoroti pentingnya penguatan program sambang sekolah oleh kepolisian.
Tercatat, SMPN 11 Malang belum mendapatkan program tersebut. Para kepala sekolah kemudian mendorong agar sinergi antara dunia pendidikan dan kepolisian diperkuat.
Mereka mengusulkan adanya nota kesepahaman (MoU) antara Dinas Pendidikan Kota Malang dan Polresta Malang Kota. Hal ini agar program pembinaan dan pendampingan pelajar dapat berjalan lebih masif dan berkelanjutan.
AKP Totok menyambut baik masukan tersebut sebagai bahan evaluasi. Ia juga membuka ruang konsultasi bagi masyarakat yang membutuhkan pendampingan melalui kegiatan pembinaan yang selama ini dilakukannya.
Menurutnya, persoalan pelajar tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan penegakan disiplin. Pendekatan komunikasi, pembinaan karakter, keterlibatan keluarga, serta dukungan profesional perlu berjalan beriringan.
Hasil diskusi menunjukkan bahwa hipnoterapi dipandang sebagai salah satu pendekatan yang dapat dipertimbangkan. Tentunya dengan tetap menyesuaikan kebutuhan dan kondisi masing-masing anak.
Melalui sosialisasi ini, AKP Totok berharap sekolah semakin mengutamakan langkah preventif dan pembinaan karakter. Jadi bukan hanya fokus pada penanganan setelah kenakalan terjadi.
Upaya tersebut sekaligus memperkuat kolaborasi Polresta Malang Kota dengan satuan pendidikan dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, sehat, dan mendukung perkembangan generasi muda di Kota Malang.







