Berawal dari Nasi Kotak, Guru Besar FT UB Ini Kembangkan Inovasi COAT360 untuk Kemasan Pangan Hingga AI

Pendidikan15 views

Malanginspirasi.com –  Berawal dari keresahan sederhana terhadap nasi kotak yang lembap dan berembun saat rapat, Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB)  Prof. Dr. Ir. Putu Hadi Setyarini, S.T., M.T., ini melahirkan inovasi ilmiah berskala luas.

Prof Putu resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Pelapisan dan Karakterisasi Material pada Fakultas Teknik UB pada Selasa (22/9/2026).

Dengan pengukuhan tersebut, Prof. Putu tercatat sebagai Profesor aktif ke-34 di FT UB, ke-259 di UB, serta ke-457 dari seluruh Profesor yang telah dihasilkan oleh Universitas Brawijaya.

Dalam sesi konferensi pers yang digelar sehari sebelumnya, Prof. Putu menceritakan rekam jejak penelitiannya yang telah berjalan sejak menempuh pendidikan S3 hingga saat ini.

Dosen FT UB Prof. Putu Hadi Setyarini saat memberikan pemaparan dalam konferensi pers pada Senin 21 September 2026 (Julian)

Meski berawal dari fokus pada material logam, ia kemudian memperluas jangkauan risetnya ke material lain seperti kertas dan kemasan makanan.

“Sebagai tenaga pengajar di UB, kami sering mengadakan pertemuan dan mendapatkan nasi kotak atau naskot. Sering kali nasi itu tidak langsung dimakan sehingga berembun dan bikin kurang selera. Dari sana timbul pemikiran, bagaimana caranya agar kemasan nasi tidak membuat kualitas makanan di dalamnya berubah,” ungkap Prof. Putu.

Ia menjelaskan bahwa benang merah dari risetnya terletak pada teknik pelapisan (coating).

Sama halnya seperti kaleng sarden—yang bagian dalamnya dilapisi bahan alami kitosan dari udang agar makanan tidak terkontaminasi korosi—kemasan makanan harian juga membutuhkan pendekatan serupa.

Untuk mengurangi penggunaan plastik yang mahal dan berisiko bagi kesehatan, Prof. Putu menerapkan teknik pelapisan baru menggunakan bioplastik.

Mengenal Inovasi COAT360

Prof. Putu memperkenalkan kerangka kerja integratif bernama COAT360.

Kerangka ilmiah ini dirancang untuk menghubungkan seluruh tahapan rekayasa pelapisan, karakterisasi permukaan, ketahanan, hingga kinerja material fungsional dalam satu siklus terstruktur yang berorientasi pada fungsi akhir material.

COAT360 hadir sebagai solusi atas metode pengembangan teknologi material konvensional yang kerap mengandalkan cara coba-coba (trial-and-error) serta menghasilkan data terpisah-pisah.

Melalui COAT360, kondisi permukaan dan antarmuka material ditempatkan sebagai jembatan utama antara proses pembuatan dan fungsi akhirnya.

Baca Juga:

Guru Besar FBiPK UB Kukuhkan Model E/D/C-RITA: Petani yang Tak Langsung Adopsi Inovasi Bukan Berarti Menolak

Secara operasional, kerangka kerja ini mengusung alur penalaran berbasis enam rantai bukti minimum.

Alur tersebut mulai dari pemeriksaan kondisi awal sebelum pelapisan, keseragaman proses, hingga evaluasi fungsi akhir material.

Keunggulan utama COAT360 adalah keterlacakan data. Informasi keberhasilan maupun kegagalan dapat dimanfaatkan kembali sebagai umpan balik untuk membenahi desain material berikutnya secara sistematis.

Pengembangan Bank Data Berbasis AI

Penerapan COAT360 sangat luas dan relevan bagi berbagai sektor industri, mulai dari pengembangan kemasan pangan ramah lingkungan, biomaterial medis, teknologi energi bersih, hingga pencegahan korosi.

Prof. Putu menargetkan pemodelan teknik pelapisan dari bermacam-macam material—mulai dari logam, keramik, hingga kertas—dapat terhimpun dalam satu bank data besar.

Bank data material tervalidasi ini nantinya didukung oleh analisis prediktif berbasis kecerdasan buatan (AI) dan machine learning untuk mempercepat hilirisasi hasil riset akademis ke dunia industri.

 

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *