Apresiasi Sri Untari untuk Terobosan Antimainstream Kospin BMI Group Tangerang

Bagian 1

Malanginspirasi.com – Ketua Koperasi Wanita (Kopwan) Setia Budi Wanita (SBW) Malang, Dr. Sri Untari Bisowarno, MAP., memberikan apresiasi tinggi terhadap inovasi dan terobosan besar yang dilakukan Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (Kospin) BMI Group Tangerang dalam peta perkoperasian nasional.

Menurut srikandi koperasi asal Jawa Timur ini, gerakan yang dipimpin Kospin BMI mampu keluar dari mainstream pengembangan koperasi pada umumnya dengan tetap memegang teguh prinsip, nilai dasar, serta jati diri koperasi.

Perluasan gagasan tersebut ia sampaikan pasca memimpin rombongan kunjungan studi dan silaturahmi Kopwan SBW ke markas Kospin BMI Group di Banten.

​Menurut Sri Untari, salah satu keunikan utama Kospin BMI Group terletak pada keberanian melakukan mekanisme spin-off atau pemisahan entitas usaha yang tak biasa.

Kunjungan studi dan silaturahmi Kopwan SBW ke markas Kospin BMI Group di Banten (Istimewa)

Pada umumnya, pembentukan koperasi sekunder berasal dari gabungan beberapa koperasi primer dengan jenis usaha yang seragam.

Baca Juga:

Dr. Sri Untari Gagas Cetak Biru Koperasi Pangan Terintegrasi untuk 217 KDMP di Ngawi

Sri Untari Dukung Penguatan Pelayanan Kesehatan Dasar, Hadiri Apresiasi Kader Posyandu di Pasuruan

“BMI Group keluar dari mainstream itu. Mereka memisah Koperasi Benteng Mikro Indonesia menjadi tiga koperasi primer, yaitu Kopsyah BMI, Kopmen BMI, dan Kopjas BMI. Dari tiga primer beda jenis usaha ini, mereka mendirikan koperasi sekunder yakni BMI Group,” ujar Sri Untari.

Lebih lanjut, Sri Untari  menjelaskan, langkah tersebut sepenuhnya sah dan sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian.

Pembentukan koperasi sekunder, dalam regulasi tersebut, minimal didirikan oleh tiga koperasi primer tanpa ada kewajiban pembatasan jenis usaha yang sejenis.

​Strategi exercise baru ini terbukti membuahkan hasil luar biasa.

BMI Group mencatatkan lonjakan pertumbuhan aset yang sangat signifikan dalam kurun waktu 13 tahun.

Mulai  modal awal Rp80 juta hingga mendekati angka Rp1 triliun, bahkan sempat menyentuh Rp1,3 triliun pada tahun 2025 sebelum sebagian digunakan untuk pelunasan kewajiban guna berfokus pada kemandirian modal anggota.

​”Mereka membuktikan bahwa keluar dari pola lama dengan melandaskan diri pada prinsip, kejujuran, solidaritas, self-help, dan mutual help mampu melahirkan entitas bisnis sosial yang luar biasa besar dalam waktu singkat,” tegas srikandi koperasi Jawa Timur tersebut (Bersambung)

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *