Malanginspirasi.com – Rektor Universitas Brawijaya (UB), Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., menekankan perubahan nama dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) menjadi Fakultas Sains dan Teknologi (FSTeM) bukan sekadar pergantian label.
Ia mengatakan bahwa transformasi tersebut juga sebuah komitmen untuk membawa semangat baru yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.
Peresmian nama ini bertepatan dengan perayaan Dies Natalis FSTeM ke-39.
Prof. Widodo menyoroti perubahan pola perkembangan ilmu pengetahuan yang kini bergerak jauh lebih cepat dibandingkan masa lalu.
Jika dahulu dibutuhkan waktu ratusan tahun untuk transisi dari ilmu dasar ke implementasi teknologi, katanya, kini akselerasi tersebut terjadi dalam hitungan tahun.

Ini berkat dukungan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan pendekatan multidisiplin,” begitu imbuh Prof Widodo.
“Kita mendekatkan sains dan teknologi. Ini harapan kita, tidak hanya namanya saja, tetapi harus terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang belajar sains harus tahu aplikasinya, dan orang yang belajar aplikasinya harus tahu dasarnya,” ujar Prof. Widodo.
Baca Juga:
Pelepasan Mahasiswa FTAB UB di Program 3M, Rektor UB Tegaskan Kampus Harus Hadir Beri Dampak Nyata
FSTeM UB Rayakan 39 Tahun, Transformasi Besar dari MIPA Menuju Sains dan Teknologi Terapan
Dalam arahannya, Rektor UB mendorong seluruh civitas akademika FSTeM untuk meninggalkan pola kerja yang terkotak-kotak antar program studi.
Menurutnya, era saat ini menuntut kemampuan untuk beradaptasi melampaui disiplin ilmu tunggal.
Ia mencontohkan keberhasilan teknologi seperti vaksin mRNA, genome editing (CRISPR), hingga baterai litium sebagai bukti nyata bagaimana kolaborasi lintas disiplin ilmu mampu melahirkan inovasi yang berdampak luas bagi kehidupan manusia.
“Dengan mengintegrasikan sains dasar dan aplikasi teknologi, mahasiswa dan peneliti diharapkan lebih siap menghadapi tantangan masa depan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Prof. Widodo memberikan apresiasi tinggi atas langkah progresif yang diambil oleh FSTeM UB.
Ia berharap FSTeM tidak hanya menjadi pengikut (follower), tetapi mampu menjadi pelopor (trendsetter) perubahan di lingkungan pendidikan tinggi di Indonesia.
“Nama FSTeM ini merupakan yang pertama di Indonesia. Mudah-mudahan ini bisa menginspirasi unit-unit lain untuk menunjukkan identitas yang lebih integratif. Perubahan ini adalah tentang spirit yang terintegrasi dengan proses pendidikan dan riset,” tutupnya.







