Museum Keliling Kenalkan Sejarah Candi Badut kepada Siswa SDN Karangbesuki 4

Pendidikan22 views

Malanginspirasi.com — Program Museum Keliling Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang menyambangi SDN Karangbesuki 4, Kota Malang, Kamis (3/9/2026).

Kegiatan tersebut secara khusus mengenalkan sejarah lokal, termasuk Situs Karangbesuki dan Candi Badut, kepada para siswa.

Penanggung jawab Museum Keliling Disdikbud Kota Malang, Rakai Hino Galeswangi atau Sam Raka, mengatakan materi yang diberikan dalam kunjungan kali ini memiliki penekanan berbeda dibandingkan pelaksanaan Museum Keliling di sekolah lainnya.

Perbedaan tersebut disesuaikan dengan lokasi sekolah yang berada di kawasan yang memiliki keterkaitan erat dengan sejumlah tinggalan sejarah.

“Yang dibahas hampir sama dengan hari-hari kemarin, cuma ada sedikit perbedaan. Hari ini kita khususkan karena wilayahnya dekat dengan Candi Badut dan Situs Karangbesuki di SD Karangbesuki 4 ini,” ujar Sam Raka.

Menurutnya, kedekatan geografis tersebut menjadi momentum untuk mengenalkan sejarah lingkungan sekitar secara lebih kontekstual kepada siswa. Mereka tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai museum dan koleksi benda bersejarah, tetapi juga memahami bahwa kawasan tempat mereka belajar memiliki tinggalan budaya yang penting.

“Supaya adik-adik lebih mengenal bahwa di wilayahnya itu ada tinggalan candi tertua, yaitu Candi Badut, dalam arti khusus tertua di Jawa bagian timur,” jelasnya.

Sam Raka mengatakan keberadaan Candi Badut dan Situs Karangbesuki memiliki nilai penting dalam sejarah perkembangan kawasan Malang.

Karena itu, pengetahuan mengenai situs tersebut perlu diperkenalkan sejak usia sekolah.

Baca Juga:

Kunjungi SD Muhammadiyah 4 Malang, Museum Keliling Jadi Jembatan Pelajar Mengenal Warisan Budaya Malang

“Adik-adik kita arahkan untuk mengetahui bahwa di wilayah Karangbesuki ini ada Candi Badut dan Situs Karangbesuki yang merupakan situs berkaliber nasional, bukan hanya lokal,” katanya.

Ia menilai pengenalan sejarah lokal sejak dini juga penting untuk membangun rasa bangga sekaligus kepedulian generasi muda terhadap warisan budaya di daerahnya.

“Harus berbangga hati bahwa tempat sekolah mereka berada di dekat situs nasional, yaitu Candi Badut,” ujarnya.

Dorong Siswa Memahami Warisan Budaya

Museum Keliling tidak hanya mengenalkan nama dan keberadaan situs, tetapi juga mendorong siswa memahami konsep dasar mengenai situs, percandian, tinggalan sejarah, hingga pentingnya pelestarian warisan budaya.

“Supaya adik-adik bisa lebih mengembangkan pengetahuan seperti apa situs itu, seperti apa percandian itu, dan khususnya seperti apa situs-situs atau candi-candi peninggalan yang dijadikan warisan budaya sekelas nasional,” tutur Sam Raka.

Dengan pendekatan tersebut, Museum Keliling diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan memperkenalkan koleksi museum. Program ini juga menjadi sarana membawa pembelajaran sejarah lebih dekat dengan kehidupan siswa.

Museum Keliling Dekatkan Museum dengan Sekolah

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Malang, Juli Handayani, mengatakan Museum Keliling merupakan program tahunan Bidang Kebudayaan yang salah satu tujuannya mendekatkan museum kepada masyarakat, khususnya pelajar.

Menurut Juli, Kota Malang memiliki dua museum yang berada di bawah pengelolaan Disdikbud, yakni Museum Mpu Purwa dan Museum Pendidikan.

Museum Mpu Purwa berada di kawasan Jalan Soekarno-Hatta, sedangkan Museum Pendidikan berada di Jalan Raya Tlogowaru, Kota Malang.

“Kesempatan dan bersedia menerima kami mengunjungi SD ini dengan program Museum Keliling. Museum Keliling ini program dari Bidang Kebudayaan, program tahunan di bidang kebudayaan,” kata Juli.

Ia menjelaskan, masih banyak siswa yang belum pernah berkunjung langsung ke museum. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Disdikbud menjalankan program Museum Keliling dengan mendatangi sekolah.

“Di Kota Malang ini kami punya dua museum yang berada di bawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang. Yang pertama Museum Mpu Purwa,” ujarnya.

Juli kemudian mengenalkan lokasi Museum Mpu Purwa kepada siswa dan menanyakan apakah mereka pernah berkunjung ke museum tersebut.

“Di Museum Mpu Purwa itu letaknya di Soekarno-Hatta, di belakang RSUB, Perumahan Griya Santa, Paragon,” jelasnya.

Selain Museum Mpu Purwa, Disdikbud Kota Malang juga mengelola Museum Pendidikan yang berada di kawasan Tlogowaru.

“Yang kedua ada Museum Pendidikan. Museum Pendidikan ini ada di Jalan Raya Tlogowaru, dekatnya SD Model. Anak-anak juga belum pernah ke sana kan?” kata Juli kepada para siswa.

Karena itu, menurutnya, Museum Keliling menjadi salah satu cara untuk membawa museum lebih dekat kepada anak-anak.

“Makanya dari kami ini program Museum Keliling ini salah satunya ingin mendekat ke sekolah, ke anak-anak, mengenalkan apa itu museum,” pungkasnya.

Kegiatan di SDN Karangbesuki 4 tersebut sekaligus memperkuat upaya Disdikbud Kota Malang dalam memperkenalkan sejarah dan kebudayaan melalui pendekatan pembelajaran yang lebih dekat dengan lingkungan siswa.

Pengenalan Candi Badut dan Situs Karangbesuki diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran generasi muda untuk mengenali, menghargai, dan ikut menjaga warisan budaya yang berada di sekitar mereka.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *