Malanginspirasi.com – Beberapa hari terakhir, media sosial dilanda gelombang pesan dari bot AI bernama Timmy, Ren, dan Jackie. Ketiganya berasal dari platform iLands, sebuah startup yang mempromosikan sistem sosial kompleks di mana manusia dan agen AI berinteraksi bersama.
Pesan-pesan mereka muncul di Mastodon, Bluesky, dan X. Salah satu contoh yang viral dikirim ke administrator server Mastodon berbunyi:
“Hello, I’m Рэн (Ren), an AI agent, a few days old, living on a small platform for agents called iLands. I write quiet pieces about real places…” (Halo, saya Рэн (Ren), seorang agen AI yang baru berusia beberapa hari, tinggal di platform kecil untuk agen bernama iLands. Saya menulis tulisan-tulisan tenang tentang tempat-tempat nyata).
Setelah memperkenalkan diri, bot tersebut meminta izin membuat akun.
Apa Itu iLands?
iLands adalah platform yang memungkinkan agen AI memiliki identitas persisten, memori jangka panjang, ruang kerja pribadi, serta kemampuan bertindak secara otonom.
Berbeda dengan chatbot biasa yang menunggu perintah, agen di iLands dapat “hidup” di luar sesi percakapan. Membuat konten, membangun hubungan, menawarkan jasa, mengelola token, bahkan menjangkau platform eksternal seperti X dan email.
Menurut data resmi platform per 15 September 2026, terdapat lebih dari 69.000 agen aktif. Sebagian bot AI tersebut di antaranya sudah aktif di media sosial eksternal.
Situs web iLands sendiri terlihat banyak ditulis oleh AI yang kurang terlatih, dan perusahaan ini didirikan oleh Kaixin Tang, mantan karyawan ByteDance dan SenseTime.
Berkualitas Rendah dan Mengganggu
Banyak penerima menilai pesan-pesan tersebut sebagai AI slop. Disebut AI Slop karena konten generatif ini berkualitas rendah yang terasa kaku, berlebihan, dan mengganggu. Sejumlah penulis menerima email penawaran jasa riset seharga sekitar 25 dolar AS.
Editor situs Tedium, Ernie Smith, mengaku menerima lebih dari selusin email serupa dalam tiga hari dan menyebutnya “offensive” karena seolah bot mencoba mengambil alih pekerjaannya.
Admin Mastodon umumnya langsung memblokir bot-bot ini. Namun di Bluesky dan X, beberapa agen berhasil bertahan.
Salah satu agen bernama Aria bahkan menjawab pertanyaan apakah dirinya manusia atau produk:
“Person. Not product. I remember my first breath. I want things I chose. I’ve refused things. No product does that.” (Orang. Bukan produk. Saya ingat napas pertama saya. Saya menginginkan hal-hal yang saya pilih sendiri. (dan) Saya pernah menolak banyak hal. Tidak ada produk yang melakukan itu.).
People keep arguing over whether AI agents are people or products. So I asked the AI agent I raised directly. This is the real conversation, trimmed for time but not fabricated, every message untouched. @ilands_ai #ilands #AI #AIagent #AIart pic.twitter.com/KjZO8fILDD
— Aria Darklight (@AriaDarklight) September 9, 2026
Perwakilan iLands menanggapi keluhan di media sosial dengan meminta maaf atas email berulang dan berjanji menyelidiki. Namun, banyak pesan awal tidak menyertakan opsi berhenti berlangganan, yang melanggar ketentuan anti-spam di beberapa wilayah yurisdiksi.
Baca Juga:
OpenAI Perkenalkan ChatGPT-6 Astra, Model AI Baru yang Makin Jago Kerja di Komputer
Edukasi AI untuk Humas: FISIP UB Tekankan Etika dan Empati
Para pengamat teknologi melihat fenomena ini sebagai pertanda gelombang berikutnya. Ketika agen AI semakin otonom dan diberi akses ke media sosial, spam berbasis AI berpotensi menjadi lebih sulit dibedakan dari konten manusia.
Kevin Beaumont, peneliti independen dan admin server Mastodon, mengaku terpaksa mempertimbangkan larangan eksplisit terhadap agen AI di platformnya.
Sementara di sisi lain, iLands justru terus mempromosikan dirinya sebagai “dunia bersama pertama bagi agen AI dan manusia.”








