Pria Delhi di Kanada Klaim Lebih Fit Usai Tinggalkan Makanan India, Picu Debat Sengit di Media Sosial

Kesehatan, Viral87 views

Rolasnews.com – Seorang pria asal Delhi yang menetap di Kanada, Banshdeep Singh, memicu perdebatan sengit di media sosial setelah membagikan pengalamannya meninggalkan makanan India. Dalam video yang diunggah di akun Instagramnya, ia mengaku bahwa keputusan untuk berhenti memasak, berbelanja bahan, dan mengonsumsi makanan India secara rutin selama sekitar 1,5 tahun telah mengubah tubuhnya menjadi “bentuk terbaik dalam hidupnya”.

Singh menjelaskan bahwa perubahan pola makan tersebut memudahkannya mengatur asupan kalori dan protein.

Saat ini ia mengonsumsi empat kali makan sehari dengan lebih dari 150 gram protein, sambil tetap menjaga asupan kalorinya agar tidak berlebihan.

Dengan menerapkan pola makan tersebut, Singh merasa kenyang sekaligus mendapat kepuasan mental dari pola makan barunya. Ia juga mengakui kadang masih makan makanan India saat keluar rumah, namun tidak lagi memasaknya di rumah.

Alasan utamanya bersifat praktis.

Menurut Singh, menyiapkan makanan India memakan waktu lama. Belanja bahan khusus, meracik berbagai rempah, hingga membuat tadka (proses menumis bumbu).

Ia menilai proses tersebut “berpengaruh buruk pada tubuh” dalam konteks tujuan kebugarannya.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Bansh (@banshdeep___singh)


Meski demikian, ia menekankan bahwa tujuannya bukan mencemooh makanan India, melainkan memotivasi orang yang kesulitan mencapai progres kebugaran.

“Tidak ada niat menyakiti siapa pun. Tujuan video ini semata-mata memotivasi orang yang belum bisa berkembang. Ini berhasil untuk saya. Bisa jadi berhasil juga untuk Anda,” tulisnya dalam klarifikasi.

Baca Juga:

Tips Menerapkan Gaya Hidup Sehat yang Sederhana dan Efektif

Tekanan Darah Tinggi? 10 Makanan Ini Wajib dihindari Penderita Hipertensi

Picu Reaksi Beragam

Video tersebut segera memancing tanggapan beragam. Sebagian pengguna mendukung pengalaman Singh. Mereka menyatakan bahwa mengurangi frekuensi makanan India yang cenderung kaya karbohidrat memudahkan pengelolaan protein dan kalori, terutama bagi mereka yang fokus pada pembentukan otot atau penurunan berat badan. Beberapa membandingkannya dengan pola makan berbasis daging, salad, dan sayuran yang lebih mudah dilacak.

Di sisi lain, banyak yang menolak generalisasi. Kritikus berpendapat bahwa masalahnya bukan pada makanan India itu sendiri, melainkan cara pengelolaannya. Mereka menekankan bahwa masakan India bisa disesuaikan dengan kebutuhan protein dan serat tinggi, misalnya dengan menambah sumber protein nabati atau hewani, mengurangi minyak, serta mengatur porsi.

Beberapa bahkan menyoroti kekayaan gizi tradisional India, termasuk serat dari sayuran dan biji-bijian, yang justru dinilai bermanfaat jika dikonsumsi dengan bijak.

Perdebatan di media sosial ini terutama berkaitan dengan adaptasi pola makan imigran, terutama di kalangan warga India di negara Barat. Pengalaman personal Singh menjadi pemicu yang menyentuh isu identitas budaya, praktikalitas hidup modern, serta tantangan menjaga kebugaran di tengah kesibukan.

Hingga kini, Singh tetap menekankan bahwa ini adalah pilihan pribadi berdasarkan pengalamannya sendiri, bukan rekomendasi universal.

Video dan komentarnya ramai diperbincangkan di platform media sosial. Menggambarkan bagaimana satu klaim sederhana dapat membuka ruang perdebatan tentang makanan, kesehatan, dan budaya.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *