Malanginspirasi.com – Universitas Brawijaya (UB) menggelar ‘The 2nd International Conference on Tropical Agroforestry in Indonesia (ICTAFI) 2026 yang berlangsung pada 23–25 September 2026’.
Bertempat di Oryza Sativa, Guest House UB Malang, konferensi internasional yang diselenggarakan secara hybrid melalui pertemuan tatap muka dan platform Zoom tersebut menjadi forum pertukaran pengetahuan sekaligus penguatan kolaborasi internasional dalam menjawab berbagai tantangan pengelolaan agroforestri tropis.
Mulai dari kesehatan tanah, restorasi ekosistem, perubahan iklim, sekuestrasi karbon, konservasi biodiversitas, hingga ketahanan pangan.
Tahun ini, konferensi tersebut mengusung tema “Rooted Futures: Bridging Soil Wisdom, Agroforestry, and Regenerative Landscapes for Healthy People and Planet”.
Kegiatan yang merupakan gagasan Departemen Tanah, Fakultas Bio-industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) yang juga merupakan serangkaian Dies Natalis UB ke-64 ini bertujuan untuk mempertemukan para akademisi, peneliti, pengambil kebijakan, dan praktisi global guna membahas peran strategis agroforestri tropis dalam menjaga kesehatan tanah, mitigasi perubahan iklim, serta kesejahteraan masyarakat.
Hari pertama ICTAFI 2026 diawali dengan rangkaian pembukaan yang dilanjutkan dengan sambutan Ketua Komite The 2nd ICTAFI 2026 Rika Ratna Sari, Ph.D., Dekan FBiPK UB Prof. Mangku Purnomo, serta Rektor Universitas Brawijaya Prof. Widodo.
Dari ICTAFI 2026, ingin menghadirkan ruang pertemuan bagi berbagai pengetahuan, pengalaman, dan perspektif tentang agroforestri.
Baca Juga:
Masa depan yang berkelanjutan harus berakar pada tanah yang sehat, sistem agroforestri yang beragam, lanskap yang tangguh, serta pengetahuan masyarakat yang mengelolanya
Ketua Komite The 2nd ICTAFI 2026 Rika Ratna Sari menyampaikan bahwa agroforestri tidak hanya berkaitan dengan penggabungan pohon dan tanaman pertanian, tetapi juga mencakup hubungan yang dinamis antara proses ekologis, pengetahuan lokal, kebutuhan penghidupan masyarakat, kelembagaan, hingga pasar.
“Tantangan yang dihadapi lanskap tropis tidak dapat diselesaikan oleh satu disiplin ilmu, satu institusi, satu negara, maupun satu generasi. Karena itu, kami berharap diskusi yang dimulai melalui ICTAFI 2026 dapat berlanjut dalam bentuk riset, pendidikan, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan kebijakan, serta kolaborasi lintas negara dan institusi,” katanya.
Ketua Komite juga menyoroti tingginya partisipasi dalam ICTAFI 2026 yang melibatkan 159 peserta dari sembilan negara, serta keterlibatan kuat generasi muda dalam kegiatan ilmiah.
“Kami sangat mengapresiasi keterlibatan generasi muda. Lebih dari 60 mahasiswa dari Indonesia, India, dan Malaysia berpartisipasi dalam kompetisi poster ilmiah dan fotografi. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menyampaikan gagasan ilmiah sekaligus melihat lanskap agroforestri melalui kreativitas dan pendekatan visual,” ujarnya.
Agroforestri Butuhkan Pendekatan Lintas Disiplin
Dekan FBiPK UB Prof. Mangku Purnomo menekankan bahwa agroforestri merupakan bidang yang memiliki keterkaitan erat dengan berbagai persoalan strategis, mulai dari keberlanjutan lingkungan dan ketahanan pangan hingga kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
Karena itu, pengembangan agroforestri tidak cukup dilakukan melalui satu disiplin ilmu. Kolaborasi antara berbagai bidang keilmuan diperlukan untuk menghasilkan pendekatan yang mampu menjawab kompleksitas persoalan di lapangan.
“Agroforestri tidak hanya berbicara mengenai bagaimana mengelola pohon dan tanaman dalam satu lanskap. Di dalamnya terdapat persoalan lingkungan, tanah, air, biodiversitas, ekonomi, sosial, kelembagaan, dan kehidupan masyarakat. Karena itu, kita membutuhkan kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara,” kata Prof. Mangku.
Ia menambahkan, konferensi internasional seperti ICTAFI memiliki posisi strategis bagi perguruan tinggi untuk mempertemukan ilmu pengetahuan dengan berbagai persoalan nyata yang terjadi di masyarakat.
“Kami berharap ICTAFI menjadi ruang untuk membangun jejaring yang lebih kuat antara akademisi, peneliti, praktisi, dan berbagai institusi. Dari forum seperti inilah kita dapat mengembangkan penelitian bersama, pertukaran pengetahuan, dan inovasi yang memiliki dampak lebih luas,” ujarnya.
Rektor UB Dorong Riset Berdampak bagi Masyarakat
Sementara itu, Rektor Universitas Brawijaya Prof. Widodo menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menghasilkan penelitian yang tidak hanya memiliki kontribusi akademik, tetapi juga mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan.

Menurutnya, berbagai persoalan global seperti perubahan iklim, degradasi lingkungan, ketahanan pangan, dan pengelolaan sumber daya alam membutuhkan keterlibatan aktif perguruan tinggi serta kolaborasi ilmiah yang melampaui batas negara.
“Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menghasilkan ilmu pengetahuan yang mampu menjawab persoalan nyata. Penelitian tidak cukup berhenti pada publikasi, tetapi perlu memberikan manfaat bagi masyarakat, lingkungan, dan pembangunan yang berkelanjutan,” kata Prof. Widodo.
Ia juga menilai ICTAFI 2026 menjadi bagian penting dalam memperkuat posisi Universitas Brawijaya dalam jejaring akademik internasional. “Melalui forum internasional seperti ICTAFI, kita dapat mempertemukan para ilmuwan dari berbagai negara, membangun penelitian bersama, serta memperluas pertukaran pengetahuan. Kami berharap kolaborasi yang dimulai dari konferensi ini dapat terus berkembang setelah kegiatan selesai,” ujarnya.
Soroti Kesehatan Tanah dan Ketahanan Pangan
Para pakar internasional membagikan wawasan mendalam mengenai pemulihan ekosistem. Prof. Ken Giller dari Wageningen University & Research membawakan materi mengenai sistem agroforestri regeneratif untuk restorasi tanah dan ekosistem.
Sementara itu, Prof. Kurniatun Hairiah dari Universitas Brawijaya menyoroti pentingnya kesehatan tanah dalam lanskap agroforestri demi mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan.
Selain itu, Prof. Edzo Veldkamp (University of Göttingen) mengenai ketahanan iklim dan sekuestrasi karbon, Mr. Rowan Reid (Bambra Agroforestry Farm) tentang konservasi keanekaragaman hayati, serta Prof. George Cadish (University of Hohenheim) mengenai pemulihan fungsi tanah pada sistem agrosilvopastoral.
Selanjutnya konferensi juga berfokus pada pendorong sosio-ekonomi, tata kelola, dan rantai nilai. Prof. Mangku Purnomo (UB), Prof. Meine van Noordwijk (ICRAF/WUR), dan Dr. Sonya Dewi (CIFOR/ICRAF) memaparkan materi seputar inovasi kelembagaan, pendekatan partisipatif, serta mekanisme insentif untuk memperluas penerapan agroforestri regeneratif.
Selain itu, Dr. Bruno Verbist (KU Leuven) dan Dr. Paul Burger (CO2 Operate B.V) turut mengulas nilai ekonomi serta rantai pasar pada sistem agroforestri berbasis vanili.
ICTAFI 2026 juga menghadirkan sesi presentasi paralel yang terbagi ke dalam empat topik utama:
- Agroforestri Regeneratif, Kesehatan Tanah, & Restorasi Ekosistem (Regenerative Agroforestry, Soil Health & Ecosystem Restoration).
- Ketahanan Iklim, Penyerapan Karbon, Konservasi Air & Keanekaragaman Hayati (Climate Resilience, Carbon Sequestration, Soil Water & Biodiversity Conservation).
- Masyarakat, Budaya, Pengetahuan, & Kesejahteraan Manusia (People, Culture, Knowledge & Human Wellbeing).
- Tata Kelola, Kebijakan, Ekonomi, Kehutanan Sosial, & Transformasi Pasar (Governance, Policy, Economics, Social Forestry & Market Transformation).
Peneliti dari berbagai lembaga terkemuka seperti BRIN, CIRAD (Prancis), Universitas Gadjah Mada, Universitas Muria Kudus, hingga Universiti Malaysia Sabah turut mempresentasikan hasil riset terbaru mereka.
Kehadiran para pembicara tersebut mempertemukan berbagai perspektif dalam pengembangan agroforestri, mulai dari regenerasi dan kesehatan tanah, restorasi ekosistem, ketahanan terhadap perubahan iklim dan penyimpanan karbon hingga konservasi biodiversitas dan pengelolaan sumber daya organik.
Bangun Jejaring Pengetahuan Agroforestri Tropis
Penyelenggaraan The 2nd ICTAFI 2026 selama dua hari dirancang tidak hanya sebagai ruang presentasi hasil penelitian, tetapi juga sebagai forum untuk memperkuat dialog antara ilmu pengetahuan, praktik pengelolaan sumber daya alam, dan kebutuhan masyarakat.
Format hibrida memungkinkan pertukaran pengetahuan berlangsung lebih luas dengan menghubungkan peserta yang hadir secara langsung di Malang dengan peserta yang mengikuti konferensi secara virtual.
Melalui pertemuan para akademisi, peneliti, praktisi, dan pemangku kepentingan dari berbagai institusi, ICTAFI 2026 diharapkan membuka peluang lahirnya penelitian kolaboratif, publikasi bersama, pertukaran akademik, serta berbagai bentuk kerja sama internasional dalam bidang agroforestri tropis.
Bagi FBiPK Universitas Brawijaya, penyelenggaraan ICTAFI juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang relevan dengan tantangan global.
Konferensi ini sekaligus menegaskan pentingnya pendekatan multidisiplin dalam pengelolaan agroforestri.
Tantangan terhadap tanah, ekosistem, biodiversitas, iklim, dan ketahanan pangan saling berkaitan sehingga membutuhkan kolaborasi keilmuan dan kelembagaan yang semakin kuat.
The 2nd ICTAFI 2026 berlangsung hingga Kamis, 24 September 2026, dengan rangkaian kegiatan ilmiah yang mempertemukan gagasan, hasil penelitian, serta pengalaman dari para peneliti dan praktisi dalam upaya mendorong pengelolaan agroforestri tropis yang berkelanjutan.







