Museum Keliling Perkenalkan Jejak Kerajaan di Malang kepada Siswa SDN Mergosono 2 Lewat Arca

Pendidikan9 views

Malanginspirasi.com – Program Museum Keliling Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang memperkenalkan sejarah kerajaan yang pernah berkembang kepada siswa SDN Mergosono 2, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang.

Tidak hanya menyampaikan materi melalui penjelasan, tim Museum Keliling juga membawa arca sebagai media pembelajaran agar siswa dapat melihat secara langsung benda peninggalan sejarah sekaligus memahami cerita dan konteks sejarah di baliknya.

Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Malang, Juli Handayani, mengatakan masih banyak siswa yang belum mengetahui bahwa wilayah Malang memiliki sejarah panjang sebagai kawasan berkembangnya kerajaan besar pada masa Hindu-Buddha.

“Selama ini banyak para siswa tidak tahu bahwa ada kerajaan besar di Malang, yaitu Kanjuruhan dan Singhasari. Di sini kita perkenalkan, sekaligus kita bawa arca sebagai pembelajaran,” kata Juli.

Menurutnya, keberadaan benda bersejarah sebagai media pembelajaran diharapkan membuat materi sejarah lebih mudah dipahami siswa.

Mereka tidak hanya menerima cerita mengenai kerajaan, tetapi juga dapat melihat langsung salah satu tinggalan budaya yang berkaitan dengan sejarah masa lampau.

Siswa Antusias Belajar Sejarah Singhasari

Penanggung jawab Museum Keliling Disdikbud Kota Malang, Rakai Hino Galeswangi, mengatakan para siswa SDN Mergosono 2 cukup antusias mengikuti pembelajaran.

Khusus wilayah Kecamatan Kedungkandang, kegiatan Museum Keliling untuk jenjang sekolah dasar tahun ini salah satunya dilaksanakan di SDN Mergosono 2.

“Pembelajaran hari ini anak-anak cukup antusias, cukup aktif, terutama di wilayah Kecamatan Kedungkandang. Untuk SD tahun ini, di Kedungkandang kita hanya mengunjungi Mergosono 2,” ujarnya.

Materi yang diberikan kali ini lebih banyak mengangkat sejarah Kerajaan Singhasari, termasuk pengenalan tokoh dan penamaan sejarah. Rakai menjelaskan, pada kegiatan sebelumnya siswa lebih banyak dikenalkan dengan konsep cagar budaya dan benda bersejarah.

Baca Juga:

Kunjungi SD Muhammadiyah 4 Malang, Museum Keliling Jadi Jembatan Pelajar Mengenal Warisan Budaya Malang

Kali ini, materi diperluas agar siswa memiliki fondasi pemahaman sejarah yang lebih tepat sejak tingkat dasar.

“Karena kemarin di sekolah-sekolah lain kita munculkan apa itu cagar budaya, apa itu kebendaan. Kali ini kita ulik juga tentang ketokohan,” jelasnya.

Salah satu hal yang ditekankan adalah pentingnya membedakan penyebutan Singhasari sebagai nama kerajaan dengan Singosari sebagai nama wilayah administratif saat ini.

“Yang selama ini mereka sebut dengan nama Singosari itu adalah nama kecamatan. Kalau kerajaan itu Singhasari,” tegas Rakai.

Menurutnya, koreksi terhadap penyebutan tersebut terlihat sederhana, tetapi penting sebagai fondasi ketika siswa mempelajari sejarah pada jenjang pendidikan selanjutnya.

“Model-model seperti ini adalah pembelajaran dasar yang bisa digunakan sebagai fondasi, sehingga besok minimal penyebutan nama kerajaan itu tidak keliru,” katanya.

Ia menambahkan, terdapat sejumlah perkembangan kajian sejarah yang membuat beberapa aspek dalam sejarah populer perlu dikaji kembali. Karena itu, Museum Keliling mencoba memberikan pemahaman berdasarkan pengetahuan dan analisis sejarah yang terus berkembang.

Sejarah Malang Tak Berhenti pada Nama Tokoh

Rakai menilai pengenalan sejarah lokal harus diperluas. Siswa tidak cukup hanya menghafal nama kerajaan maupun tokoh, tetapi juga perlu memahami keterkaitan sejarah tersebut dengan wilayah tempat mereka tinggal.

“Minimal adik-adik tahu dulu bahwa wilayah Kota Malang itu dahulunya masuk di regional Kerajaan Singhasari,” ujarnya.

Materi tersebut kemudian dikaitkan dengan koleksi dan keberadaan Museum Mpu Purwa, sehingga siswa mendapatkan gambaran bahwa benda-benda koleksi museum memiliki cerita panjang yang berkaitan dengan perkembangan masyarakat Malang pada masa lalu.

“Yang coba kita masukkan ke adik-adik di Mergosono 2 ini adalah mengenalkan sejarah Kerajaan Singhasari secara lebih kompleks karena berkaitan dengan nama Museum Mpu Purwa,” jelasnya.

Sekolah Apresiasi Pembelajaran Kontekstual

Kepala SDN Mergosono 2 Kota Malang, Joko Yuniarto, mengapresiasi pelaksanaan Museum Keliling di sekolahnya. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi siswa karena mereka tidak hanya mengetahui bentuk benda bersejarah, tetapi juga memahami kisah di baliknya.

“Kami apresiatif terkait dengan kegiatan yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dalam mengenalkan koleksi yang ada di Museum Mpu Purwa, terutama untuk di level dasar. Kebetulan hari ini kegiatannya ada di SDN Mergosono 2,” ujarnya.

Menurut Joko, anak-anak selama ini mungkin hanya mengetahui benda bersejarah dari bentuknya. Melalui Museum Keliling, mereka didorong untuk bertanya mengenai asal-usul, fungsi, dan cerita yang berkaitan dengan benda tersebut.

“Kalau selama ini mungkin anak-anak hanya sekadar tahu bendanya, tetapi justru yang menarik adalah di balik kisah benda itu sendiri. Artinya, ini asalnya apa, sehingga mereka tentu akan bertanya-tanya,” katanya.

Ia berharap pembelajaran tersebut dapat menumbuhkan kecintaan siswa terhadap budaya dan sejarah, khususnya sejarah yang berkembang di Kota Malang.

“Paling tidak menumbuhkan kecintaan kepada budaya dan sejarah. Secara umum adalah Indonesia, secara khusus adalah dalam lingkup perkembangan kehidupan masyarakat di Kota Malang itu sendiri,” tuturnya.

Joko juga berharap siswa dapat melanjutkan pengalaman belajar tersebut dengan mengunjungi Museum Mpu Purwa secara langsung.

“Dengan adanya edukasi terkait koleksi Museum Mpu Purwa ini, sedikit banyak anak-anak bisa paham dan tinggal dilanjutkan dengan berkunjung ke Museum Mpu Purwa,” imbuhnya.

Bangun Fondasi Sejarah Sejak Sekolah Dasar

Pembelajaran sejarah melalui Museum Keliling diharapkan menjadi fondasi bagi siswa untuk memahami perkembangan masyarakat Kota Malang pada masa Hindu-Buddha.

Joko berpesan agar edukasi tersebut memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai sejarah dan kebudayaan daerah.

“Semoga dengan adanya edukasi ini anak-anak bisa punya gambaran terkait dengan sejarah kebudayaan serta perkembangan kehidupan masyarakat di Kota Malang, terutama pada masa lampau, pada masa Hindu-Buddha,” pungkasnya.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *