Malanginspirasi.com – Kehadiran Festival DOKAR (Dolanan Kreasi Anak) yang digagas Kelompok 4B PGSD Projek Kepemimpinan UNIKAMA membuat halaman SDN Tanjungrejo 4 Kota Malang tampak lebih ramai dari biasanya pada 23–24 September 2026.
Bukan karena gawai atau permainan digital, melainkan karena anak-anak kembali asyik dengan permainan yang mungkin mulai jarang mereka temui dalam keseharian.
Kegiatan ini menjadi bagian dari Projek Kepemimpinan PPG Calon Guru UNIKAMA dengan mengusung tema “Melestarikan Budaya melalui Dolanan Tradisional sebagai Wadah Kreativitas dan Kebersamaan Anak.”
Sembilan mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan tersebut adalah Nadhifa Anggraeni, Nanik Ramadhani, Niken Ardhinata, Nur Anisa, Putra Adiamsa, Putri Rahmawati, Rizky Ayu Wachdani, Rizky Bintang Ainnur Dzaky, dan Ronaa Abiyyah Septiani.
Mereka melaksanakan kegiatan di bawah bimbingan dosen mata kuliah Projek Kepemimpinan, Andika Gutama, M.Pd.
Hari pertama, 23 September, digunakan untuk mengenalkan Festival DOKAR kepada siswa.
Anak-anak diajak memahami tujuan kegiatan sekaligus diperkenalkan dengan lima permainan tradisional yang akan dimainkan pada hari berikutnya, yaitu telepon kabel, egrang batok, lompat tali, engklek, dan dakon.

Namun kegiatan tidak berhenti pada pengenalan.
Para siswa juga diajak membuat sendiri alat permainan sederhana berupa lompat tali dan telepon kabel menggunakan bahan yang mudah diperoleh.
Disinilah Festival DOKAR mulai menemukan maknanya: anak bukan hanya menjadi pemain, tetapi juga menjadi pembuat.
Keesokan harinya, 24 September, sebanyak 145 siswa SDN Tanjungrejo 4 mengikuti Festival DOKAR. Mereka mencoba permainan secara langsung, bergantian, bekerja sama, berkomunikasi, sekaligus belajar mengikuti aturan permainan.
Jargon “Festival DOKAR.. Bermain, Berkarya, Lestarikan Budaya” pun terasa bukan sekadar kalimat penghias kegiatan. Anak-anak benar-benar mengalami proses bermain, berkarya, dan mengenal kembali permainan yang merupakan bagian dari budaya masyarakat.
Dosen pembimbing Projek Kepemimpinan, Andika Gutama, M.Pd., melihat kegiatan tersebut sebagai ruang belajar yang tidak hanya berorientasi pada permainan.
“Melalui Festival DOKAR, mahasiswa belajar bahwa sebuah projek kepemimpinan tidak berhenti pada bagaimana kegiatan dapat dilaksanakan, tetapi juga bagaimana kegiatan tersebut memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi anak. Permainan tradisional menjadi media untuk membangun kerja sama, komunikasi, kreativitas, sportivitas, sekaligus mengenalkan budaya.”
Menurutnya, pengalaman mahasiswa dalam merancang dan menjalankan kegiatan bersama siswa juga menjadi bagian penting dari proses pembentukan calon guru.
Baca Juga:
Dalang Gen Z Hidupkan Pesan Kebudiluhuran Lewat SENADA Vol 2 UNIKAMA
Sementara itu, Kepala SDN Tanjungrejo 4, Lestari Wahyu Widiastuti, S.Pd., menyambut positif kegiatan tersebut. Ia berharap Festival DOKAR tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat.
“Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut dan menjadi pembiasaan atau rutinitas di lingkungan sekolah. Permainan tradisional bukan hanya membuat anak bermain, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk berinteraksi, bekerja sama, dan belajar bersama.”
Antusiasme siswa terlihat sepanjang kegiatan.
Mereka terlibat aktif dalam rangkaian Festival DOKAR, mulai dari sosialisasi, membuat alat permainan hingga mencoba lima jenis permainan tradisional yang disiapkan.
Para guru pun memberikan apresiasi. Festival DOKAR dinilai dapat menjadi salah satu alternatif aktivitas yang membantu mengurangi penggunaan gadget di kalangan siswa.
Harapannya, permainan tradisional tidak hanya dimainkan ketika festival berlangsung, tetapi juga hadir dalam keseharian anak-anak di sekolah.
Menariknya, alat permainan yang dibuat dan digunakan dalam kegiatan tidak dibawa kembali oleh mahasiswa.
Peralatan lompat tali dan telepon kabel tersebut ditinggalkan di SDN Tanjungrejo 4 sebagai inventaris sekolah, sehingga dapat terus digunakan siswa setelah Festival DOKAR selesai.
Dengan demikian, festival ini tidak benar-benar berakhir ketika kegiatan ditutup. Ada alat permainan yang tertinggal, ada pengalaman yang dibawa pulang, dan ada kemungkinan kebiasaan baru yang tumbuh di lingkungan sekolah.
Festival DOKAR pada akhirnya mengingatkan bahwa melestarikan budaya tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Kadang cukup dengan memberi ruang kepada anak untuk bermain, membuat, mencoba, tertawa bersama, dan mengenal permainan yang pernah menjadi bagian dari kehidupan generasi sebelumnya.
Sebab, ketika anak masih mau bermain bersama, budaya sebenarnya belum kehilangan tempatnya.
Menurut Engelbertus Kukuh Widijatmoko, M.Pd., Dosen Prodi PPKn UNIKAMA, Festival DOKAR dapat dipandang sebagai praktik awal pembentukan civil society.
“Hal ini karena anak-anak tidak hanya diajak bermain, tetapi belajar hidup bersama melalui interaksi, komunikasi, kerja sama, kepatuhan terhadap aturan, sportivitas, serta kepedulian terhadap kepentingan bersama,” katanya.







