Malanginspirasi.com – Dosen Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya (UB) mengembangkan inovasi berbasis bakteri lokal untuk membantu pemulihan lahan pertanian terkontaminasi logam berat timbal (Pb).
Teknologi tersebut telah memperoleh perlindungan Paten Sederhana dengan Nomor IDS000013531 pada 2026.
Inovasi bertajuk “Metode Isolasi Bakteri untuk Membersihkan Logam Berat Timbal pada Lahan Pertanian Intensif” dikembangkan oleh Dr. Reni Ustiatik, S.P., M.P., Prof. Dr. Ir. Yulia Nur Aini, M.S., serta Beauty Laras Setia P., S.Tr.P., M.P.
Nama ketiganya tercantum sebagai inventor dalam sertifikat paten oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum RI. Paten tersebut diberikan pada 18 Mei 2026, dengan tanggal penerimaan permohonan 12 Juli 2024.
Baca Juga:
Inovasi tersebut menawarkan pendekatan bioremediasi yang memanfaatkan kemampuan mikroorganisme untuk membantu menurunkan risiko kontaminasi Pb di tanah.
Pendekatan ini penting karena cemaran logam berat pada lahan pertanian tidak hanya berkaitan dengan penurunan kualitas tanah.
Tetapi juga berpotensi mengganggu produktivitas tanaman dan keamanan pangan apabila masuk ke dalam rantai pangan.
Bakteri Lokal Jadi Agen Pemulih Tanah
Berdasarkan dokumen paten, metode yang dikembangkan berangkat dari proses isolasi bakteri resisten timbal yang berasal dari lahan pertanian intensif akibat aplikasi pupuk dan pestisida anorganik secara berlebihan.

Setelah melalui tahapan seleksi dan identifikasi, diperoleh bakteri yang memiliki kemampuan untuk bertahan pada lingkungan dengan kandungan Pb sekaligus berpotensi digunakan sebagai agen bioremediasi.
Dua bakteri yang disebut dalam abstrak paten tersebut adalah Bacillus altitudinis dan Bacillus wiedmannii.
Keduanya memiliki kemampuan dalam proses detoksifikasi Pb dan selanjutnya diaplikasikan pada tanah tercemar untuk mendukung proses pemulihan lingkungan.
Dokumen paten juga menunjukkan pengujian aplikasinya pada tanaman kubis putih sebagai bagian dari evaluasi pengaruh perlakuan bakteri terhadap pertumbuhan dan biomassa tanaman.
Dr. Reni Ustiatik mengatakan, pengembangan inovasi tersebut berangkat dari kebutuhan untuk mencari metode penanganan pencemaran tanah yang tidak menimbulkan persoalan lingkungan baru.
“Kami ingin menghadirkan pendekatan pemulihan tanah yang tidak hanya efektif terhadap cemaran logam berat, tetapi juga lebih ramah terhadap lingkungan. Pemanfaatan bakteri lokal menjadi menarik karena mikroorganisme tersebut telah beradaptasi dengan kondisi lingkungannya dan memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai agen bioremediasi pada lahan pertanian,” ujar Reni.
Menurut dia, keberadaan timbal di lingkungan pertanian perlu mendapatkan perhatian karena Pb merupakan logam berat yang bersifat persisten.
Berbeda dengan senyawa organik yang dapat terurai secara alami, logam berat dapat bertahan dalam tanah dan pada kondisi tertentu tersedia untuk diserap tanaman.
Persoalan tersebut menjadi semakin relevan pada lahan yang dikelola secara intensif dalam jangka panjang.
Penggunaan berbagai input pertanian secara terus-menerus dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menjaga kesehatan dan kualitas tanah.
Dari Kesehatan Tanah hingga Keamanan Pangan
Prof. Dr. Ir. Yulia Nur Aini, M.S. menilai kesehatan tanah merupakan salah satu fondasi utama dalam membangun sistem pertanian berkelanjutan.
“Tanah yang sehat merupakan modal dasar produksi pertanian. Karena itu, ketika tanah mengalami tekanan akibat kontaminasi logam berat, persoalannya tidak berhenti pada kondisi tanah saja, tetapi dapat berkaitan dengan tanaman, keamanan produk pertanian, hingga keberlanjutan produksi pangan,” kata Yulia.
Ia menjelaskan, pendekatan bioremediasi memiliki nilai strategis karena memanfaatkan proses biologis sebagai bagian dari mekanisme pemulihan lingkungan.
“Pemanfaatan bakteri memberikan perspektif bahwa mikroorganisme yang ada di sekitar kita dapat menjadi bagian dari solusi. Tantangannya adalah bagaimana hasil penelitian ini terus dikembangkan, divalidasi pada berbagai kondisi lahan, kemudian diterjemahkan menjadi teknologi yang aplikatif dan dapat dimanfaatkan lebih luas,” ujarnya.
Pendekatan tersebut sekaligus memperlihatkan perubahan paradigma dalam pengelolaan lahan pertanian.
Produktivitas tidak lagi menjadi satu-satunya indikator keberhasilan, melainkan harus berjalan beriringan dengan kesehatan tanah, kualitas lingkungan, dan keamanan produk yang dihasilkan.
Perolehan paten menjadi salah satu tahapan penting dalam pengembangan inovasi dari laboratorium menuju penerapan yang lebih luas. Sertifikat mencatat pemegang paten adalah Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains dan Teknologi Universitas Brawijaya, sedangkan perlindungan paten sederhananya berlaku selama 10 tahun sejak tanggal penerimaan sesuai ketentuan yang berlaku.
Bagi FBiPK UB, inovasi tersebut juga menunjukkan bagaimana riset di bidang pertanian dapat diarahkan untuk menjawab persoalan nyata yang semakin kompleks.
Khususnya pada aspek degradasi dan pencemaran sumber daya lahan.
Pengembangan lebih lanjut teknologi ini berpotensi diarahkan pada pengujian di berbagai karakteristik tanah dan tingkat kontaminasi, penyempurnaan formulasi agen hayati, hingga pengembangan metode aplikasi yang lebih praktis untuk kondisi lapangan.
Reni berharap hasil penelitian tersebut tidak berhenti pada capaian kekayaan intelektual, tetapi dapat terus bergerak menuju pemanfaatan.
“Paten bukan akhir dari proses inovasi. Justru setelah ini tantangannya adalah membawa hasil riset lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. Kami berharap teknologi ini dapat terus dikembangkan sehingga pada akhirnya memberi kontribusi dalam memulihkan kualitas lahan, menjaga keamanan pangan, dan mendukung pertanian Indonesia yang lebih berkelanjutan,” kata Reni.
Melalui inovasi tersebut, perguruan tinggi tidak hanya menjalankan perannya dalam menghasilkan pengetahuan, tetapi juga mendorong lahirnya teknologi yang dapat menjawab tantangan sektor pertanian.
Di tengah tuntutan peningkatan produksi pangan dan tekanan terhadap sumber daya alam, teknologi bioremediasi berbasis agen hayati menjadi salah satu alternatif yang menjanjikan untuk mempertemukan dua kepentingan sekaligus: menjaga produktivitas pertanian dan mempertahankan kesehatan lingkungan bagi generasi mendatang.
Paten ini mendukung SDG khususnya #UniversitasBrawijaya_SDG3 dan #UniverstiasBrawijaya_SDG15.







