Gagas Literasi Visual Dekolonial, Guru Besar FISIP UB Ajak Masyarakat Bongkar ‘Penjajahan’ dalam Tampilan Visual

Pendidikan14 views

Malanginspirasi.com – Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB), Prof. Dr. Desi Dwi Prianti, S.Sos., M.Comn., menawarkan gagasan baru mengenai Literasi Visual Dekolonial.

Gagasan ini ia sampaikan dalam pengukuhan profesor yang dilaksanakan pada Selasa (22/9) di Gedung Samanta Krida UB, sebagai langkah membongkar rezim pengetahuan kolonial (epistemik kolonial) yang tanpa disadari terus memengaruhi cara manusia modern membaca dan memaknai realitas.

Prof. Desi, yang dikukuhkan sebagai profesor dalam bidang ilmu Media, Gender, dan Studi Budaya—sekaligus guru besar ke-6 di FISIP dan ke-460 di Universitas Brawijaya—menilai isu ini sangat mendesak.

Konsumsi informasi masyarakat telah bergeser drastis dari teks menuju visual, mulai dari gambar, media sosial, hingga tatanan antarmuka aplikasi.

Namun, perubahan ini tidak diimbangi dengan penguatan literasi visual, sehingga timbul paradoks di mana masyarakat dibanjiri representasi visual tetapi rendah kemampuan dalam mengkritiknya.

Baca Juga:

Berawal dari Nasi Kotak, Guru Besar FT UB Ini Kembangkan Inovasi COAT360 untuk Kemasan Pangan Hingga AI

Dosen Departemen Ilmu Komunikasi ini meluruskan stereotip masyarakat yang kerap memandang komunikasi sebatas seni mengirimkan pesan yang praktis atau jurnalistik.

Menurutnya, komunikasi tidak hanya soal transmisi pesan, melainkan bagian utama dari konstruksi pengetahuan yang membentuk norma, membedakan hal biasa dan tidak biasa, serta membangun cara kita melihat diri sendiri.

Ia menjelaskan bahwa standar visual dan selera kebarat-baratan yang diiklankan sejak zaman penjajahan telah membentuk pola pikir bahwa figur Barat jauh lebih superior.

“Dampaknya, paparan visual modern kerap membuat masyarakat Indonesia merasa minder, seperti merasa kurang cantik, kurang modern, atau kurang instagramable,” katanya saat konferensi pers jelang pengukuhan sebagai profesor.

Pengalaman yang mengikis kebanggaan atas realitas sosial sendiri ini menunjukkan bahwa masyarakat masih mengalami keterjajahan secara terselubung.

Sebagai jalan keluar, Prof. Desi menawarkan tiga langkah strategi Literasi Visual Dekolonial.

“Langkah pertama adalah menyingkap, yaitu mengganti pertanyaan sederhana “apa yang saya lihat?” dengan kritisi “siapa yang menempatkan gambar ini, dari sudut pandang siapa disusun, dan siapa yang dihilangkan?”, katanya

Langkah kedua, sambungnya adalah melacak, yakni menelusuri asal-usul historis standar visual hingga ke rezim pengetahuan kolonial yang melahirkannya.

“Langkah ketiga adalah melawan, dengan memproduksi tatanan visual tandingan, seperti kurasi museum yang inklusif, bahan ajar yang tidak mereproduksi hierarki gender, serta praktik bermedia sosial yang merdeka dari ukuran kelayakan kolonial,” lanjut dia

Lewat gagasan ini, Prof. Desi mengenalkan modul ajar literasi visual kritis, protokol kurasi museum inklusif, dan riset transdisipliner tentang tatanan visual digital.

Ia berharap masyarakat Indonesia tidak lagi sekadar menjadi penerima gambar pasif, melainkan pembaca yang berdaulat, sebab ilmu pengetahuan pada hakikatnya harus bekerja untuk memanusiakan dan memerdekakan.

 

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *